Lika Liku Musibah Kabut Asap

0
477

Oleh: Yoyo Sundoyo, PM Beasiswa Kepakaran SDM Ekspad DD SEBI

Musim kemarau panjang pada tahun ini di indonesia ternyata banyak memunculkan masalah-masalah dikalangan masyarakat. Mulai dari musim kekeringan diberbagai daerah, yang berakibat pada susahnya ketersediannya air bersih. Tidak hanya itu banyak petani yang merugi karena sawah dan ladangnya gagal panen akibat kekurangan air.

Musim kemarau seolah menjadi suatu musim yang selalu setia hadir pada kurun waktu setiap tahunnya, yang dilengkapi dengan masalah yang mengiringinya. Bencana kekeringan ini rupanya menjalar juga kepada masalah lain, salah satunya adalah bencana kabut asap yang terjadi karena kebakaran hutan, contoh kebakaran hutan di beberapa daerah wilayah di Indonesia seperti Sumatra dan Propinsi Riau.

Bencana Kabut asap ini ternyata sudah terjadi semenjak 1997 di mana terjadi kebakaran hebat. Pada 2004 pun terjadi pula kebakaran hutan yang berdampak kepada kabut asap. Ketika itu presiden SBY sampai berkunjung ke Propinsi Riau dan tinggal selama 3 hari. Beliau menyampaikan “Setelah saya dalami, termasuk berdialog dengan masyarakat, ada 7 penyebab & akar masalah mengapa kebakaran terus terjadi di Riau”.

Diantara 7 penyebab yang disampaikan SBY adalah cuaca yang ekstrim, lahan gambut yang mudah terbakar, cara bercocok tanam penduduk dengan cara membakar, tindakan membakar secara meluas bermotifkan finansial, tidak optimalnya pencegahan oleh aparat di tingkat bawah, kurang cepat & efektifnya pamadaman api, penegakan hukum yang tidak bisa menyentuh master-mind pembakaran.

Dari 7 sebab yang disampaikan SBY seharusnya menjadi catatan penting untuk semua pihak baik aparat pemerintah dan masyarakat, guna menanggulangi bencana kabut asap ini.  Namun, kenyataannya pada tahun ini terulang kembali. Terbukti selama hampir satu bulan terakhir terjadi kebakaran yang menyebabkan kabut asap. Masalah  ini tentu bukan perkara yang ringan, karena sudah terjadi berulang kali.

Alhasil dari masalah ini banyak masyarakat yang dirugikan akibat kabut asap. Pertama, masyarakat dirugikan dengan tercemarnya udara. Karena kabut asap yang sudah sampai pada tingkat yang berbahaya, terjadilah dikalangan masyarakat yang tejangkit penyakit. Seperti sesak napas dan infeksi paru jika selalu terpapar kabut asap secara langsung dan dalam jangka waktu lama. Tak hanya itu, asap kebakaran hutan juga menyebabkan reaksi alergi, peradangan, dan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) hingga pneumonia.

Kedua, Akibat kabut asap juga berimbas pada pendidikan. Di mana banyak sekolah mulai dari Tk, SD dan SMP yang terpaksa meliburkan kegiatan belajar mengajarnya, ini dikarenakan kondisi anak-anak rentan sekali terjangkit penyakit yang disebabkan oleh kabut asap ini.

Ketiga, roda perekonomian pun terganggu akibat masalah ini. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan angka itu didasarkan pada data tahun lalu. Pada 2014 total kerugian akibat kabut asap di wilayah Provinsi Riau dalam kurun waktu Februari sampai April mencapai Rp 20 Triliun.

Tahun ini pun kemungkinan angka kerugian bisa mencapai lebih besar dari tahun 2014. Itu bisa dilhat dari Jumlah penerbangan yang gagal terbang, hotel, industri makanan, kontrak bisnis yang batal, atau berkurangnya wisatawan. Salah satu contoh kerugian yang timbul dari kabut asap ini, dalam sepekan dibandara Hang Nadim Batam sekitar 35 penerbangan  gagal di terbangkan. Di Jambi, rata-rata penerbangan yang batal juga sampai 20 per hari.

Dari sekian banyak masalah yang timbul Allah SWT berfirman :

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut, disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (Qs. Ar-Rum : 41)

Dari ayat diatas seharusnya menjadi perhatian penting bagi kita selaku manusia. Dan dalam konteks Negara ini menjadi penting bagi pemerintah, karena bencana ini sudah berulang kali terjadi. Tidak cukup hanya sekedar wacana penanggulangan, tetapi ada bukti yang pasti yang perlu dipahami dan dilakukan semua pihak, misal penegakan hukum yang merata, pengadaan fasilitas penanggulangan yang memadai, dan membangun kesadaran di semua pihak.

BAGIKAN

LEAVE A REPLY