Membedah Aktivis, Membedah Kebermanfaatan

423

Aktivis saat ini tidak lagi dicitrakan sebagai orang yang mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk mengabdi pada organisasi atau luasnya pada negara. Namun hari ini, aktivis lebih dicitrakan pada orang yang aktif di organisasi dan dipertanyakan komitmennya. Setidaknya pernyataan tersebut mengawali diskusi bedah buku “Hak Rakyat Digasak, Mahasiswa Bergerak” pada Sabtu (06/02), di Aula Pasca Sarjana Universitas Sriwiaya (Unsri), Palembang. Diskusi tersebut menghadiri tiga pembicara yakni Prof. Dr. Ir. Anis Saggaf, MSCE (Rektor Universitas Sriwijaya), Rina Fatimah (Direktur Yayasan Pendidikan DD) dan Eka Pertiwi (Penerima Manfaat BAKTI NUSA angkatan 5)

Kegiatan bedah buku merupakan salah satu rangkaian dari sosialisasi program Beasiswa Aktivis Nusantara (BAKTI NUSA) Dompet Dhuafa Pendidikan. Selain Unsri, kegiatan ini akan dilaksanakan di 6 kampus negeri lainnya antara lain: UI, UNJ, IPB, UNPAD, UGM, dan UNS, selama bulan Februari. Program ini hadir sebagai bentuk kontribusi DD Pendidikan untuk melahirkan para pemimpin masa depan di negeri ini. Pemimpin yang berkarakter dan memiliki keberpihakan terhadap kaum marjinal.

Pada acara tersebut, Prof. Anis menyampaikan tentang karakter ideal seorang pemimpin. Menurut beliau, pemimpin harus memiliki akhlak mulia dan bermanfaat untuk orang lain. Beliau pun sangat mendukung adanya program beasiswa aktivis yang diselenggarakan oleh DD Pendidikan. Pembicara kedua, Rina Fatimah, lebih banyak menyampaikan tentang gerakan mahasiswa. Pada materinya, beliau memaparkan gerakan mahasiswa pasca reformasi mengalami kemandekan. Ada tiga hal penyebab kemandekan dari gerakan mahasiswa ini yakni idelologi yang diperjuangkan tidak jelas sehingga mahasiswa cenderung terkotak-kotak dan jalan sendiri. Kedua, lingkungan kampus yang kurang memberikan keleluasaan bagi mahasiswa kritis untuk memproduksi gagasannya. Ketiga, sebagian besar kalangan mahasiswa Indonesia telah terhinggapi virus pragmatisme dan apatisme.

Tentunya, ketiga penyebab tersebut memerlukan solusi agar mahasiswa kembali menjalankan perannya. Ada tiga solusi yang ditawarkan. Pertama, perubahan format gerakan mahasiswa yakni mengedepankan dialogis dan partisipatif. Partisipatif yang dimaksud yakni gerakan mahasiswa memerlukan aksi nyata di lapangan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Kedua, memperbanyak ruang-ruang diskusi antar mahasiswa yang fokus membicarakan permasalahn sosial dan politik bangsa. Ketiga, diperlukan rekayasa sosial yakni menyiapkan kader-kader pemimpin.

Sesi diskusi bedah buku ditutup oleh pemateri ketiga, Eka Pertiwi, tentang sharing gerakan sosial “Save Our Children” (SOC). Eka bercerita tentang pengalamannya sebagai kakak asuh di program tersebut. SOC, gerakan sosial BAKTI NUSA Unsri angkatan 5, fokus pada pembelajaran dan pengajaran bagi anak-anak tidak mampu, salah satu diantaranya anak-anak jalanan. Kegiatannya sendiri dilakukan di akhir pekan.

Menjelang pukul 12.00, diskusi pun disudahi. Sesi berikutnya dilanjutkan dengan sosialisasi program BAKTI NUSA dan diakhiri dengan konsultasi grup seputar tips-tips menjadi penerima manfaat (PM) BAKTI NUSA. Peserta dibagi menjadi tiga grup, masing-masing grup didampingi oleh dua PM BAKTI NUSA angkatan 5. Ragam pertanyaan yang diajukan oleh peserta grup mulai dari bagaimana membuat tulisan sampai tips ketika diwawancara oleh pihak penyelenggara. Semoga kegiatan bedah buku ini menjadi momentum mengembalikan citra positif aktivis yang tidak hanya aktif diorganisasi saja tapi memiliki tanggung jawab sosial kemasyarakatan melalui program-program sosial yang digagasnya dan tanggung jawab akademik. Hidup mahasiswa!!! (RF)

IMG_20160206_124106 IMG_20160206_131243


***


Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044
SHARE