Merawat Ranah Pertiwi

0
421

Oleh: Fikri Hidayatullah – BIOKIMIA 2016

Berkata sebuah pepatah, “Ketika Tuhan sedang bahagia, Tuhan menciptakan bumi ini, Indonesia” .Tersirat didalamnya bahwa ranah yang sekarang kita pijak merupakan ranah yang penuh dengan kenikmatan, kekayaan alam yang begitu melimpah, hingga budaya dengan semangat persatuannya, bahkan dalam sebuah lagu yang sering dinyanyikan terdengarlah bunyi, “Tongkat dan batu jadi tanaman”. Begitu kayanya negeri ini yang jika diumpamakan pada zaman mesir kuno seperti ‘Harta Qarun’ yang telah tertimbun lama, perlahan muncul kepermukaan bumi. Sebab itulah banyak tangan-tangan yang mulai meraup keuntungan dari ranah ini, kaki-kaki yang berpijak dengan beribu kepentingan golongannya, seperti semut-semut yang mengerumuni manisan gula-gula, mereka tidak ingin kehilangan nikmatnya kekayaan alam Indonesia. Tidak hanya orang pribumi yang melakukan hal tersebut, orang asing pun sudah merapatkan bahteranya di pantai-pantai samudra Indonesia.
Hal tersebut terlihat dari maraknya pembangunan pondasi beragam industry diatas ranah nan kaya lagi indah. Tidak hanya itu, kaumpendatang pun mulai menanam saham-sahamnya dalam perusahaan tersebut. Akibatnya, munculah beragam permasalahan yang harus dihadapi oleh kaum pribumi dalam beberapa aspek kehidupannya. Penyempitan lahan pertanian, penebangan hutan secara illegal dan banyak permasalahan lingkungan yang muncul di negeri yang ‘dulunya’ pernah indah nan asri. Permasalahan yang muncul berkorelasi dengan kenyamanan serta kesejaheraan kaum pribumi sendiri dalam mengarungi bahtera kehidupannya. Salah satu contoh adalah kemiskinan yang diakibatkan oleh mahalnya kebutuhan pokok yang kembali didasari oleh banyaknya kebutuhan tersebut yang harus dipenuhi secara import dari negeri sebrang yang mulanya diakibatkan oleh penyempitan lahan. Jika permasalahan tersebut dibuat sebuah siklus, maka akan terlihat kompleks dan begitu nyata serta menantang para kaum pribumi, khususnya generasi penerus untuk dapat memecahkan permasalahan yang terjai di ranah yang pernah ‘kaya’. Bagaimana mungkin, penduduk pribumi menderita, papa lagi miskin di kampong halaman tempat mereka dilahirkan? Bagaimana mungkin generasi penerus bangsa Indonesia makan dari hasil sumber daya alam negerinya, yang sebelumnya harus diolah secara matang di negeri tetangga? Sungguh, ini sangatlah lucu.

Beribu ide telah tertuangkan oleh kaum muda untuk memecahkan dan menyelessaikan permasalahan tersebut, akan tetapi, kembali kepada mental bangsa ini yang mayoritasnya terus berputus asa dalam buaian permasalahan yang ada dan terkesan selalu berpangku tangan saling menunggu ada seseorang yang datang menjadi penyelamat. Maka, sebuah aksi sangatlah diperlukan dibandingkan dengan berjuta lontaran teori yang ada. Oleh sebab itu, selain mengurusi diri pribadi, kita selaku kaum muda, harus bertekad untuk bersama menyelesaikan permasalahan yang ada. Cukup dengan merawat negeri ini dari tangan-tangan jahil yang menghancurkan kekayaan ranah pertiwi, percaya dengan hasil yang dibuahkan oleh bangsa sendiri, mandiri untuk semua kebutuhan pokok sehari-hari. Nyatanya, banyak dari kaum pendatang yang senantiasa ingin menetap dinegeri ini, negeri dengan berjuta kekayaan yang mereka banggakan. Sekarang, kamu yang terlahir dari saripati tanah ibu negaranya, tidakkah Engkau bangga dengan negerimu sendiri?

BAGIKAN

LEAVE A REPLY