Korelasi Erat antara Agama, Negara, dan Zaman Globalisasi

0
574

Di dalam suatu negara demokrasi tentu terdapat perbedaan etnis, budaya kelompok, dan agama dalam masyarakat. Perbedaan ini menjadikan variasi yang unik serta menarik dari suatu bangsa. Namun ketika perbedaan diangggap sebagai sesuatu yang salah bahkan terlarang maka perbedaan tersebut menjadi bom waktu yang setiap saat dapat meledak dan menimbulkan perpecahan di suatu negara.

Jika berkaca pada kejadian di masa lampau, Pada awal tahun 1900-an, runtuhnya rezim Orde Baru dan dimulainya era Reformasi merupakan saat tersulit bagi orang-orang Tionghoa di Indonesia. Akibat tindakan represif yang dijalankan Jenderal Soeharto di masa penumpasan G30S dan PKI (1965-1969) dimana puluhan ribu orang-orang Tionghoa di seluruh Indonesia dituduh terlibat dan turut dikejar-kejar dan ditangkap untuk dijadikan objek pemerasan, terjadi trauma yang luar biasa di kalangan etnis Tionghoa sehingga mereka menjauhi wilayah politik. Ribuan sekolah dan beberapa universitas baik yang didirikan oleh Baperki maupun yayasan milik Tionghoa ditutup dan gedungnya dijadikan markas tentara atau kesatuan aksi mahasiswa yang kemudian berubah menjadi sekolah negeri, ruko, atau perkantoran. Namun seiring berjalannya waktu Negeri ini melakukan penguatan hukum perundang-undangan yang menyatakan bahwa setiap warga negara berhak bersuara, berpendapat, dan beragama sesuai dengan kepercayaan individu tanpa mengganggu hak orang lain. Sehingga kedamaian bisa kita rasakan pada hari ini.

Begitu juga di negara lain, seperti penganiayaan dan pengusiran kaum Rohingya di Myanmar menjadi bukti bahwa ada hubungan yang sangat erat antara agama dengan keutuhan negara. Ketika agama menjadi penyebab perpecahan, maka di situ lah biang ketidakadilan berasal, dari agama yang berbeda dengan mayoritas menyebabkan mereka mendapatkan perlakuan yang diskriminatif baik dari masyarakat dan juga pemerintahan yang seharusnya melindungi hak-hak mereka.

Indonesia sebagai salah satu negara demokrasi dengan 33 provinsi di mana di dalamnya terdapat berbagai suku, bahasa, budaya adat, dan agama tidak menjadikan Indonesia sebagai negara federal layaknya Amerika, melainkan semuanya tetap padu dipersatukan dengan bahasa ibu, bahasa Indonesia. Era globalisasi seolah memudarkan identitas bangsa, mulai dari redupnya semangat kecintaan terhadap tanah air hingga pengabaian terhadap kepentingan umum dan lebih memprioritaskan kepentingan pribadi (apatisme). Hingga akhirnya kita harus menguatkan ideologi negara Negara di tengah kuatnya arus masuk globalisasi. Sifat dan budaya tradisional yang baik dan luhur seolah dilindas  kemajuan zaman yang notabenenya tidak normatif dan lebih mengedepankan hasil.

Lantas masih adakah Negara yang berbudi luhur dari segi norma dan keagamaan serta maju dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi di era globalisasi ini sebagaimana yang dicita-citakan oleh masyarakat madani? Semoga masih! Indonesia masih memiliki banyak pejuang untuk menjadikannya besar dan bersistem baik. Pejuang yang saat ini tengah belajar menjadi pemimpin dan sedang mulai memimpin dirinya, kelompok orang, desa, dan pada akhirnya Negeri kita.

BAGIKAN

LEAVE A REPLY