Menggantung atau Digantung

249

Beberapa kejadian-kejadian yang saya alami pada akhir-akhir ini cukup memberikan pelajaran dan kesan bagi saya. Terutama pelajaran tentang kehidupan, kehidupan yang fana ini. Apa kejadian itu? Saya menjumpai di kampus saya, IPB, pada masa perkenalan mahasiswa baru nya selalu disuguhkan dengan sesi yang mengusung tema entrepreneurship. Menarik, karena memang cukup banyak lulusan IPB yang menjadi pengusaha yang sukses.

Bagi mahasiswa pada umumnya, ia akan terlecut semangatnya ketika menyimak sesi ini untuk menjadi seorang entrepreneur. Tetapi pertanyaannya, berapa lama semangat ini bertahan? Apakah ia benar-benar bisa mengaktualisasikan keinginannya? Ini yang menjadi problematika bagi setiap mahasiswa, biasanya di zaman mereka kuliah mereka idealis, pengen bangun Indonesia seperti ini seperti itu, jujur bersih dari korupsi, jualan biar kaya bisa bantu orang banyak. Begitu lulus mayoritas luntur itu idealisme secara perlahan. Zaman mahasiswa pengen bisnis, sudah punya banyak busines plan, giliran lulus bisnis tidak segera dimulai, didesak kebutuhan keuangan akhirnya bekerja dan nyaman dengan pekerjaannya, jadi entrepreneur? Tidak.

Tapi, saya tidak ingin menyoroti bagian idealisme yang luntur tersebut, karena secara tidak langsung hal seperti ini sudah biasa kita jumpai di kehidupan sehari-hari. Saya lebih tertarik untuk membahas bagaimana seorang kepribadian seorang entrepreneur. Pada semester 4 lalu, saya mengambil mata kuliah Kewirausahaan, yang mana diajarkan bahwa kewirausahaan adalah jiwa, sedangkan pelakunya adalah wirausaha. Ia mungkin dimiliki siapa saja, tetapi wirausaha hanyalah sebuah profesi.

Namun, apa yang menarik dari profesi ini? Tentu walaupun ia profesi, mayoritas dari yang memilih profesi ini mempunyai jiwa kewirausahaan yang baik. Mandiri, ya itu dia. Ia hidup, makan dari hasil keringat sendiri, hasil yang penuh risiko. Tidak menggantungkan hidupnya pada orang lain. Ia berdiri sendiri, menjadi manusia bebas yang bisa menentukan hari ini mau makan apa, dapet pemasukan berapa, mau kemana. Tidak seperti apabila kita bekerja yang itu sebenarnya menggantungkan nasib hidup kita dalam segi keuangan kepada orang. Kita jadi harus memenuhi aturan dan sistem mereka, jam berapa saja kita harus bekerja dia yang menentukan, pemasukan dia yang menentukan. Akibatnya kurang bebas dalam waktu dan finansial.

Berbicara masalah finansial, memang tidak semua wirausaha berpendapatan lebih daripada orang yang bekerja. Tapi katanya, menjadi wirausaha lebih bahagia karena dapat menentukan bagaimana hidupnya sendiri dibandingkan menjadi pekerja yang hidupnya banyak ditentukan oleh orang lain sekalipun dia dibayar dengan gaji yang besar. Ini adalah masalah prinsip. Saya percaya bahwa ini adalah prinsip yang baik, karena seandainya saja seluruh orang di Indonesia mempunyai jiwa kewirausahaan dan menerapkan prinsip-prinsip yang ada, lapangan pekerjaan disini tidak akan kurang, malah kita yang menyediakan bagi negara lain. Juga akan menjadikan masyarakatnya benar-benar mandiri dan tidak bergantung pada orang lain atau bahkan pemerintah.

Kata Almarhum Bob Sadino, usaha yang prospek adalah usaha yang dijalankan dan bukan hanya sekedar direncanakan. Begitulah. Ini adalah prinsip, prinsip yang semoga saja sekali kita memegangnya, kita bisa terus mempertahankannya dengan teguh. Mulai dari sekarang. Salam Ganteng :)

Zaki Abdullah
Penerima Manfaat Beasiswa Aktivis Nusantara Angkatan 6 IPB


***


Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044
SHARE