Lemper: “Yen Dilem Ojo Memper” (Ketika Dipuji Janganlah Sombong)

0
854

Oleh: Eka Anzihory, Surakarta.

Keragaman budaya atau cultural diversity adalah keniscayaan yang ada di bumi Indonesia. Dalam konteks pemahaman masyarakat majemuk selain kebudayaan kelompok suku bangsa, masyarakat Indonesia juga memiliki berbagai kebudayaan daerah yang sifatnya kewilayahan sebagai bentuk pertemuan dari berbagai kebudayaan kelompok suku bangsa yang ada di tiap daerah. Dengan kondisi geografis Indonesia yang beragam tersebar di kepulauan yang terbagi menjadi kurang lebih 17.000 pulau dari timur ke barat sepanjang 3000 mil dan dari utara ke selatan sepanjang 1000 mil membuat penduduk nusantara tersebar hingga pelosok mulai dari pegunungan, pesisir, dataran rendah, pedesaan, hingga perkotaan. Hal ini membuat masyarakat Indonesia memiliki tingkat peradaban antar kelompok suku bangsa yang berbeda-beda. Beragamnya suku bangsa, agama, daerah, dan ras menyebabkan perbedaan sistem kepercayaan, sistem nilai, pandangan hidup, perilaku sosial antar masyarakat, dan budaya. Kemajemukan bangsa Indonesia timbul dari adanya jalinan sejarah yang dinamis, hasil dari interaksi antar kebudayaan yang dirangkai sejak dulu terjalin dengan baik melibatkan pencampuran budaya antar kelompok suku bangsa yang berbeda serta juga antar peradaban yang ada di dunia pada lingkup pergaulan internasional sejak dahulu sampai sekarang.

Memiliki keragaman budaya merupakan modal besar untuk membawa negeri ini maju menyamai langkah dengan negara-negara besar lainnya. Menurut buku Culture Matters: How Values Shape Human Progress (2000), yang disunting oleh Harrison dan Huntington, kebudayaan memiliki peran sangat signifikan dalam memajukan kualitas hidup suatu bangsa. Apabila budaya bangsa terpuruk, tidak dikembangkan, menjadikan karakter bangsa yang lemah, maka terpuruk lah bangsa tersebut. Sebagai contoh, Korea Selatan yang memiliki budaya hemat, rajin menabung, dan kerja keras dapat melompat jauh meninggalkan Ghana saat ini yang memiliki budaya bermalas-malasan, boros, dan tidak rajin menabung, padahal di era 1960-an keduanya memiliki kondisi ekonomi yang serupa. Indonesia berada diposisi genting di mana ada keharusan untuk menempatkan kebudayaan sebagai yang utama di negara ini karena kita memiliki keberagaman budaya yang tidak dimiliki negara lain. Namun, kita seperti tidak mengetahui apa yang mestinya dilakukan untuk memanfaatkan kekayaan kita ini dalam persaingan global. Kita membuka diri lebar-lebar terhadap dunia luar, padahal itu bisa menyebabkan budaya kita sendiri hilang ditelan aliran budaya asing jika kita tidak cermat menghadapinya.

Pertanyaan yang kemudian muncul, di mana dengan keragaman budaya yang ada lantas Indonesia harus berbuat apa. Ketidakcermatan mengenali potensi budaya sendiri hanyalah akan membawa bangsa ini lebih mundur lagi. Indonesia berhak bangga akan keanekaragaman budaya yang ada, khususnya para pemudanya. Tapi pada realitanya masih banyak masyarakat Indonesia yang belum menghargai identitas bangsa yang satu ini. Dari jutaan bentuk budaya yang ada, ambilah contoh jajanan pasar. Adakah yang berpikir bahwa salah satu bentuk budaya ada di dalam jajanan pasar, bahkan ternyata banyak sekali jajanan pasar yang serat akan makna kehidupan disetiap pembuatannya. Hal ini lah yang perlu dihindari, di mana ketidakcermatan dalam mengenali budaya sendiri tidak akan membawa Indonesia menuju kearah yang lebih baik. Ketidakkenalan terhadap budaya ini bisa berbentuk terhadap hal-hal yang sederhana namun terjadi sehari-hari dan tanpa dirasa (semisal budaya ramah tamah), hingga terhadap budaya yang bersifat rutin namun dilaksanakan dalam skala besar (misal upacara adat pernikahan di Sunda).

Kembali ke kalimat menarik di paragraf sebelumnya. Adakah yang berpikir bahwa salah satu bentuk budaya ada di dalam jajanan pasar, bahkan ternyata banyak sekali jajanan pasar yang serat akan makna kehidupan disetiap pembuataannya. Layaknya kalimat satu ini pantas dicetak tebal dan digarisbawahi. Lemper, cukuplah satu yang menjadi contoh dari ketidakcermatan kita terhadap jajanan pasar yang serat akan makna untuk budaya. Lemper memiliki arti dalam bahasa jawa “yen dilem ojo memper”, atau dalam bahasa Indonesia yang berarti “kalau dipuji janganlah sombong”. Lantas seberapa kuat kalimat ini kita maknai? Ataukah selama ini kita tidak sadar sama sekali? Bisa dibayangkan, mungkin bayangkan secara sederhana. Apa yang terjadi jika seluruh masyarakat mengimplementasikan pesan yang tersirat dari lemper tersebut, setidaknya cukuplah masyarakat yang ada di pulau Jawa karena lemper ini lebih terkenal di pulau tersebut. Bagaimana kerendahan hati bisa menjadi ciri khas dan budaya kehidupan sehari-hari yang muncul dari penduduk pulau Jawa. Begitu juga dengan penduduk pulau yang lain, dengan memaknai makanan tradisionalnya masing-masing maka setiap daerah akan memiliki kekhasan budaya sehari-hari yang erat akan kearifan lokalnya.

Lemper, ini baru dari sebuah jajanan pasar. Masih ada jutaan bentuk budaya dari bangsa ini yang andaikan sempat dicermati maka takkan terkira akan menjadi seberapa hebat Indonesia ini ke depannya. Analogikan satu budaya adalah senilai satu kemajuan, bagaimana jika sejuta budaaya? Maka sudah sepantasnya kita bangga akan kebudayaan yang kita miliki, karena dari bangga ini kemudian muncul rasa cinta yang mampu merealisasikan analogi satu budaya bernilai satu kemajuan. Banggalah pemuda Indonesia.

BAGIKAN

LEAVE A REPLY