Marching for Boundary Timika (Bagian 1): Selayang Pandang

214

Timika adalah ibukota kabupaten Mimika yang terletak di propinsi Papua. Nama Timika atau Mimika juga sangat populer, lantaran di wilayah pegunungan Papua ini beroperasi salah satu perusahaan tambang terbesar di dunia asal Amerika Serikat, yakni Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc.

Melalui PT Freeport Indonesia, selama puluhan tahun mereka telah melakukan penambangan terhadap bijih tembaga, emas dan perak. Kompleks tambang di Grasberg yang berada di jantung wilayah mineral merupakan salah satu penghasil tunggal tembaga dan emas terbesar di dunia, juga mengandung cadangan tembaga dan emas terbesar di dunia.

Jarak tempuh menuju Kota Timika bisa dilalui dengan jalur udara, bisa menggunakan Lion Air ataupun garuda. Kalau dengan maskapai Garuda terlebih dahulu transit di Denpasar dan Makassar, baru ke Timika dengan kisaran harga tiket sekitar  Rp. 3.300.000an berangkat dari Jakarta sekitar pukul 20.45 WIB dan sampai di Timika Jam 06.15 WIT.  Perjalanan yang begitu jauh dan membutuhkan pengorbanan baik pikiran, tenaga , waktu  dan juga financial.

Memang,  kekayaan alam yang berlimpah ruah di Mimika, sungguh anugarah yang tiada terkirakan. Namun hal tersebut ternyata berkebalikan dengan kondisi pendidikan yang ada disana. Persoalan pemerataan pendidikan dan juga kualitas guru sepertinya menjadi persoalan klasik yang selalu berulang di negeri ini.  Persoalan kompetensi guru dan kedisiplinan guru merupakan hal yang penting untuk diperhatikan. Maka dari itu, Dompet Dhuafa, melalui program Makmal Pendidikan sejak tahun 2009 melakukan proses pendampingan di seluruh pelosok Indonesia, dan salah satu program utamanya yaitu pendampingan sekolah dan sekolah cerdas literasi.

Beasiswa Aktivis Nusantara (BAKTINUSA) yang merupakan program beasiswa dari Beastudi Indonesia Dompet Dhuafa, yang diisi oleh para aktivis yang peduli untuk menggerakkan, berikhtiar untuk merawat Indonesia menjadi lebih baik lagi, sehingga muncullah buku berjudul “Belajar Merawat Indonesia” yang isinya gagasan kritis mengenai kondisi dan solusi untuk perbaikan Indonesia. Oleh karenanya, BAKTINUSA pun berperan aktif dalam kontribusi real di masyarakat melalui program magang para penerima manfaat, untuk ditempatkan di seluruh pelosok Indonesia, termasuk saya yang ditempatkan di Timika, Papua tepatnya di SD Inpres II, dengan bergudang kompleksitas masalah yang butuh dituntaskan mulai dari porsi guru yang timpang dan tidak berimbang (murid mencapai 980 sementara jumlah guru hanya 25 orang). Bahkan siswa pun sering diliburkan karena gurunya sering “berhalangan” mengajar, baik dengan alasan yang masuk akal hingga sebenarnya tiada alasan untuk tidak mengajar. Ya, tentunya bukan hanya sebatas persoalan kompetensi guru dalam kemampuan akademik saja, hal ynag lebih penting untuk digarap ialah persoala karakter guru, agar layak di “Gugu” dan di”Tiru” , menjadi sosok teladan yang mampu memberikan harapan bagi anak didiknya.

Maka dari itu, dengan mengambil tema “Marching Boundary”, ini merupakan ikhtiar konkrit belajar merawat Indonesia menjadi lebih baik,

Timika, 25 November 2012
Nur Saudah Al Arifa D.

SHARE