Menimba Ilmu Lima Hari di Brunei Darussalam

510

Subandi Rianto kedua dari kanan berkacamata, bersama delegasi dari Indonesia

Tidak semua orang berkesempatan dapat menimba ilmu hingga ke luar negeri. Tidak hanya pengetahuan atau wawasan yang bertambah, tentunya pengalaman dan juga jaringan pertemanan pun semakin luas. Hal ini seperti apa yang dialami oleh Subandi Rianto, alumni sekolah SMART Ekselensia Dompet Dhuafa. Ia berkesempatan menimba ilmu di Brunei Darussalam, meski kurang dari satu pekan namun tak sedikit yang ingin ia bagi dengan kita. Berikut tulisan pengalamannya.

Tepat di awal tahun keempat menimba ilmu di Universitas Airlangga (UNAIR), saya mendapat kesempatan mewakili UNAIR dalam acara 10th ASEAN Youth Cultural Forum di Universiti Brunei Darussalam selama lima hari. Acara tahunan ASEAN University Network (AUN) ini biasanya bergiliran dilaksanakan di beberapa negara ASEAN. Tahun lalu, yang menjadi tuan rumah adalah UGM-Indonesia  dan tahun ini Universiti Brunei Darussalam di Negara Brunei Darussalam menjadi tuan rumahnya. Sementara tahun depan akan dilaksanakan di University of Malaya-Malaysia. AUN sendiri merupakan jaringan universitas bergengsi di semua negara-negara ASEAN. Hanya empat universitas di Indonesia yang tergabung dalam AUN, yakni UI, ITB, UGM dan UNAIR.

Berangkat bersama rombongan UNAIR berjumlah lima orang dengan satu dosen pendamping, setiap delegasi universitas diwajibkan mempersiapkan performance budaya yang akan ditampilkan dalam acara tersebut. Kami mempersiapkan tari lilin yang berasal dari Sumatera Barat untuk ditampilkan dalam acara tersebut. Segala persiapan dan akomodasi telah disiapkan jauh-jauh hari, karena acara ini adalah agenda resmi universitas. Maka, segala akomodasi dan fasilitas ditunjang sepenuhnya oleh universitas delegasi dan universitas tuan rumah. Hari pertama mendarat di Brunei Darussalam, seluruh delegasi dari berbagai negara ASEAN melakukan perkenalan dan welcome dinner di kompleks Universiti Brunei Darussalam. Ini adalah kesempatan pertama saya berjumpa dengan mahasiswa dalam komunitas ASEAN yang multikultur. Malam itu juga, seluruh delegasi diterima dalam sebuah acara resmi oleh Menteri Budaya, Pemuda dan Olahraga Negara Brunei Darussalam Dato Paduka Haji Awang Hazair bin Haji Abdullah. Pembukaan malam itu juga disertai penampilan budaya dari seluruh delegasi berbagai negara.

Hari kedua seluruh delegasi diperkenalkan dengan kebudayaan Brunei Darussalam, mulai dari tarian tradisional Brunei, Syair dan music tradisional. Semua delegasi diwajibkan mengikuti training dan akan ditampilkan dalam penutupan. Saya mengambil training tarian tradisional Brunei yang disebut “JipinLailaSembah”, tariannya mirip tarian bercitara Melayu. Setelah itu, pihak tuan rumah juga melatih delegasi dalam multicultural performance (penampilan budaya gabungan dari semua negara ASEAN). Malam itu juga, seluruh latihan delegasi ditampilkan dalamacara puncak di teater terbuka bernama Jerudong International School Art Centre.

Walaupun waktu yang singkat, 10th ASEAN Youth Cultural Forum mampu memberikan pemahaman delegasi akan keberagaman budaya ASEAN, terlebih budaya Brunei, menambah wawasan teritorial soliditas ASEAN serta mempersiapkan generasi muda di seantero negara ASEAN dalam menyongsong globalisasi dan kompetisi global kedepannya. Kenangan lima hari acara tersebut ditutup dengan slogan cheerrrs…. ASEAN United!. Sepulang di Surabaya setelah lima hari di Brunei, saya membuka kembali catatan life plan pribadi yang sudah setahun lalu saya susun. Alhamdulillah saya bias mencoret salah satu targetan hidup yang dulunya masih mengawang-awang untuk direalisasikan. InsyaAllah tahun depan meraih kesuksesan berikutnya. Amin.


***


Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044
SHARE