Marching for Boundary Timika (Bagian 2): Merajut Tenun Kebangsaan di Bumi Papua

431

Senin pagi ini, adalah hari perdana saya bertatap muka dengan para guru dan juga murid-murid SD Inpres II Timika, tempat dimana selama 3 minggu kedepan mengabdikan diri dan membuahkan karya agar SD tersebut bisa selangkah lebih maju.  Dan hari ini terasa lebih istimewa karena anak-anak sedang bersiap melaksanakan upacara bendera yang diwajibkan setiap pekannya. Murid di SD Inpres II Timika jumlahnya update terbaru mencapai 927 siswa lebih dan hanya 34 guru yang mengajar disana dengan tingkat kedisiplinan beberapa oknum guru hanya 70-80%. Jumlah murid yang overload dengan kurangnya kedisiplinan guru tentunya menjadi tantangan besar program pendampingan sekolah yang diadakan oleh dompet Dhuafa yang didukung oleh salah satu perusahaan donor. Berbagai ikhtiar sudah dilakukan berupa program perbaikan management sekolah, sekolah cerdas literasi, pemberian beasiswa bagi siswa yang berprestasi, dan tentunya pelatihan untuk meningkatkan kompetensi guru.

Seperti dikutip dalam edupost M.Nuh dalam sambutannya memperingati hari guru nasional bahwa memang pengembangan guru di Indonesia masih menghadapi tantangan dalam kualitas pemahaman subtansi bahan ajar, pedadogi, kompetensi kepribadian dan kompetensi sekolah. Selain itu, pemahaman nasionalisme dan karakter kebangsaan juga idealnya mutlak dimiliki oleh seorang pendidik.

Penanaman rasa nasionalisme menjadi penting di lingkungan sekolah, karena di sekolahlah merupakan lembaga formal yang berfungsi membantu khususnya orang tua dalam memberikan pendidikan kepada anak-anak mereka. Sekolah memberikan pengetahuan, keterampilan dan sikap kepada anak didiknya secara lengkap sesuai dengan yang mereka butuhkan. Tidak hanya memberikan pengetahuan secara umum tetapi juga memberikan pelajaran moral dan menanamkan rasa nasionalisme terhadap anak didik. Penanaman rasa nasionalisme bisa terwujud di sekolah melalui pelajaran pendidikan pancasila, sejarah perjuangan para pahlawan, perkenalan budaya bangsa melaui pelajaran muatan lokal. diharapkan sekolah dapat diberdayakan untuk menumbuhkan rasa nasionalisme pada anak bangsa yang tentunya akan menjadi penerus bangsa kita sendiri.

Pun berkaitan dengan materi nasionalisme, rasa cinta tanah, tentang Ke Indonesiaan yang belum tertanam menjadi karakter bagi ana-anak SD Inpres Timika II, Meskipun dalam tataran praktek sebenranya SD ini sudah cukup bagus, melalui diwajibkannya upacara bendera setiap hari senin. Namun, apa jadinya jika subtansi mengenai Upacara bendera ini belum tersampaikan secara optimal? Al hasil upacara bendera dianggap sebagai beban yang memberatkan bagi siswa, dan menjadi sesuatu yang membosankan bagi Nopi, Frengky dan kawan-kawan lainnya dimana mereka lebih memilih berdiri di belakang sekolah dan hanya menyaksikan upacara bendera dari kejauhan. “saya tidak mau upacara bendera”, kata mereka”.   

Saya yakin bukan hanya Nopi dan kawan-kawannya saja, masih banyak sekali kejadian anak-anak sekolah ngumpet di belakang pagar sekolah, di kamar mandi, di kantin, atau ngrumpi di pojok pasar agar mereka tidak mengikuti pelaksanaan upacara bendera. Mereka menganggap upacara bendera adalah buang-buang waktu saja. Mereka memandang bahwa upacara itu tidak mengandung nilai pelajaran apapun. Anak-anak seperti itu kita jumpai di sekolah mana saja. Pokoknya, selalu ada alasan bagi mereka untuk mencoba kabur dari upacara.

Pun jikalau ada yang mengikuti upacara bendera masih banyak juga siswa yang melakukannya hanya sekedar formalitas baku dan semu. Memang secara fisik berbaris rapi ala prajurit yang siap bertempur. Namun demikian, apakah dengan sendirinya pandangan, pikiran, dan hati mereka ikhlas betul mengikuti tahapan demi tahapan dalam upacara bendera? Ini yang perlu dipertanyakan? Jika tidak ada karakter kebangsaan yang difahamkan, tentunya ini merupakan tanggung jawab kita semua, tanggung jawab orang tua, wali murid dan juga masyarakat. Banyak sekali siswa yang dengan pakaian seragam lengkap melakukan upacara tetapi tidak memahami apapun juga. Mereka hanya berkeringat dan kelelahan, namun belum memaknai hakikat upacara bendera yang sesungguhnya. Mengapa mereka menyanyikan lagu Indonesia raya, mengapa mereka harus mengheningkan cipta, mengapa mereka membaca UUD 1945 dan Pancasila?

Dalam program magang Beasiswa aktivis Nusantara , memang begitu banyak PR yang dilakukan di SD Timika II ini, termasuk memberikan masukan kepada guru mengenai subtansi nasionalisme, mencoba melakukan pendekatan dengan anak-anak yang ketahuan tidak ikut upcara bendera, hingga tataran teknis berkaitan soal Pelatihan Baris Berbaris (PBB), hingga harapannya kedepan dalam hal baris berbaris para guru tidak lagi masih berkeliling dengan membawa Tluding(alat terbuat dari bambu kecil seperti lidi, yang digunakan untuk menertibkan anak-anak yang dalam tanda kutip tidak rapi waktu upacara bendera). Sehingga anak-anak bisa melaksanakan upacara bendera dengan ikhlas dan gembira, dan semoga tercapailah hakikat upacara bendera untuk menanamkan nasionalisme. Selain itu mereka seharusnya dikenalkan bahwa kemerdekaan Indonesia berbeda dengan bangsa-bangsa lain. Kita merdeka dengan merebutnya dengan pengorbanan yang tidak sedikit, bahkan berkorban nyawa. Upacara yang dilaksanakan setiap hari senin, sudah banyak ditinggalkan di sekolah-sekolah daerah perkotaan, maka dari itu, saya salut dan sangat apresiasi terhadap SD Inpres Timika II yang  masih istiqomah mewajibkan upacara bendera, meskipun dalam praktiknya penuh dengan segala kekurangan yang ada, dan dengan hal ini pulalah yang menyebabkan kami tetap semangat menjalankan pengabdian di Bumi papua, meski banyak berita bentrokan disana-sini, perang suku dan pengeroyokan, namun saya yakin masih banyak sekali sisi positif di Bumi Papua, dan harapan itu masih ada, yang dibutuhkan ialah saling pengertian diantara perbedaan yang ada, dan mengedepankan semangat nasionalisme sebangsa dan setanah air, agar sang saka merah putih tetap berkibar di Bumi Papua, belajar merajut tenun kebangsaan di Bumi Papua….

Timika, 26 November 2012.
Dok.


***


Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044
SHARE