Mahendra, Pendamping Beastudi Etos dalam Konferensi ASEAN di Thailand

383

 

 

Dipertengahan bulan Ramadhan kemarin, tepatnya 5-11 Agustus 2012, diselenggarakan sebuah acara besar dan spektakuler di Bangkok, Thailand. Acara itu yakni konferensi mahasiswa tingkat ASEAN  dalam rangka menyongsong “ASEAN Community 2015”.  Kehadiran peserta dari tiap negara turut meramaikan berbagai kegiatan  yang dilaksanakan. Salah satu peserta dari sepuluh mahasiswa delegasi Indonesia adalah Mahendra Setya Hantoro, pendamping Beastudi Etos Surabaya. Melalui tulisan ini, mahasiswa yang kini sedang menyelesaikan studinya di Pendidikan Kedokteran Hewan Universitas Airlangga ini mencoba berbagi pengalaman selama mengikuti kegiatan tersebut.

Konferensi ASEAN ini merupakan konferensi kedua yang digelar, setelah sebelumnya  deklarasi yang pertama di Yogyakarta, Indonesia. Pada saat deklarasi pertama, terbentuklah suatu komunitas bersama yang disebut ASONe (ASEAN STUDENT ORGANIZATION NETWORK). Komunitas ini ditujukan untuk memperkuat jaringan  dan merencanakan rencana kerja dalam menuju Visi ASEAN Community 2015”.

Aktivitas peserta konferensi ke-2 di Bangkok ini cukup padat , mulai dari pagi hari sampai malam hari. Sambutan hangat diperlihatkan oleh pendamping tiap delegasi atau Laison Officer. Pelayanan prima juga kami terima dari pelayanan hotel yang sangat mewah. Suatu ketika kami juga merasa bangga dengan panitia, bahwa perhatian terhadap muslim sangat diutamakan. Momentum ramadhan tetap begitu terasa dalam kegiatan ini, mulai dari sahur yang sudah siap tersedia saat jam 3 pagi, serta buka bersama setiap harinya.

Hari pertama bagi kami adalah suatu kebanggaan yang selalu terkenang. Kami dikumpulkan dengan semua peserta delegasi dari tiap negara di ASEAN untuk sesi perkenalan. Pemandu acara yang sangat nyentrik membuat suasana semakin riuh. Beberapa permainan  sangat menghibur tiap delegasi, mulai perkenalan dengan menggunakan bahasa masing-masing negara,perkenalan tokoh dunia, menyayikan lagu sampai menari tarian daerah dan modern.

Sesi ini dilanjutkan dengan visit Thammasat University dan upacara pembukaan oleh Rektor Thammasat yang dihadiri juga oleh perwakilan KBRI di Thailand. Minat berbahasa Inggris dikampus ini cukup tinggi.  Hal ini  sangat terlihat dari bagaimana model pembelajaran di Universitas Thammasat yang membangun pola komunikasi aktif antara dosen dan mahasiswa dengan menjadikan bahasa Inggris menjadi bahasa prioritas setelah bahasa Thailand.

Aktivitas hari pertama ini diakhiri dengan makan malam bersama di atas kapal sekaligus untuk menikmati pemandangan malam kota Bangkok melalui sungai. Momentum ini yang sangat membuat kami iri, karena roda ekonomi Bangkok sangat maju dalam bidang transportasi sungai .

Pemandangan sungai yang paling indah adalah pemandangan disekitar sungai Chaoupraya namanya. Sungai ini cukup panjang dan lebar mengelilingi kota Bangkok,  dihiasi dengan hilir mudik perahu wisata yang berjejer hampir ratusan mulai ukuran besar ataupun kecil.

Sungainya bersih, sehingga kitapun bisa melihat  ikan yang menari-nari disepanjang sungai tersebut. Pada setiap jarak dua kilometer, akan ada jembatan – jembatan megah yang semakin melengkapi panorama malam kota Bangkok. Selain itu dipinggiran sungai didirikan berbagai restoran dan juga pasar malam, sebagai salah satu daya tarik bagi para wisatawan yang menjadikan  majunya  sektor ekonomi di kawasan perairan ini.

Selama mengelilingi kota Bangkok banyak hal menarik yang kami jumpai, diantaranya yaitu rasa nasionalisme yang tinggi.  Hal ini tercermin dari banyaknya bendera Thailand yang terpasang disetiap jalan, gedung,kampus, rumah makan ataupun masjid sekalipun. Meski mungkin bukan suatu parameter nasionalisme, namun tentunya ini berbeda dengan jalan-jalan dinegara kita,yang lebih banyak dihiasi oleh  bendera parpol atau ormas daripada bendera bangsa.

Rasa toleransi yang kuatpun dapat dilihat dalam kehidupan masyrakat negeri gajah putih ini. Meskipun mayoritas penduduk Thailand adalah agama Budha, namun tidak mendiskriminasikan agama lain. Para pemeluk agama bersanding dalam masyarakat heterogen dengan rukun. Tidak jarang, kaum muslim menyediakan makan, saat kaum Budha sedang beribadah. Selain itu masyarakat Thailand setiap ingin berkomunikasi dengan orang lain pasti mengucapkan salam hormat baik diawal taupun akhir. Salam hormatnya cukup sederhana yaitu mengatupkan kedua tangan sambil merendahkan badan dan menundukkan.

Setelah rehat sejenak dan menikmati pesona Bangkok, akhirnya tiba pada kegiatan inti yaitu Diskusi dan Konferensi yang sangat  menguras pikiran. Sesi pertama diawali dengan pembagian peserta dalam setiap Focus Group Discussion (FGD) berdasarkan essay yang telah dibuat oleh tiap delegasi. Essay ini merupakan konsep tanggapan terhadap permasalahan yang mencakup tiga pilar ASEAN yaitu bidang Pendidikan, Ekonomi, Sosial Budaya.

Setiap Focus Group Discussion (FGD) membahas, mendiskusikan  dan merumuskan kesepakatan terhadap problematika tiap aspek. Antusiasme dan geliat diskusi begitu berjalan dengan hidup. Berasal dari fokus group ini kemudian dibahas bersama dalam Home Group Discussion untuk diputuskan tentang kesepakatan bersama. Sesi ini ditutup dengan menghadiri jamuan makan malam dari Yayasan Thammasat.

Pada hari ketiga, acara diisi dengan seminar yang dihadiri oleh Duta Besar Amerika dan Talkshow yang dihadiri oleh Dosen Hubungan Luar negeri Universitas Thammasat. Pembahasan yang disampaikan lebih kearah bagaimana ASEAN kedepan antara harapan dan realita dan juga bagaimana konsistensi serta kepedulian Mahasiswa dalam mengawal Visi ASEAN 2015.

Waktu terus berlalu, akhirnya sampailah pada sesi penutupan yang dihadiri oleh wakil Rektor Thammasat University . Pada momen ini diputuskan bahwa konferensi yang ke-3 dan ke-4 akan dilaksanakan di Kamboja dan Thailand sebagai tuan rumahnya. Setiap delegasi menerima sertifikat dan sumpah secara bergantian, dan suasanapun menjadi khidmat seketika.

Diakhir acara penutupan, ternyata panitia menyiapkan kejutan dengan  memberikan bingkisan untuk seluruh peserta, riuh peserta mewarnai acara ini. Setelah mengikuti kegiatan ini kamipun “cemburu” sekaligus optimis. “Cemburu” melihat bagaimana kota Bangkok, Thailand bisa mengoptimalkan potensi yang ada, terlebih dibidang pariwisata. Namun, disisi lainpun kita optimis bahwa Indonesia yang perairannya lebih luas dari Thailand mampu berbicara banyak didunia internasional.


***


Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044
SHARE