Menuju Pulau Terindah

66

Oleh: Miftakhul Ilmi (Penerima Manfaat Beasiswa Aktivis Nusantara Regional Yogyakarta)

Hidup ibarat perjalanan menuju sebuah pulau indah di tengah luasnya samudera. Dibutuhkan kapal untuk sampai pada pulau tersebut. Tidak hanya satu kapal, manusia butuh untuk berpindah dari satu kapal ke kapal lain untuk sampai pada tujuan itu. Hal tersebut karena jarang sekali ada kapal yang langsung mengantar ke pulau tersebut, kebanyakan kapal hanya bersifat mendekatkan. Pun ketika berada pada kapal, manusia dihadapkan oleh banyak pilihan. Salah satu pilihan yang dihadapi adalah memilih peran dalam menjalani hari sebagai awak kapal, sebagai nahkoda atau anak buah.

Begitulah kiranya dengan saya, untuk sampai pada pulau terindah menurut saya, saya butuh berpindah dari satu kapal ke kapal lain. Untuk sampai pada tujuan hidup saya, saya butuh untuk hidup dalam sebuah organisasi ke organisasi lainnya. Saya pernah hidup dalam Majelis Perwakilan Kelas ketika SMP lalu Organisasi Siswa Intra Sekolah ketika SMA. Hingga pada suatu ketika saya memilih untuk hidup dalam sebuah organisasi bernama Lembaga Mahasiswa Psikologi UGM.  Tidak sekedar untuk hidup disana, saya memilih untuk mengambil posisi “menghidupi” atau dalam analogi tadi adalah sebagai nahkoda kapal.

***

Leiden is Lijden, begitu pinta Agus Salim, yang berarti bahwa memimpin adalah menderita. Memilih menjadi pemimpin artinya memilih untuk mewakafkan dirinya. Dalam hal ini berarti seorang pemimpin dituntut untuk siap menghadapi apapun yang menghadang. Bersama timnya, seorang pemimpin dituntut untuk siap merespons setiap hal dengan cepat dan tepat. Bahkan pemimpin harus siap apabila situasi dan kondisinya banyak menyita waktu. Tapi banyak ahli menyatakan bahwa dinamika itu mendewasakan. Hal inilah yang pada akhirnya membuat saya selalu bersyukur dengan apa yang saya hadapi yang kira-kira sangat-sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

Saya dituntut untuk berlari lebih kencang dibanding ketua-ketua sebelumnya, bahkan sejak awal menjabat juga di akhir menjabat. Sejak awal menjabat, berbagai isu internal kampus datang bersama-sama, seperti KKN mahasiswa angkatan 2013, MWA UM yang sempat mengalami kekosongan, dan UKT. Pada tahun ini juga, saya bersama ketua lembaga lainnya memutuskan untuk mengeskalasikan isu UKT hingga terwujudlah Pesta Rakyat 2 mei yang merupakan aksi besar di UGM dan cukup dipandang oleh seantero Indonesia. Sementara di akhir masa jabatan, berlari kencang lagi karena ada wacana reformasi KM UGM atau bahasa umumnya adalah Boikot BEM KM UGM yang tentunya akan berdampak pada LM Psikologi UGM ke depan. Mendapati dosen marah atau mengkritik, dipandang sebelah mata, mendapat nyinyiran, dan merasakan pahit manisnya politik kampus pun menjadi hal yang mengisi dinamika di setiap harinya. Kehabisan waktu untuk diri sendiri pun menjadi sesuatu yang memang harus dibayar.

Maka, menjadi hal yang jelas apabila seorang pemimpin harus mampu menjaga dan menguatkan dirinya sembari menjalankan amanahnya. Itulah sebab banyak dikatakan bahwa dibutuhkan pemimpin yang bertaqwa dan berkarakter. Dan untuk hal ini, bersyukurlah saya karena saya diperkenankan untuk memperoleh Beasiswa Aktivis Nusantara Dompet Dhuafa. Dari beasiswa inilah saya mendapat banyak pembelajaran mengenai self-development, Melalui beasiswa ini pulalah saya diperkenankan untuk bertemu dengan pemimpin kapal-kapal lain sehingga kami dapat belajar satu dengan yang lainnya. Tentu nantinya segala pembelajarn baik sebagai pemimpin di LM Psikologi UGM maupun melalui beasiswa ini dapat menjadi bekal untuk saya ketika harus mengarungi kehidupan di kapal-kapal selanjutnya hingga sampailah saya pada pulau terindah.

#weareLEADERS

More info: www.beastudiindonesia.net


***


Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2881 2881 26

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044
SHARE