Menunda Kebaikan

503

Oleh: Ego Praniki Sabarno (Pendamping Beastudi Etos Wilayah BOGOR)

Seandainya setiap nasihat kebaikan hanya boleh disampaikan setelah orang menjadi baik atau alim, niscaya tidak akan ada satu nasihat pun di atas bumi ini.

Seandainya setiap sedekah hanya diberikan setelah harta berkecukupan, niscaya hanya ada sedikit orang yang bersedekah.

Seandainya setiap perempuan hanya boleh berjilbab setelah berpemahaman agama yang baik, niscaya hanya ada sedikit perempuan yang mengenakan jilbab.

Seandainya setiap orang membaca Al Quran dilakukan setelah mengerti bahasa Arab, niscaya hanya ada sedikit orang yang membaca Al Quran.

Dan seandainya setiap laki-laki hanya boleh menikah setelah harta dan agamanya tercukupi, niscaya hanya ada sedikit laki-laki yang berani melamar perempuan.

Masih banyak lagi hal yang kerap dinilai tidak pantas dilakukan oleh orang-orang yang “dianggap” belum pantas. Kita seperti memiliki semacam tolak ukur subjektif yang disepakati bersama dalam menilai pantas atau tidaknya seseorang melakukan sesuatu. Bahkan meskipun yang dilakukannya adalah kebaikan. Mau tidak mau ukuran kepantasan itu harus terpenuhi jika apa yang dilakukannya ingin diterima secara layak.

Disadari atau tidak, ukuran kepantasan yang sangat relatif itu sering menjebak kita pada perbuatan menunda. Kita sering menunda menasihati, menunda bersedekah, menunda berjilbab, menunda membaca Al Quran, atau menunda lamaran; hanya karena belum baik. Belum baik akhlaknya, pemahaman agamanya, bahasa Arabnya, atau hartanya.

Semua penundaan itu malah akan menyebabkan ketidakbaikkan dan perlahan menciptakan kehancuran. Karena selamanya ukuran kepantasan -yang entah darimana asalnya- tidak akan terpenuhi. Bayangkan saja, seandainya perempuan menunggu baik untuk berjilbab, maka entah kapan ia akan berjilbab. Mungkin kain kafan akan menjadi jilbabnya yang pertama. Seandainya yang boleh menasihati hanya para ustadz di masjid-masjid, maka banyak sekali pelajaran yang hilang, yang disampaikan preman di terminal bus, pemabuk di warung kopi, atau banci di perempatan jalan. Dan seandainya laki-laki yang boleh menikahi perempuan hanya yang kaya harta, maka alangkah kasihannya banyak laki-laki yang membujang sampai mati karena tidak kunjung mapan.

Jadi, lakukan saja selama hal itu baik tanpa perlu menunggu. Kita tidak perlu menunda hanya karena kita merasa belum baik, belum paham agama, atau belum-belum yang lainnya. Sebab, terkadang suatu proses hanya perlu diawali dengan melakukan, tanpa mempedulikan orang-orang yang mencibir dan merendahkan.

Biar saja, itu urusan mereka dengan Tuhan. Kita yang belum baik ini fokus saja berusaha menjadi baik. Toh manusia seperti kita ini memang tidak ada yang benar-benar baik, sebagaimana tidak ada yang benar-benar buruk. Satu hal yang pasti adalah Tuhan selalu senang dan selalu memberi kesempatan pada orang-orang yang berkeinginan menjadi baik.”


***


Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044
SHARE