Memetik Kesempatan ke Negeri Gajah Putih

0
485

Pada Rabu, 27 April 2016 setelah menjalani kewajiban sebagai asisten praktikum untuk Teknologi Penyimpanan dan Penggudangan, saya bersama rekan berangkat untuk mengejar penerbangan sore ke Bandara International Soekarno-Hatta untuk mengunjungi Thailand sebagai perwakilan presentator pada International Conference of Chemical Process, Ecology and Environmental Engineering (ICCPEE) 2016 yang dilaksanakan di Pattaya, Thailand.

Pesawat Air Asia dengan tujuan Bandara Donmueng, Bangkok mengalami keterlambatan hingga 2 jam. Tidak ada perbedaan waktu antara Thailand dan Indonesia, tiba sekitar pukul 22.00 waktu setempat setelah terbang selama 3,5 jam. Setibanya di Bangkok kami kemudian menjalani proses di imigrasi dan memutuskan utuk menyewa taksi untuk menuju hotel. Kami memutuskan untuk menginap di Bangkok selama semalam sebelum melanjutkan ke Pattaya tempat konferensi diselenggarakan, karena menimbang waktu yang terlalu malam.

Keesokan harinya kami berangkat ke Pattaya menggunakan mobil jenis van  sebagai transportasi umum yang mirip dengan mobil travel. Berangkat pukul 11 pagi, kami menempuh perjalanan hingga 3 jam menuju Pattaya. Hari itu merupakan waktu untuk registrasi ulang kehadiran konferensi di Hotel Mercue, North Pattaya. Pattaya sendiri dibagi menjadi 3 wilayah utama pantai di daerah Walking Street yakni North, Central dan South. Hotel kami berada di South Pattaya, yaitu sekitar 20 menit kombinasi perjalanan dengan Songthew (kendaraan khas Pattaya) dan berjalan kaki.

Konferensi dilaksanakan pada Jumat, 29 April 2016, di Meeting Hall Mercue Hotel  pukul 08.30 hingga pukul 17.00 yang dibuka dengan penyampaian materi mengenai Biotechnology, Green Chemistry serta Water Crisis oleh Prof. Dr. Samia Mostafa dari Mesir dan Prof.  S. Babu dari India. Konferensi ini dihadiri oleh delegasi Undergraduate Student, Master Student dan Ph.D student juga Profesor dari 25 negara di dunia. Negara-negara tersebut diantaranya Mesir, India, Turki, Thailand, Malaysia, Myanmar, Cina, Taiwan, dan tentunya Indonesia. Kami terpilih sebagai oral presentator pada sesi pertama. Kami mempresentasikan paper kami berjudul “A Study of Potential Poly-Lactic Acid from Glycerol as By-Product of Biodiesel Production in Indonesia” dalam bahasa Inggris di depan audiensi dari 25 negara dengan waktu 15 menit mencakup tanya jawab. Keterbatasan waktu mengharuskan kami untuk dapat mengalokasikan waktu dengan sangat baik. Output dari konferensi ini adalah publikasi paper yang telah kami buat pada jurnal Internasional

Setelah jeda istirahat makan, sesi berikutnya dilaksanakan. Selain oral presentator seperti saya dan rekan, terdapat juga peserta poster presentation yaitu peserta yang hanya mempresentasikan karya mereka lewat poster. Pada sesi kedua, kami tak menyia-nyiakan waktu dan mencari jaringan Internasional karena tidak disediakan waktu khusus untuk kegiatan tersebut. Kami bahkan diberi kesempatan untuk mengobrol dengan dua pembicara pada konferensi tersebut yakni Prof. Samia dan Prof. S. Babu, kami banyak bertanya seputar konferensi dan perbedaan akademik di universitas masing-masing, bahkan kami diberi peluang serta kemudahan apabila ingin melanjutkan kuliah di univeritas tempat keduanya berdedikasi. Selain itu kami juga sempat berkenalan juga dengan mahasiswa Indonesia yang berkuliah master di Thailand, bertanya banyak mengenai studi master di Thailand dan bagaimana prosesnya. Seru sekali. Akhir konferensi ditutup dengan sesi foto bersama dengan kedua pembicara.

Pada 30 April kami kembali ke Bangkok. Sebelum pulang kami memutuskan untuk menjalajahi wisata Pattaya dengan menyewa motor ke Kebun Anggur dan Big Buddha. Sampai di Bangkok pukul 22.00 waktu setempat, mengendarai Tuk Tuk (semacam bajaj khas Thailand) ke hotel. Esoknya sebelum kembali ke Indonesia (2 Mei 2016), kami memutuskan untuk bisa menjelajah Bangkok dengan menyusuri Chao Praya River, sungai yang membelah Bangkok dengan wisata rohani Budha seperti Wat Arun dan Wat Pho serta mengunjungi Grand Palace, yaitu istana raja yang dibuka untuk umum pada beberapa sisi. Esoknya kami pulang ke Indonesia dengan penerbangan pukul 11.25 dan mendarat setelah 3 jam terbang. Untuk kembali ke Bogor kami menggunakan aplikasi servis dari Grab Car dan sampai di Bogor pukul 19.00 dengan selamat. Alhamdulillah

Berani menjalin komunikasi dan sigap beradaptasi serta cepat mengambil keputusan menjadi pelajaran tambahan yang didapatkan pada destinasi kali ini. Thailand memiliki transportasi yang lebih rapih dan maju secara keseluruhan walaupun tidak berbeda jauh. Pertaniannya terutama buah-buahan dan beras yang paling dapat saya rasakan dari Indonesia. Bioteknologi di Negeri Gajah Putih tersebut dapat diaplikasikan dengan maksimal dengan menghasilkan buah-buah unggul dan beras yang pulen. Walaupun kebanyakan orang Thailand justru lebih mengkonsumsi beras ketan dibandingkan beras biasa. Indonesia perlu banyak belajar melalui agen-agen perubahan yang membutuhkan dukungan dari berbagai pihak untuk membuka cakrawalanya, merencanakan, dan mengaplikasikan solusi perbaikan dan pengembangan yang selanjutnya dapat dikatakan sebagai aksi nyata merawat Indonesia.

Foto bersama Prof Babu dan Prof Samia
Foto bersama Prof Babu dan Prof Samia
Foto bersama delegasi IPB
Foto bersama delegasi IPB
Foto bersama tim Poly Lactic Acid
Foto bersama tim Poly Lactic Acid
Presentasi
Presentasi
Foto bersama seluruh delegasi
Foto bersama seluruh delegasi

 

BAGIKAN

LEAVE A REPLY