Merajut Cita Demi Indonesia

435

Hidup bagiku ibarat berenang. Mimpi atau cita-cita yang kurajut dalam hidup layaknya akhir lintasan kolam renang. Hanya ada dua pilihan, berenang terus hingga akhir lintasan atau berhenti menyerah di tengah jalan dengan konsekuensi tenggelam. Aku tentu memilih untuk terus berenang meski merasakan rasa “sakit”. Karena mengarungi “kolam” kehidupan memang membutuhkan effort. No Pain, No Gain.

Filosofi berenang inilah yang menjadi salah satu nilai pelajaran yang kupegang dalam menjalani proses kehidupan hingga meraih predikat guru besar termuda Fakultas Teknik (FT), Universitas Indonesia (UI) pada 19 Juni 2013. Hingga saat itu, tercatat dalam sejarah FTUI, baru aku yang mencapai prestasi tersebut di usia 37 tahun.

Mungkin tidak pernah terbayangkan sebelumnya, anak kampung lagi miskin seperti diriku bisa menjadi profesor, torehan tertinggi dalam dunia akademik. Aku lahir di Sukabumi, Jawa Barat. Orang tuaku hanya lulusan SD, bahkan Bapak hanya sekolah sampai kelas 2 SD. Bapak adalah tukang kredit keliling. Sementara Ibu, untuk menambah penghasilan bekerja sebagai tukang potong rambut.

Aku tidak akan melupakan momen-momen saat orang tuaku berjuang mencari dana agar aku bisa kuliah. Mereka rela menggadaikan rumah sederhana yang selama ini kami tempati. Dari situ aku bertekad, aku tidak boleh mengecewakan orang tuaku. Aku harus mampu membuat mereka bangga sehingga tidak ada kesia-sian atas pengorbanan mereka selama ini.

Aku amat bersyukur. Kekurangan ekonomi yang ada dalam keluarga tidak menyurutkanku untuk berprestasi. Di SMA Negeri 1 Sukabumi tempatku menimba ilmu dahulu, Alhamdulillah, aku termasuk siswa teladan. Tak ada pilihan lain, di tengah keterbatasan keluarga, aku harus belajar maksimal, yang dengannya aku bisa berprestasi dan menjadi orang yang memiliki keahlian. Dengan begitu, peluang untuk mengubah taraf hidup keluargaku semakin terbuka. Terlebih orang tua selalu memberi motivasi agar kelak anaknya tidak bernasib sama seperti mereka.

Benar saja, dengan prestasi yang kuraih, jalan menuju kesuksesan terbuka lebar. Waktu itu sekolah mendapatkan jatah jalur undangan untuk masuk UI. Pihak sekolah langsung memberikan kesempatan jalur undangan masuk UI itu kepadaku. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, aku menerima tawaran tersebut. Aku senang dengan kimia. Jadi, aku mencari jurusan yang berhubungan dengan kimia. Lantaran waktu itu belum ada jurusan Teknik Kimia, maka aku memilih jurusan Teknik Gas dan Petrokimia.

Modal Beasiswa dan Mengajar      

Bermodal uang pemberian orang tua hasil gadaian rumah, aku resmi menjadi mahasiswa Jakun (Jaket Kuning), istilah yang umum untuk menggambarkan mahasiswa UI. Dana tersebut selain dapat melunasi uang pangkal dan SPP, juga cukup untuk menyewa sebuah indekos sederhana di bilangan Depok. Tapi dana yang tak besar itu ternyata menjadi dana yang pertama dan terakhir. Selanjutnya aku harus berjuang sendiri dan mandiri mencari dana untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan biaya kuliah. Aku juga tidak ingin membuat orang tuaku terbebani lagi. Aku harus merasakan “perih” dan “sakit” selama proses kuliah karena hakikat hidup adalah perjuangan.

Ada istilah yang umum di kalangan mahasiswa. Bila kita pintar dan tidak mampu, beasiswa akan mudah didapatkan. Memang benar, aku pun mendapatkan beasiswa setelah sebulan menjadi mahasiswa. Beasiswa pertamaku adalah dari FTUI, yakni beasiswa BP3. Sadar bahwa beasiswa adalah salah satu modal agar aku bertahan menjalani hidup, aku pun belajar sungguh-sungguh mendapatkan Indeks Prestasi (IP) yang tinggi agar mendapatkan beasiswa dengan mudah.

Dengan nilai IP yang besar, ditambah statusku yang bisa dibilang “dhuafa” waktu itu, Alhamdulillah, beberapa beasiswa kembali kudapat. Dari sekian beasiswa yang kudapat, Dompet Dhuafa (yang saat itu masih bernama Dompet Dhuafa Republika) turut berkontribusi. Lembaga zakat yang berdiri sejak 2 Juli 1993 ini mendayagunakan dana zakat, infak, sedekah, dan wakaf (Ziswaf) masyarakat untuk membantu kaum dhuafa. Beasiswa adalah salah satunya. Ada sekitar 40 mahasiswa dari berbagai kampus seangkatanku yang menerima beasiswa dari Dompet Dhuafa ini.

Dari beasiswa Dompet Dhuafa, aku mendapat uang Rp 75 ribu per bulan, angka yang cukup besar ketika itu. Tiap bulan aku ke kantor Dompet Dhuafa di Ciputat, untuk mengambil beasiswa tersebut. Kemudian tahun selanjutnya berganti nama menjadi beasiswa Best of The Best. Saat itu naik jadi Rp 150 ribu per bulan. Beasiswa tersebut aku dapatkan tahun 1996 hingga lulus pada tahun 1998. Waktu itu belum ada program pembinaan atau pelatihan seperti sekarang, dulu haya karitas, atau sekadar bagi-bagi dana saja. Bagaimanapun, hadirnya beasiswa dari Dompet Dhuafa yang notabene berasal dari ummat ini, amat membantuku memudahkan perkuliahan di UI.

Demi membuat hidup lebih hidup, aku tidak pasif dengan hanya menerima beasiswa. Dalam rangka berjuang menuntut ilmu di perguruan tinggi, aku pun berjuang dengan cara lain agar bisa survive. Mengajar adalah jawabannya. Kuliah di UI yang berada di kota besar memang nilai plus. Banyak informasi dan jalan yang bisa dioptimalkan untuk mengaktualisasikan diri. Lewat lembaga bimbingan belajar (bimbel), aku mendapat penghasilan tambahan sebagai pengajar. Dua kali sepekan aku mengajar di bimbel yang berlokasi di bilangan Lenteng Agung untuk menambah penghasilan. Alhamduillah, honor  mengajar sebesar Rp 80 ribu kudapat tiap bulan.

Mengabdi Menjadi Dosen

Barangkali ada yang bertanya, apakah menjadi dosen dan menjadi guru besar adalah cita-citaku? Jawabannya: tidak sama sekali. Dulu tidak tebersit dalam pikiran bahwa aku akan menjadi dosen atau guru besar sekalipun. Cita-citaku memang selalu berubah. Dulu waktu kecil, ingin jadi tentara. Alasannya wajar, dulu tentara memang primadona untuk dicita-citakan. Dulu, rasanya gagah benar kalau aku menjadi tentara. Seiring bertambahnya usia, masuk SMA, cita-cita berubah. Saat aku SMA, B.J. Habibie sedang dalam masa puncak kariernya. Setiap insan seantero Indonesia rasanya banyak yang ingin seperti Pak Habibie, menjadi insinyur. Barangkali itulah titik balik yang memengaruhi visi hidup menjadi apa aku ke depan.

Pada akhir tahun 90-an, saat aku bekerja di sebuah perusahaan asing ternama, aku ditawari dosenku untuk menjadi asisten dosen. Aku pun menerima tawaran itu. Permintaan menjadi dosen adalah sebuah kesempatan emas lantaran tidak semua orang bisa ditawari menjadi dosen. Kendati dari kacamata finansial, penghasilan dosen tidak sebesar di perusahaan umum, ada nilai lebih yang aku dapatkan bila menjadi dosen. Nilai itu adalah pengabdian. Aku ingin bisa mengabdi dan berkontribusi kepada sesama. Aku sadar, bisa menjadi sarjana lantaran bukan semata karena usahaku sendiri. Ada banyak orang dan pihak yang membantuku selama ini. Aku pun ingin bisa berbagi, dan menjadi dosen adalah salah satunya. Mengabdi untuk dunia pendidikan.

Menjadi dosen memang sudah menjadi jalan hidupku. Belum setahun menjadi asisten dosen, aku mendapatkan kesempatan melajutkan studi S2 ke Jepang. Aku pun melamar dan mengikuti serangkaian tesnya. Alhamdulillah, aku diterima dan berhak mendapatkan beasiswa penuh untuk program master di sana.

Aku terbang ke Jepang tahun 2000. Tohoku University adalah pelabuhan program masterku di Jepang. Selama tiga tahun aku menyelesaikan program tersebut di sana. Sembari kuliah, di sana aku juga menjadi asisten peneliti dan asisten dosen mata kuliah Metode Numerik, kelas Internasional. Tidak hanya sampai master, aku pun lanjut hingga program doktoral.

Setelah total enam tahun menyelesaikan program master dan doktoral di Jepang, aku kembali ke Indonesia. Jabatan atau pangkat karir dosenku masih asisten ahli. Hal ini terjadi lantaran selama enam tahun aku tercatat di Jepang bukan bekerja, melainkan kuliah. Untuk diketahui, asisten ahli adalah karir dosen paling awal. Urutan setelah itu adalah lektor, lektor kepala, dan guru besar. Untuk setiap kenaikan tingkat terdapat syarat-syarat. Ada kredit poin yang harus dipenuhi meliputi Tri Dharma Perguruan Tinggi (pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat).

Hari-hariku selanjutnya diisi dengan mengajar, meneliti, dan melakukan pengabdian masyarakat lewat spesialisasiku di bidang teknik kimia. Bidang keahlianku adalah Rekayasa Proses Reaksi, sedangkan minatku adalah Biokatalisis dan Process Safety.  Aku mengampu mata kuliah Teknik Reaksi Kimia, Rekayasa Bioreaktor, Biokatalisis, Pencegahan Pencemaran, Pengelolaan Limbah Hayati, K3 Industri Gas, dan K3LL. Prinsipku, kerjakan sepenuh hati dan sungguh-sungguh apa yang telah kita pilih. Memilih menjadi dosen, aku total di jalan ini.

Seperti waktu kuliah S1, menjalani karier sebagai dosen pun aku tergolong berprestasi. Berbagai penghargaan sebagai dosen pernah kudapat. Penghargaan tersebut di antaranya The Most Outstanding Researcher FTUI 2008, Peneliti Terbaik UI 2008, The Most Outstanding Researcher FTUI 2009, Peneliti Terbaik UI Bidang Sain dan Teknologi 2009, Juara III Dosen Berprestasi UI 2010, Best Poster pada Seminar Internasional QiR, Bali, 2011, dan Penghargaan serta Intensif Peneliti Produktif UI 2012.

Berbagai kiprah penelitan dan pengharagaan tersebut membuatku menduduki berbagai posisi strategis di FTUI. Aku pernah menjabat sebagai Direktur Unit Pelayanan dan Pengabdian Masyarakat Teknik Gas dan Petrokima Departemen Teknik Kimia, FTUI 2007-2008. Kepala Laboratorium Rekayasa Bioproses 2008 kemudian Ketua Research Group Rekayasa Bioproses Industri, Ketua Program Studi Teknkologi Bioproses, dan Dosen Inti Penelitian UI hingga sekarang.

Aku juga aktif dalam seminar baik sebagai peserta maupun pembicara dalam berbagai forum penelitian maupun simposium mengenai dunia kimia, di dalam negeri dan internasional. Dengan berbagai aktivitas tersebut, praktis membuat jalan karier sebagai dosen cukup mulus. Setelah posisi asisten ahli, dua tahun kemudian menjadi lektor. Dua tahun berikutnya menjadi lektor kepala. Dan terakhir, tiga tahun berikutnya menjadi guru besar, puncak tertinggi karier dosen.

Bukan Akhir “Lintasan Berenang”

Menjadi Guru Besar bukanlah akhir dari tujuan, melainkan awal dari banyak hal yang mesti dilakukan. Pensiun sebagai guru besar itu umur 70 tahun. Umurku baru 37 tahun saat menjadi guru besar. Nah, bagaimana aku mengisi aktivitas dalam rentang waktu tersebut. Masih banyak hal yang harus aku kerjakan.

Sebagai seorang yang menjadi bagian dari sivitas akademik, seorang dosen seperti diriku mesti terus memenuhi Tri Dharma Perguruan Tinggi. Memenuhi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat adalah tugas setiap sivitas akademik. Dosen tidak hanya mengajar, tetapi juga problem solver dan contribute something to society (berkontribusi kepada masyarakat). Orang umumnya berpikiran dosen itu hanya mengajar. Orang lupa bahwa ia juga meneliti dan melayani.

Aku bertekad untuk dapat terus berkontribusi lewat aktivitas mengajar dan meneliti sehingga menghasilkan produk yang bermanfaaat bagi masyarakat. Aku menilai bahwa semangat kepedulian harus senantiasa digelorakan. Salah satu wujud kepedulian yang bisa aku lakukan adalah dengan menjadikan salah satu rumahku di bilangan Kukusan, Depok sebagai asrama mahasiswa dari luar kota yang tidak mampu. Beberapa alumni SMART Ekselensia Indonesia Dompet Dhuafa yang kuliah di UI menjadi penghuni asrama tesebut.

Melihat pendidikan di Indonesia yang dinilai belum merata secara menyeluruh memantikku untuk memajukan pendidikan. Aku berharap suatu saat kualitas pendidikan dari Sabang sampai Merauke sama. Aku juga ingin ke depannya bisa semakin mengembangkan wirausaha berbasis teknologi. Teknologi yang dihasilkan bisa diaplikasikan dan berguna di masyarakat.

Nilai kepedulian adalah hal penting yang harus kita pahami dan amalkan. Aku merasakannya sendiri. Aku bisa seperti ini, menjadi seorang guru besar, karena adanya kepedulian dari sesama. Ada pengorbanan orang tua dan keluarga besarku. Ada beasiswa Dompet Dhuafa yang berasal dari dana masyarakat. Ada banyak kontribusi lain yang aku dapatkan dari kepedulian pihak lain. Di dunia ini, tidak ada yang bisa hidup sendiri. Lebih dari itu, tidak ada yang dapat sukses selain karena pertolongan Allah Yang Maha Penyayang.

Seseorang paling tidak mesti memiliki tiga bekal dalam mengarungi “kolam” kehidupan agar sukses sampai hingga akhir lintasan. Pertama, isi hati dengan iman. Artinya isi hati dengan kebaikan, ahlak yang mulia. Kedua, isi kepala dengan ilmu, kita harus memiliki pengetahuan dan skill (kemampuan) yang bisa bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain. Dan terakhir, isi tangan (raga) dengan kekuatan.

Pribadi sukses seorang insan adalah kombinasi tiga hal tersebut. Belum sempurna bila seseorang pintar dan berahlak baik, tetapi ternyata lemah. Disayangkan pula bila seseorang kuat dan berahlak baik, tetapi tidak pintar. Dan celaka bila seseorang kuat dan pintar, namun tidak berahlak baik karena hatinya tidak diisi dengan iman.

Terakhir, satu yang harus kita ingat bersama, bahwa semua cita-cita, keberhasilan dan kesuksesan yang kita raih, tak bernilai jika tidak memiliki dampak dan kebermanfaatan yang luas bagi masyarakat. Semua cita yang kita rajut, pada akhirnya harus bisa memberikan kontribusi positif bagi masyarakat, bagi bangsa ini, Indonesia, dan bahkan dunia.

Prof. Dr. Heri Hermansyah, S.T.,M.Eng


***


Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044
SHARE