Melihat Kampung dari Dalam: Proyeksi Nasib Kampung Perkotaan di Masa Depan

475

Indonesia hari ini penuh dengan peristiwa yang kurang masuk akal di logika masyarakatnya. Masalah- masalah sosial yang terjadi hampir kurang bisa dimengerti, semakin hari masalah itu semakin kompleks, layaknya bola salju yang terus menggelinding, semakin besar dan besar. Lalu apa yang bisa kita lakukan ? mengeluhkan keadaan, mengkritik dan menghujat pemerintah, dan cercaan- cercaan lain yang selalu dilontarkan oleh mulut- mulut yang kurang bertanggung jawab dan hanya mengutuk kegelapan dengan menambah- nambah permasalahan, bukan memberikan solusi malah menambah kompleksitas masalah. Banyak pemberitaan negatif yang selalu dikoarkan- koarkan media, menjadikan masyarakat semakin tahu apa yang sedang terjadi dalam kehidupan masyarakatnya. Sampai- sampai, banyak yang dengan mudahnya mengatakan negri ini sudah tidak punya moral, tidak lagi menjaga budaya bangsa, dan lain sebagainya. Hampir, di setiap lini kehidupan kita banyak menemukan masalah di dalamnya. Salah satu yang sedang di bahas untuk dicari solusi adalah masalah perkotaan. Hal ini karena hari ini kita mendapati kondisi kota- kota di Indonesia yang semakin kompleks permasalahannya, mulai dari masalah ruang, sarana dan prasarana, hingga masalah sosial, ekonomi, hukum, lingkungan, dan lain sebagainya.

Kota, sebuah ruang yang selalu dikejar- kejar oleh sebagian masyarakat Indonesia. Kota yang bagi sebagian masyarakat menjanjikan harapan baru dan kehidupan yang lebih baik. Oleh karena itu, urbanisasi secara besar- besaran terjadi, menjadikan ruang kota yang sebelumnya lengang tiba- tiba berubah menjadi ramai dan riuh. Sebagian dari mereka adalah orang- orang dengan pengharapan kehidupan yang lebih baik karena kota menjanjikan banyak hal bagi kehidupan mereka. Padahal, realitanya adalah kota tidak menjanjikan banyak hal untuk masyarakatnya. Dengan banyaknya pendatang, kota semakin riuh dan masyarakat perkotaan semakin terpinggirkan. Masyarakat kampung- kampung di kota yang sejak lahir hingga tua hidup di perkotaan mulai disisihkan oleh kaum minoritas pemilik modal yang dengan bebasnya bisa mendirikan hotel, rumah makan, toko dan lain sebagainya tanpa melihat bahwa ada orang- orang di balik pembangunan gedung- gedung tinggi pencakar langit tersebut. Orang- orang yang semakin terpinggirkan, yang semakin dilupakan, dan orang- orang yang semakin jauh dari kotanya sendiri. Seakan- akan mereka terpisah dari kehidupan kota padahal mereka tumbuh didalamnya, termasuk bagi masyarakat pedesaan yang melakukan urbanisasi besar- besaran ke kota. Karena kemampuan yang terbatas yang dimiliki oleh masyarakat pendatang, hal ini semakin menambah masalah perkotaan. Hal ini pula yang menjadikan mereka akhirnya hidup dan tumbuh di area terlarang di perkotaan seperti pinggiran sungai, deerah tanah pemerintah, dan lain sebagainya. Kondisi yang semakin menambah rumit permasalahan tapi mereka tetap bertahan demi sebuah penghidupan.

Bagi seorang aktifis sosial yang hampir setiap hari bergelut dengan masyarakat, ada keresahan yang menyelimuti jiwa. Melihat kondisi masyarakat yang seperti itu, dimana masalah- masalah sosial merajalela, tentunya kita tidak boleh diam diri. Saya memilih untuk ikut serta turun bersama masyarakat untuk ikut andil dalam mencari jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat,  khususnya  masyarakat perkotaan. Saya dan teman- teman bersama komunitas kampungnesia akhirnya memilih untuk ikut andil turun bersama warga, mendengarkan realita kehidupan harian warga perkotaan, merasakan panasnya dunia perkotaan yang semakin hari semakin tergerus oleh industri.

Agenda srawung kampung disusun bersama dengan teman- teman sosiologi sebagai langkah dan upaya menyadarkan masyarakat akan haknya terhadap kota. Bahwa kota bukan hanya milik mereka yang memiliki modal untuk membangun gedung- gedung tinggi, kota bukan hanya milik pemerintah, melainkan milik seluruh warga yang tinggal dan tumbuh di dalamnya. Rangkaian agenda srawung kampung tersusun rapi yang dimulai dengan diskusi bersama warga, mengembangkan potensi kampung, mengajarkan cara pengelolaan sampah kepada warga, membuat komik bersama anak- anak kampung dengan tema yang sederhana seperti kampungku ceritaku, menggambar tembok- tembok kampung dengan mural tentang sejarah kampung, tokoh masyarakat, peta kampung, dan lain sebagainya. Semua hal itu kami lakukan sebagai bentuk distribusi pengetahuan atas ilmu yang di dapatkan selama di ruang- ruang kelas perkuliahan. Banyak hal yang didapatkan ketika turun langsung ke masyarakat, banyak pembelajaran kehidupan yang diajarkan didalamnya. Menjadi kebahagiaan tersendiri ketika bisa berbaur dengan masyarakat. Warga yang apa adanya, tanpa ada sandiwara dan kepalsuan didalamnya.

Srawung kampung yang di gagas oleh kami adalah langkah penyadaran kepada warga kampung sekaligus wadah bagi kami untuk belajar dengan masyarakat. Bagi kami, proses seperti ini menggambarkan bagaimana melihat kampung bagi masyarakat perkotaan, bagaimana kami belajar dari aktifitas warga setiap harinya. Proses yang terus menerus yang pada akhirnya akan membuat sadar warga akan kepemilikan kampung dan kota mereka. Melihat kampung dari aktifitas harian sebuah keluarga, memproyeksikan kehidupan kota di masa mendatang. Proyeksi yang ingin dibentuk dengan indah dengan modal yang telah dikerjakan hari kemarin, hari ini, dan hari yang akan datang. Sebuah pembelajaran lapangan tentang pembelajaran melihat realitas kehidupan masyarakat secara langsung dan ikut serta berbaur dengan masyarakat. Karena pada hakekatnya, ilmu dan pengetahuan itu tidak hanya ada di ruang- ruang kelas perkuliahan, melainkan ada dan tersebar luas di masyarakat. Justru masyarakat adalah sumber dari pengetahuan itu muncul. Belajar bersama warga membentuk pribadi yang turut untuk rendah hati, bukan malah mendongak dan sombong akan ilmu yang dimiliki.

Sumber tulisan :

  • Catatan pribadi kegiatan srawung kampung bersama komunitas Kampungnesia
  • Seorang negarawan muda yang resah dengan keadaan kotanya, Maflahah

***


Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044
SHARE