Mengupayakan Pendidikan di Pelosok Meranti

205

“Ibu,hari rabu kita jadi ke desa-kan?”tanya para siswa kelas jauh SDN 12 Sokop Kepulauan Meranti.” Iya jadi nak,”jawab Siti guru konsultan Dompet Dhuafa Pendidikan. “ Kami boleh pakai tas baru kan,  bu,”tanya siswa lagi. Dan dijawab dengan anggukan dan senyum yang lebar oleh para guru konsultan. Iya rabu ini adalah rabu yang tidak biasa bagi para siswa karena mereka pertama kalinya ikut serta dalam upacara 17 Agustus di desa. Sebelumnya mereka hanya tau ada keramaian di desa setahun sekali.

Suku akit Desa Sokop, Kepulauan Meranti-Riau ini hidup di hutan-hutan pedalaman jadi mengenal keseruan dan keramaian perayaan Hari Kemerdekaan 17 Agustus adalah sesuatu yang baru. Karena untuk sampai ke lokasi dari pusat kota Riau dibutuhkan waktu minimal 8 jam perjalanan dengan menggunakan transportasi, darat dan laut.

Sebelumnya bahkan mereka tidak mengenal lagu Indonesia Raya dan apalagi nama Presiden RI. Ironis tapi begitulah warga suku akit yang memang hidup di dalam hutan ataupun hutan yang sudah dibuka  mereka baru mengenal sejak Kitty dan Siti diamanahkan sebagai relawan guru sekolah mereka mendampingi Ibu Rianti, yang merupakan bagian dari program Inisiasi Sekolah Literasi Indonesia Dompet Dhuafa Pendidikan.  Ironis tapi begitulah adanya masalah-masalah yang dihadapi oleh rakyat indonesia yang hidup di daerah terpencil dan terluar digaris kepulauan Indonesia.

Suku akit ini hidup di kepulauan meranti Riau, namun yang menjadi fokus program inisiasi Sekolah Literasi Indonesia Dompet Dhuafa Pendidikan adalah suku akit di Pulau Rangsang Kecamatan Rangsang Pesisir Desa Sokop Dusun Bandaraya. Sebagian besar mata pencaharian mereka  adalah buruh di kebun kelapa sawit milik non pribumi. Alhamdulillah tahun 2012 masyarakat dapat bantuan perumahan dari kementerian sosial sehingga mereka dapat menikmati hunian yang layak.

Memang masyarakat disini masih berada pada kondisi yang tertinggal khususnya pendidikan. Anak-anak mereka bersekolah dengan berjalan kaki sejauh kurang lebih 10 km. Untuk itu dibuat kegiatan belajar mengajar di sebuah balai pertemuan warga sebagai lokal jauh dari SDN 12 Sokop sebagai induknya. “Sekarang mah sudah alhamdulillah mereka bersekolah sudah menggunakan sepatu atau alas kaki seadanya, bulan februari kami tiba mereka belum menggunakan sepatu ataupun alas kaki lainnya. Sementara dari sisi usia banyak dari mereka tidak lagi berada pada usia sekolah dasar. Banyak anak yang berusia 12 tahun misalnya tetapi masih duduk di kelas dua dengan kemampuan baca tulis yang masih sangat minim. Anak-anak yang duduk di kelas satu juga banyak yang sudah berusia di atas delapan tahun. Dengan kemampuan baca tulis yang masih berada pada level 0.

Sekolah Inisiasi ini dibuat karena melihat ketidakberdayaan pendidikan di daerah pemukiman suku akit tersebut, bekerjasama dengan Kadis Pendidikan Kab. Kep. Meranti. Hasil kesepakatan tersebut adalah akan dibentuk dua bentuk yaitu sekolah filial SDN 12 Sokop dan sekolah non-formal. Anak-anak yang masih berada pada usia sekolah akan tetap bersekolah di sekolah formal yaitu sekolah filial SDN 12 Sokop sedangkan anak-anak yang usianya tidak lagi dalam usia sekolah dasar akan bersekolah di sekolah non-formal untuk kemudian bisa mengambil paket A, B dan C.

Alhamdulillah berkat kerjasama dengan banyak pihak dan donatur bangunan sekolah inisiasi sekarang dalam tahap pembangunan. Bangunan sekolah yang akan dibuat rencananya terdiri dari empat ruang kelas dan dua MCK. insyAllah jika ada rezeki lagi kita akan bangun dua ruang kelas, satu ruang perpustakaan dan dua MCK. Harapannya jika ada ruang perpustakaan, masyarakat dapat mudah mengakses informasi serta hiburan karena keterbatasan akses penerangan. Iya penerangan di daerah ini hanya ada jam 18.00 – 23.00 wib setiap harinya.

Melihat dari dekat kehidupan suku akit membuat kita bertanya dalam hati,”ternyata masih banyak masyarakat yang hidup sangat jauh dari standard kelayakan. Rumah mereka memang sudah layak namun sanitasi dan sarana air bersihnya sangat  jauh dari standard kelayakan apalagi jernih airnya. Iya air di daerah ini terkenal merah seperti air teh karena tanahnya mengandung gambut. Uniknya lagi masyarakat suku akit lebih menyukai air gambut tersebut dibanding air hujan yang sengaja di tampung bila hujan datang. “Air merah ini lebih sehat dan hemat dibanding air hujan, kami tak perlu memasaknya dan bisa langsung dikonsumsi karena jika dimasak rasa airnya akan asam,”tutur ka evi istri ketua RT tempat sekolah literasi indonesia  berada.

Air merah tersebut memang mengandung besi yang tinggi karena jika kita endapkan akan terlihat endapan coklat dan baunya seperti besi. Dan memang masyarakat suku akit yang sudah berumur mengalami masalah di giginya. Sementara sarana MCK dan sumur juga masih jauh dari kelayakan, yang menyedihkan adalah ketika hujan datang dan menggenangi dataran, otomatis sumur ataupun MCK akan tertutup oleh genangan air hujan seakan tidak ada sekat antara MCK dan sumur. Sesuatu yang lumrah terjadi dimasyarakat suku akit dan mereka tetap mengkonsumsi air dari sumur tersebut. Bisa dibayangkan air yang sudah bercampur tersebut tetap dikonsumsi oleh masyarakat meski menunggu surut.

Memang setiap wilayah di Indonesia memiliki masalahnya sesuai dengan karakteristiknya masing-masing, namun bukan berarti kita berpangku tangan dan menyerahkan semua masalah ini kepada pemerintah. Akan tetapi disinilah kontribusi kita diharapkan, untuk dapat saling bergandengan tangan membantu saudara-sauadara kita yang sangat terbatas akses dan fasilitasnya.

SHARE