Memimpin adalah Membina

180

وَمَا كَا نَ الْمُؤْ مِنُوْ نَ لِيَنْفِرُوْا كَآ فَّةً فَلَوْ لاَنَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْ قَةٍ مِّنْهُمْ طآ ئِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوْا فِى الدِّ يْنِ وَلِيُنْذِ رُوْا قَوْمَهُمْ اِذَا رَجَعُوْااِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَ

“Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya.”

(QS. At Taubah: 122)

“Barang siapa yang mengajak kepada petunjuk, maka ia akan mendapat pahala sebagaimana pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barang siapa mengajak kepada kesesatan, maka ia akan menanggung dosa sebagaimana dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun”.

Acap kali mendengar kata pemimpin, rasanya tak ada bosan untuk melihatnya dari berbagai perspektif. Ada pula yang melihatnya langsung dari kepemimpinan tokoh-tokoh. Apalagi jika kita melihat dari perspektif Islam, mengingat sesungguh uswah dan qudwah kita, Rasulullah SAW. Seorang pemimpin yang dipersiapkan Allah tentulah akan mengalami berbagai tempaan di kala masa mudanya. Ia harus tahan dengan pelik tantangan kehidupan, termasuk lapang dengan berbagai ujian. Jika ia ditakdirkan menjadi pemuda dengan penuh keterbatasan, maka ia harus kuat dan tetap dengan ikhtiar terbesarnya. Allah tidak akan melahirkan pemimpin terbaik untuk negeri ini dengan tanpa tempaan hidup yang menyertainya. Sebagaimana Rasulullah SAW sang pembawa risalah kebaikan, ia tak mungkin dipilih tanpa benar-benar diuji, ditempa, dan dipersiapkan dengan matang. Meyakini bahwa setiap berat pedihnya tempaan adalah wujud cinta Allah. Berbagai simulasi peristiwa hidup yang semakin mengasah dan menguatkan diri agar siap berjuang dan bergerak menyampaikan kebenaran dan petunjuk-Nya. Berkenaan dengan uswah atau contoh dan qudwah atau keteladanan, sesungguhnya kita akan melihat gambaran implementatif dari ucapan, sikap, dan perilaku dari seorang pemimpin, yaitu kepribadiannya. Pemimpin yang sukses adalah pemimpin yang sikap, perbuatan, dan perilakunya lebih mendahului ucapannya. Jika kita kembali mendalami kisah Rasul dan Sahabat, mereka tidak akan berhasil memengaruhi manusia, kecuali karena mereka telah berhasil menjadi uswah dan qudwah yang baik.

Keteladanan selalu dibutuhkan karena konsep pemahaman manusia membutuhkan penyampaian kebenaran yang baik bahwa kebenaran yang akan menghantarkan kepada kebaikan, kebermanfaatan, dan kemenangan. Keteladanan membuat pemahaman apa yang disampaikan oleh seorang pemimpin bukan sesuatu sekadar teori yang tidak dapat diimplementasikan dalam kehidupan. Sebaliknya, tanpa adanya suatu keteladanan, masyarakat akan memahami bahwa apa yang disampaikan dan diberikan oleh sang pemimpin hanya teoritis belaka yang tidak perlu diamalkan dan tidak akan mendatangkan kebaikan; sekiranya perlu diamalkan dan mendatangkan kebaikan tentu sang pemimpin sudah terlebih dahulu mengamalkannya. Adapun keteladanan yang harus diberikan seorang pemimpin adalah sifat dan akhlak, yaitu keikhlasan, kesabaran dan ketabahan, optimisme dan keyakinan yang kuat, pemahaman yang mendalam, pengorbanan, cerdas, lemah lembut, dan memiliki jalan gerak perjuangan.

Sebuah keteladanan menguak dalam berbagai perspektif manifestasi jalan gerak perjuangan. Pada umumnya, keteladanan sangat berkaitan erat dengan sebuah proses kepemimpinan atau pemimpin itu sendiri. Bahwa dalam suatu cermin proses perjalanan kepemimpinan tidak lepas dari adanya suatu proses tarbiyah atau pendidikan. Suatu lingkaran kebaikan yang menempa sosok pemimpin dengan berbagai tempaan ilmu, nilai-nilai, kompetensi, hingga ia memiliki kapasitas dan kapabilitas dan berakhlaq Islam yang kuat. Dalam lingkaran tarbiyah ini, kita akan menemukan urgensitas lain, yaitu mengkader dan membina. Kaderisasi dan pembinaan merupakan bagian terpenting dari alur tarbiyah seorang pemimpin. Bila kita pernah mendengar, bahwa setiap hamba-Nya mempunyai kewajiban untuk berdakwah dan membina adalah bagian dari berdakwah itu sendiri. Memang tak bisa dipungkiri bahwa proses kaderisasi dan pembinaan adalah proses urgen yang memiliki berbagai problematika, sepaket dengan berbagai solusinya pula. Ingat bahwa Allah akan mendatangkan ujian beserta kemudahannya pula.

Belajar sekaligus menjalani proses kaderisasi dan pembinaan selama beberapa tahun terakhir memberikan pemahaman bahwa urgensitas mengkader dan membina merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari setiap proses pentarbiyahan diri. Alur dengan proses penempaan yang beragam dan penuh dengan peluh gerak perjuangan. Pun ketika dihadapkan langsung dengan problematika yang semakin linier pula dengan konsekuensi amanah, penempaan seorang kader pemimpin menjadi semakin menguatkan dan memahamkan, bahwa itu adalah wujud cinta Allah kepadanya untuk terus menaikkan ke ujian yang semakin berat, tak lain tak bukan untuk menjadikan dirinya seorang pemimpin Islam yang kuat. Jalan perjuangan yang beragam dengan pemahaman penempatan amanah pun menjadi bentuk ujian pemahaman tersendiri. Pun kita diingatkan bahwa penempaan tersebut menjadikan setiap diri kita adalah pemimpin yang berintegritas, cendekia dengan pemahaman ilmunya, dan transformatif. Tak menghilangkan hakikat bahwa memimpin adalah melayani. Seorang pemimpin memiliki tugas untuk melayani ummat.

Memimpin adalah membina. Ladang yang bisa dihitung sebagai ladang besar yang Allah amanahkan kepada pundak-pundak yang siap diuji, memimpin. Rasulullah SAW mengajarkan dengan kisah beliau yang melahirkan Abu Bakar, Umar, dan Utsman, khalifah-khalifah yang luar biasa kisah kepemimpinannya. Satu hal yang perlu dipahami ketika Rasulullah SAW menempa Sahabat-sahabat beliau, yaitu proses pemahaman terhadap masing-masing diri Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Proses pemahaman bukanlah sekedar proses pengenalan sederhana, dalam proses pembinaan ia memiliki tahapan masing-masing dengan berbagai indikatornya, hingga menjadikan setiap seorang yang membina memahami betul binaannya. Kita dengan diri kita yang diamanahkan sebagai khalifah di bumi Allah harusnya sudah mengitsarkan dengan diri kita masing-masing.

Tantangan yang terjadi dalam proses pengkaderan dan pembinaan pun kian hari kian beragam. Dan yang harus menjadi sadar adalah proses pada diri kita sendiri dan iman kita. Perbaikan secara ruhiyah maupun jasadiyah memengaruhi kekuatan kita menciptakan magnet diri pada ladang pengkaderan dan pembinaan kita. Bukankah kemenangan yang baik didapatkan dari cara yang baik pula, yaitu cara yang diridhai Allah.

Bersabar dengan proses, demi mencapai hasil terbaik dari tarbiyah-Nya, karena kelak rintangan ke depan akan jauh lebih berat. Seberat-berat tanggung jawab pemimpin terhadap ummat yang kelak di akhirat akan menjadi terberat hisab amalnya. Oleh sebab ia tak hanya menanggung keselamatan atas dirinya saja, namun juga keselamatan setiap makhluk yang dipimpinnya semasa di dunia. Namun dibalik beratnya tanggung jawab tersebut, kitapun tahu bahwa salah satu manusia yang akan ditinggikan derajatnya di antara penduduk surga adalah pemimpin yang adil. Tak banyak diantara manusia yang benar-benar mau memikirkan nasib banyak orang, memikirkan rumitnya permasalahan negeri, bukan hanya memikirkan keselamatan atas diri dan keluarganya, namun mengerahkan seluruh daya upaya demi semua makhluk Allah di sekitarnya. Wallahualam bi showab.

 

KARTIKA ISNA SUJATI
PGSD UNY
Penerima Manfaat Beasiswa Aktivis Nusantara 6 Dompet Dhuafa

#WeareLeaders


***


Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044
SHARE