Kurva Ego

0
326

Oleh: Elis Nuraeni

Beasiswa Aktivis Nusantara Angkatan 7

Setiap insan yang lahir kedunia ditakdirkan menjadi seorang pemimpin. Bukan menurut asumsiku, namun jelas tertulis di Al-Qur’an. ” Dan ingatlah ketika tuhanmu berfirman kepada para malaikat :” Aku hendak menjadikan khalifah fi muka bumi. Mereka berkata, “apakah engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di muka bumi, sedangkan kami senantiasa bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?”. Dia berfirman , “Sungguh aku mengetahui apa yang tidak engkau ketahui”. (Q.S Al-Baqaroh : 30). Dialog antara sang pencipta dan makhluk ciptaan yang paling beriman menjadi salah satu bukti akan status tujuan diciptakannya manusia ke alam dunia. Begitu tegasnya firman Allah yang tetap mempertahankan manusia sebagai pengelola di muka bumi ini. Secara fitrah, jiwa kepemimpinan itu tertanam jauh hari sebelum kita terlahir.

Potensi baik dan buruk yang ada dalam diri setiap jiwa merupakan hal yang menjadi dasar kepemimpinan masing-masing. Adanya kedua sisi baik dan buruk, bahkan secara hal dasar menjadikan manusia seorang pengelola atau manager atau leader minimal bagi dirinya sendiri. bagaimana ia mengendalikan hasrat keburukan serta memunculkan berbagai potensi kebaikan diri. Bagaimana ia memimpin raga untuk berjalan ke sebuah tujuan jika bukan dirinya yang meminta sendiri. Artinya, dalam hal ini kita diberi petunjuk untuk mengelola bumi dengan melihat kedalam diri kita sendiri terlebih dahulu.

Mengatur serta memimpin diri sendiri bukan juga hal yang mudah. Disisi lain kadang sifat lalai mengalahkan potensi besar yang kita miliki. Menyibukan diri dengan hal-hal yang bermanfaat tentunya menjadi satu keberhasilan diri ditengah godaan untuk melakukan banyak kesia-siaan. Konon katanya, jika sudah selesai dengan urusan pribadi maka akan berdatangan amanah yang tidak akan salah pundak.

Pemahaman yang kadang masih keliru tentang amanah. Banyak orang berfikir bahwa dengan kita ikut serta atau diberikan jabatan dalam sebuah organisasi menjadikan diri merasa pahlawan organisasi. Padahal, bukan kita yang menyelamatkan organisasi itu karena toh tanpa kehadiran kita organisasi itu akan tetap berjalan. Namun sebaliknya, kitalah yang justru ditolong dengan adanya amanah itu. Bagaimana tidak? jika tiap hari ada waktu luang kita sekitar 8 jam lah katakan, maka apa yang akan kita lakukan? pilihannya hanya 3 hal, pekerjaan yang bermanfaat, tidak bermanfaat dan sia-sia. Peluang waktu yang terbuang dengan sia-sia itulah yang telah amanah selamatkan untuk kia. Setidaknya, waktu kita lebih bermanfaat ketika ikut serta dalam sebuah keorganisasian. Hal tersebut menjadi sebuah titik awal tentang kepemimpinan.

Pernah suatu saat merasakan menjadi anggota kemudian melihat berbagai macamm gaya kepemimpinan. Tegas, lembut, menjunjung tinggi asas kekeluargaan, bossy, dan lain sebagainya. Lambat laun ada nilai yang diterima dan memang secara pribadi di rasakan. Pada saat awal memahami tentang kepemimpinan, sebuah nilai luhur yang perlu didukung dengan segala nilai-nilai superior bak matahari namun tidak banyak orang yang dapat mengaksesnya. Aktualisasi diri melalui jabatan pernah menjadi sebuah kebutuhan akan pengakuan orang  lain terhadap diri kita sendiri. Namun lambat laun ego itu mulai menurun. Memahami nilai kepemimpinan mirip kurva normal yang mulai dari nol kemudian memuncak dan akan kembali menurun namun dengan makna yang berbeda dari awal. Titik awal dipahami dari bagaimana seseorang mencari sosok pemimpin yang paling ideal menurut versinya. Lambat laun peran tersebut menjadi bagian diri kita sebagai seorang pemimpin. Tak jarang muncul ke-Aku-an yang menganggap bahwa diri ini lebih unggul dari yang lain, ingin di hormati, merasa memiliki berbagai macam kelebihan dibanding yang lain, pokoknya melayang jauh. Namun setelah kupahami, nilai kepemimpinan yang sesungguhnya bukanlah seperti itu. Puncaknya jiwa kepemimpinan seseorang justru dikatakan sempurna ketika kurva ego itu menurun. Bukan bagaimana ingin ia dipandang namun bagaimana ia ingin mengangkat orang lain. Coba perhatikan, begitu banyak sosok pemimpin yang begitu dicintai bukan hanya karena betapa keren sosok beliau. Namun bagaimana ia begitu mudah diakses, bagaimana kerendahan hatinya, bagaimana karya yang dapat dimanfaatkan dan hal-hal yang luhur lainnya. Kesopansantunan, bukan keangkuhan, memberi bukan meminta. Kurva ego seorang jiwa pemimpin akan sampai dipuncaknya pada titik tidak ada ke-Aku-an dalam setiap karya yang diberikan. Ibarat padi yang berisi, pemimpin yang bijak akan senantiasa memberikan contoh yang bersahaja namun tetap elegan.

Perubahan seseorang menjadi pemimpin sejati, disaat ia menjadi bagian utuh dari apa yang ia pimpin. Menjadi sebaik-baiknya manusia, berfikir bagaimana menjadi sosok yang bermanfaat bagi orang lain. Menjadi orang pertama yang ada dalam setiap orang yang sedang mengalami kesusahan, siap menjadi garda terdepan disaat ada bunyi sumbang yang meresahkan. Dan siap menghibahkan dirinya untuk berdarma kepada orang lain.

BAGIKAN

LEAVE A REPLY