Merawat Mimpi dari Wasiat Ayah

367

Oleh: Puji Norbawa

Mimpi adalah benih yang harus dijaga dan dirawat. Mimpi bisa dipupuk dengan keyakinan, disiram dengan semangat, dan dijaga dengan doa. Mimpi itu lemah, seolah tidak berarti saat masih menjadi benih dalam tanah. Tetapi mimpi itu menjadi kokoh saat akarnya mulai menjalar dan menghujam. Hingga akhirnya mimpi itu menebar manfaat saat tumbuh besar. Layaknya pohon yang memberi keteduhan dan manis buahnya. Akan menjadi tambah berarti karena menginspirasi orang, mencipta mimpi baru.

Itulah makna yang saya serap dari lembaga Beastudi Etos. Mendorong merawat mimpi kami hingga nantinya dapat memberi kemanfaatan. Menjadi seorang peneliti adalah impian saya, Puji Prabowo, sejak Sekolah Dasar. Impian itu semakin lama semakin membesar, hingga akhirnya hari ini Allah menunjukkan sebagian mimpi itu. Saat ini saya bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang perikanan dan kelautan. Dengan area tambak yang luas, perusahaan itu mempunyai cabang perusahaan tersebar hampir di seluruh Indonesia, juga di Singapura, Vietnam, Thailand, dan Hawaii. Saat ini saya bekerja dalam divisi Research and Development dengan posisi sebagai young researcher.

Bermula dari niat menolong teman saat job fair di Universitas Diponegoro di Semarang Jawa Tengah sekitar awal Februari 2013. Saya mengantar hingga lokasi job fair. Saat itu status saya masih mahasiswa tingkat akhir, bahkan belum menyusun tugas akhir atau skripsi. Temanku menyodorkan selembar lowongan pekerjaan teknisi laboratorium. Spesifikasi itu cocok dengan profilku. Namun saya tak berpikir mengajukan aplikasi karena status masih mahasiswa. Namun, saya diminta mencoba menyodorkan biodata, mengikuti seleksi lowongan itu. Saya mengisi curriculum vitae tanpa ijazah dan dokumen lainnya.

Singkat cerita saya diizinkan mengikuti seleksi mulai dari potensi akademik, psikotest bahkan sampai interview. Pada 8 Februari 2013, peserta yang lolos berkumpul di aula Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro, kampusku sejak 2009, untuk interview yaitu interview HRD dan User.

Satu persatu peserta masuk ke dalam ruang. Beberapa waktu kemudian sebagian orang keluar dengan raut wajah kusut, membuat saya makin deg-degan. Tiba giliran saya. Kendati pernah mendapatkan pelatihan tip-tips menghadapi wawancara, tidak membuatku lebih tenang dan rileks. Namun saya berusaha keras untuk menjaga percaya diri dan menjawab setiap pertanyaan dengan kejujuran.

“Nama saya Puji Norbawa. Saya mahasiswa FPIK angkatan 2009, pernah aktif di berbagai organisasi kampus seperti BEM dan Senat tingkat universitas, kelompok studi Farmasea di tingkat jurusan. Serta pernah menjadi asisten dosen mata kuliah teknologi eksplorasi kelautan, bahan hayati laut, budidaya laut, pemetaan sumber daya hayati laut, instrumentasi kelautan. Saya saat ini bisa juga menunjukkan sertifikat asli dari semua kegiatan yang saya sebutkan tadi,” demikian kalimat perkenalanku setelah diminta oleh interviwer.

Beberapa pertanyaan menyoal penelitian dan minatku dalam studi perikanan dan kelautan. Di tengah wawancara bahkan beberapa kali interviewer larut dalam diskusi, atau lebih tepatnya disebut sharing pengalaman. Pertanyaan yang paling menantang adalah ketika interviewer menanyakan rencana kelulusan saya. Dengan penuh keyakinan saya menjawabnya dengan berjanji lulus sebulan kemudian.

“Mengapa memilih sebagai teknisi laboratorium dari sekian banyak posisi yang ditawarkan? Yakinkan kami anda layak bergabung dengan kami! ” tanya Dr Agung Setiarto, sang user.

“Selama saya kuliah, saya sudah terbiasa bekerja di lab. Pernah menjadi asisten dosen pada mata kuliah kuliah teknologi eksplorasi kelautan, bahan hayati laut, budidaya laut, pemetaan sumber daya hayati laut, instrumentasi kelautan. Saat ini saya juga menjadi koordinator lab mikroalga di jepara yang kebetulan saat ini ada beberapa agenda penelitian.”

Setelah interview itu, saya tancap gas mengerjakan skripsi. Dalam dua minggu draft skripsi berhasil disusun, selanjutnya tanda tangan dosen pembimbing berhasil saya kantongi dalam sepekan. Inilah bentuk kemudahan yang diberikan Allah. Jalanku menyelesaikan skripsi terbentang luas. Bak jalan tol, lajuku menggarap skripsi tanpa banyak hambatan, mulus. Tepat 1 April 2013 masuk meja pengujian dan hasilnya memuaskan. Saya dinyatakan lulus.

Proses yang cepat dan berakhir indah membawa saya berpikir ke belakang. Lima tahun lalu, ketika saya baru masuk kuliah dengan bekal beasiswa Etos, mimpi itu mulai saya rajut. Apa yang saya raih sekarang seperti mimpi. Ya, ini bagai mimpi bagi seorang anak yatim dan ibu entah pergi kemana. Terlintas wasiat Ayah menjelang ajalnya. Saya harus menjadi panutan bagi adik-adik. Itulah motivasiku untuk lulus dan mendapatkan pekerjaan, saya harus menjalankan wasiat Ayah, membantu pendidikan adik.

Saat itu, saya hanyalah lulusan SMA yang tidak tahu apa-apa. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan membiayai adik-adikku sekolah aku bekerja sebagai kuli di pabrik pengolahan ikan. Saat itu, yang terlintas di pikiranku adalah bagaimana adik bisa sekolah hingga tamat SMA.

Alhamdulillah, saat ini saya telah menggenggam gelar sarjana. Meraih sebagaian mimpi yang nyaris hilang, menjadi seorang scientist. Apa yang telah saya raih saat ini bukanlah sesuatu yang luar biasa. Tetapi apa yang telah saya lakukan ini setidaknya mampu memberi inspirasi adik perempuan saya yang saat ini telah melanjutkan kuliah di perguruan tinggi.

Di Etos saya belajar, tidak hanyak belajar dengan nuansa akademis yang dapat membuat menjadi apatis jika tidak memahaminya. Lebih dari itu, belajar tentang hidup, perjuangan, persahabatan, yang membuat kita tidak menjadi seonggok daging hidup yang bernama manusia. Belajar berbagi dalam keterbatasan. Belajar berkontribusi walaupun diri dalam kepayahan.

Mimpi itu masih terus tumbuh dan harus dirawat dengan baik. Mimpi ini baru menjadi tunas. Namun tunas ini mampu memberi semangat untuk terus merawatnya, melihatnya berkembang menjadi pohon besar yang kokoh, rimbun memberi keteduhan dan berbuah memberi banyak kemanfaatan. Masih ada mimpi untuk menemukan hasil riset yang benar – benar bisa diaplikasikan untuk masyarakat nelayan di seluruh Indonesia. Semoga langkah – langkah kecil ini adalah langkah yang dituntun Allah, langkah terbaik untuk dapat memberi kemanfaatan.

Puji Norbawa

 


***


Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044
SHARE