Koruptor, Tikus Bertoga Pengerat Kesejahteraan Rakyat

424

Para koruptor itu bukanlah orang-orang bodoh. Mereka adalah para pejabat yang bergelar sarjana, master bahkan tidak sedikit yang bergelar doktor. Kepintaran mereka sudah tidak diragukan lagi. Tentunya, dulu mereka adalah mahasiswa yang sama seperti kita. Mempunyai jiwa idealis yang tinggi, dan pernah mengenakan toga dengan warna hitamnya saat wisuda. Dengan memakai warna hitam, diharapkan para sarjana mampu menyibak kegelapan dengan ilmu pengetahuan yang selama ini didapat .Warna hitam juga melambangkan keagungan – dan oleh karena itu, selain sarjana, hakim dan sebagian pemuka agama juga menggunakan warna ini sebagai jubahnya.

Jika kita membahas masalah korupsi di negeri ini seakan tiada habisnya. Negeri yang kaya dengan sumber daya alamnya ini seakan menjadi lading emas bagi para penggerus uang rakyat. Korupsi sepertinya sudah menjadi masalah umum dan membosankan di telinga rakyat Indonesia. Tiada hari tanpa berita korupsi di televisi, dan tiada hari tanpa pengurangan devisa Negara oleh para koruptor yang bias kita sebut tikus bertoga ini.

Miris ketika melihat Transparency International (TI) Indonesia  memaparkan bahwa Indeks Persepsi Korupsi atau Corruption Perception Index (CPI) Indonesia menurun dari peringkat 100 menjadi 118 dari 176 negara pada tahun 2012 ini. Meringis ketika mendengar analisa dari Indonesia Corruption Watch (ICW) bahwa pada semester satu tahun ini saja telah terjadi 285 kasus korupsi yang telah merugikan Negara sebesar Rp 1,22Triliun. Menangis ketika mengetahui ternyata dari sekian banyak kasus korupsi yang merugikan triliunan uang rakyat itu, ternyata sector infrastruktur adalah sector teratas yang paling banyak tindak korupsinya. Sektor yang terus didorong oleh pemerintah dalam menopang kemajuan Negara ini ternyata malah menjadi sektor yang paling banyak menghabiskan uang negara, atau lebih tepatnya kita sebut sebagai uang rakyat.

Coba kita menghitung, uang yang dikorupsi sebesar Rp 1,22 Triliun itu akan menjadi apa jika benar-benar dialokasikan untuk kesejahteraan rakyat? Sekitar 40.000 gedung sekolah baru bias dibangun, 12.450 rumah sederhana dapat dibuat untuk rakyat miskin, dan sekiranya satu jembatan megah dengan konstruksi dan material serupa jembatan Suramadu bias dibangun dengan panjang 1.474 meter untuk menghubungkan akses transportasi dua pulau kecil di Indonesia. Ini hanya analisa singkat dari saya, tapi lihatlah betapa uang yang digerus oleh paratikus bertoga itu begitu bermanfaatnya jika digunakan dengan baik untuk kepentingan rakyat.

Data dan analisa di atas merupakan data korupsi yang tercatat. Bagaimana dengan kasus korupsi yang tidak tercatat yang seringkali terjadi di lingkungan masyarakat? Peristiwa yang seringkali dianggap sepele namun sesungguhnya hal itu juga adalah praktek korupsi. Pernahkah kalian menyuap pak polisi saat ditilang karena melanggar aturan lalu lintas atau tidak membawa SIM/STNK? “damai aja ya pak”, begitu katanya.

Bagi mahasiswa dan pelajar, pernahkah kita meminta uang untuk membeli buku kepada orang tua kita dengan jumlah yang “dilebihkan”? “buku zaman sekarang kan mahal semua”, itu alasannya. Bagi para perangkat desa, pernahkah diberi uang “tip” saat diminta mengurus pembuatan KTP agar selesainya dipercepat? “siap pak, insya Allah besok selesai”, beginilah ketika korupsi membawa namaTuhan.

Lalu bagi para karyawan perusahaan, pernahkah menuliskan nominal di kwitansi pengeluaran perusahaan dengan nominal yang tidak seharusnya? “sedikit ini”, sambil tersenyum biasanya.

Peristiwa-peristiwa itu hanya sedikit dari banyak sekali praktek korupsi yang sering terjadi sehari-hari di masyarakat. Seakan sudah seperti membudaya, praktek ini kemudian dianggap halal selama KPK tidak dating menyidik. KPK mana mau menangani kasus kecil-kecilan seperti ini bukan? Padahal sesungguhnya kasus-kasus seperti ini yang paling merugikan yang nantinya akan ter-mindset dengan buruk di pikiran masyarakat. Jadi, siapa yang harus menangani ini jika bukan KPK? Kita sebagai mahasiswa dan juga generasi muda penerus bangsa, bias menjawabnya.

Saya menekankan kata ‘mahasiswa’ disini karena posisi saya sekarang juga sebagai mahasiswa. Tidak dipungkiri, saya pun pernah atau bahkan seringkali melakukan praktek korupsi “halal” tersebut. Tapi kita tidak bias berdiam diri saja dan terus melakukan hal itu, jika hal itu terus kita lakukan, lalu apa bedanya kita dengan para tikus bertoga pengerat uang rakyat itu?

Para koruptor itu bukanlah orang-orang bodoh. Mereka adalah para pejabat yang bergelar sarjana, master bahkan tidak sedikit yang bergelar doktor. Kepintaran mereka sudah tidak diragukan lagi. Tentunya, dulu mereka adalah mahasiswa yang sama seperti kita. Mempunyai jiwa idealis yang tinggi, dan pernah mengenakan toga dengan warna hitamnya saat wisuda. Dengan memakai warna hitam, diharapkan para sarjana mampu menyibak kegelapan dengan ilmu pengetahuan yang selama ini didapat .Warna hitam juga melambangkan keagungan – dan oleh karena itu, selain sarjana, hakim dan sebagian pemuka agama juga menggunakan warna ini sebagai jubahnya.

Lalu kenapa mereka saat ini justru terjebak dalam kegelapan? Jalan hidup hanya Tuhan yang tahu. Tentu tidak mungkin mereka bercita-cita ingin menjadi koruptor saat mereka kuliah. Tidak mungkin juga mereka sudah memikirkan strategi bagaimana caranya mengerat uang rakyat saat mereka sedang belajar di kelas. Kita sebagai mahasiswa justru jangan mencontoh mereka. Justru sebaliknya, kita harus menjadi motor penggerak perubahan. Tapi bagaimana caranya? Memberikan opini saja mungkin tidak lengkap jika tidak ada solusi.

Memperkuat pemahaman agama adalah hal termudah yang bias kita lakukan dalam konteks penghindaran korupsi melalui jiwa yang “suci”. Setiap agama manapun di dunia ini tentunya tidak akan ada yang menghalalkan praktek korupsi. Oleh  karena itu seseorang yang pemahaman agamanya sudah baik tidak akan melakukan tindakan kotor seperti ini. Kemudian dimulai dari tidak membiasakan praktek-praktek korupsi kecil dalam kehidupan sehari-hari. Teori-teori mengenai cara menghindari korupsi memang sudah banyak, tapi tidak ada yang membahas praktek korupsi kecil seperti ini. Lalu, mulai memikirkan nasib rakyat sejak dini. Sadarkah kawan, para tikus bertoga itu telah menghambat kesempatan rakyat untuk hidup lebih baik.

Terakhir, rencanakan masa depan tanpa korupsi. Satu hari saja Negara ini tanpa korupsi saya yakin hari  itu bias menjadi salah satu hari terindah bangsa ini. Anggap saja para tikus bertoga itu sudah ketinggalan zaman. Sekarang waktunya kita memulai memimpin bangsa ini tanpa mereka. Mulailah meninggalkan hal-hal kecil berbau korupsi. Ingatlah kawan mahasiswa, toga yang akan kita pakai saat wisuda itu mempunyai makna suci yang mendalam. Jangan sampai kita tasbihkan toga itu hanya sebagai aksesoris yang lepas-pakai semata saat sudah berada di pemangku kebijakan nanti.

Selamat Hari Anti Korupsi..
Masa Depan Indonesia Cerah Tanpa Korupsi !
Hidup Mahasiswa !
Hidup Rakyat Indonesia !

Oleh: Nur Maulana Yusuf
Mahasiswa IPB Penerima Beasiswa Prestasi Chevron – Dompet Dhuafa


***


Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044
SHARE