Merdeka dari Keterbatasan Menuju Ranah Pengabdian

0
570

Aku terlahir di Lunang, sebuah kampung kecil di Pesisir Selatan Sumatera Barat. Ayah orang Bengkulu, dan ibu asli dari Banjarnegara Jawa Tengah transmigrasi ke Lunang. Tapi, “Nak, ayahmu sudah pergi meninggalkan ibu semenjak engkau dalam kandungan berusia 2 bulan”, ucap ibuku. Ya, sejak aku terlahir tidak bertemu ayahku. Katanya ia tidak meninggal, tapi ‘minggat’ dari rumah meninggalkan ibu. Tak tahu alasan pastinya. Tak ada kabar.

Aku belum punya rumah hingga sekarang. Jadi menumpang hidup dengan kakek nenek, serumah juga dengan paman dan bibi. Alhamdulillah, masih ada tempat berteduh. Namun kehidupan dirumahku tidak harmonis. Sering kudengar cekcok.  Ada saja suara sumbang terdengar disana-sini. Jauh dari kata bahagia.

“Duarr!”, pagi itu kudengar suara pintu dibanting. Diikuti piring yang pecah berserakan. Ibu menangis. Paman pergi. Nenek duduk termenung. Kakek marah. Sering terjadi, dan itu biasa. Aku mulai terbiasa dengan keadaan ini. Sabar. Terkadang juga sedih. Bingung.

Aku tidak bisa fokus belajar dengan keadaan seperti ini. Juga dikeluargaku; ibu yang seorang pembantu rumah tangga tidak pernah sekolah, pamanku tamat Sekolah Dasar (SD), kakek nenek tidak tamat SD zaman penjajahan dulu (jepang), hanya bibi yang tamat Madrasah Tsanawiyah (MTs) setingkat SLTP.

Alhamdulillah masih ada anggota keluarga besarku yang mencicipi pendidikan. Namun, bibiku yang tamat MTs itu setiap hari sibuk membantu kakek nenek ke ladang, tidak bisa melanjutkan sekolah karena tidak ada biaya. Paman juga. Apalagi pada masa kecil ibuku, kakek nenek tidak mampu untuk menyekolahkannya. Jangankan untuk sekolah, makan sehari-hari saja tidak cukup. Zaman itu serba susah. Sekitar tahun 1970-1980-an.

Dan saat aku terlahir 1993, ketika itu Indonesia terkena dampak krisis keuangan Asia yang bermula dari krisis Thailand yang dikenal krisis Tom Yam Gung. Krisis ini dimulai ketika aku lahir, dari 1993 dan puncaknya tahun 1997. Krisis moneter yang menimpa Indonesia terasa dampaknya oleh seluruh penduduk, tapi bagi keluarga kami hal ini sudah biasa. Kami terbiasa hidup serba kekurangan. Dimulai dari saat transmigrasi yang diadakan bapak Soeharto ketika itu. Kakek nenek datang menginjakkan kaki di bumi Andalas (Sumatera) pada tahun 1980. Saat itu ibuku berusia 9 tahun. Keadaan ini berlangsung hingga aku menginjak usia remaja, dan belum baik hingga sekarang.

Makan ubi rebus, sayur pucuk ubi, atau makan talas rebus. Kadang pakai nasi, kadang tidak. Sehari-hari. Hingga kakek membuka ladang. Dan menanaminya dengan padi, palawija, buah-buahan. Baru bisa sedikit menikmati hasil panen. Namun tidak semua panen bisa dikonsumsi sendiri karena lebih banyak untuk dijual. Digunakan membeli peralatan rumah dan keperluan yang lain.

Begitu keadaanku. Bagiku ini adalah perjuangan yang berat. Sedari kecil, belajar sendiri. Hanya terkadang—jika ada waktu luang—paman atau bibi mengajariku selepas bekerja. Keadaan ini berlangsung lama. Namun tidak menyurutkan perjuangan dan pengorbananku. Saat di sekolah aku belajar dengan sungguh-sungguh, karena saat itu ada guru yang mengajari dan menjelaskan pelajaran. Aku simak. Serius. Fokus. Aku terus berusaha menjadi yang terbaik.

Bagiku bisa sekolah adalah karunia yang maha dahsyat dari Tuhan. Kesempatan ini aku gunakan dengan sebaik-baiknya. Dari mulai SD hingga SLTA aku selalu mendapatkan beasiswa dan mendapat juara kelas. Namun pernah sekali di kelas 3 SD tidak mendapat juara kelas meski masih ranking 5 besar. Karena saat itu aku terkena pengaruh teman yang tidak baik; mengajak bolos, mencuri, melawan guru. Itu kisah kelam yang semoga tidak akan terulang lagi.

Hingga masa kuliah, keadaan finansial keluargaku juga tidak membaik. Aku harus berjuang untuk tes masuk PTN. Setelah dinyatakan lulus di Unand, terkendala uang pendaftaran ulang. 100.000,00. Ya, aku masih ingat uang itu. Awalnya aku harus bersabar dengan komentar pahit asisten Wakil Rektor 1 Unand “(dengan uang 100.000,00) untuk ongkosmu pulang ke lunang saja tidak cukup dek”. Tapi dengan uang itu aku masuk Unand. Sebagai jaminan keseriusan untuk kuliah.

Tapi Allah masih sayang padaku. Dia memeberikan jalan dengan lulusnya aku pada Beastudi Etos yang memberikan pembiayaan uang kuliah; uang masuk, uang saku, tempat tinggal, dan yang lebih penting adalah program pembinaan.

“Man jadda wajjadda! Where there is a will there is a way” 2 mantera ini yang aku gigit erat telah membuktikan keampuhannya. Tidak terbayangkan akan bisa terus melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi. Aku akan menjadi sarjana pertama di keluargaku. Ini perjuangan berat, tapi aku yakin bisa!

Aku membagi hidupku menjadi 3 fase penting; masa menerima (saat balita hingga SLTA), masa belajar memberi (saat kuliah), masa berbakti dan mengabdi (pasca kuliah, terjun di masyarakat). Dan kini ‘masa menerima’ sudah aku lewati. Semua pemberian; kasih sayang, bantuan, ketulusan telah aku dapatkan. Masa kedua aku harus bisa membalas pemberian itu, meski baru hal kecil.

‘Masa belajar memberi’ ini aku isi dengan berbagai aktivitas yang bermanfaat bagi diri dan orang lain; membina sekolah desa produkti Beastudi Etos Padang di Desa Jawa Gadut tahun 2011-2014, menjadi mentor pembinaan agama islam di kampus tahun 2012-2016, mendampingi program wirausaha mandiri Dompet Dhuafa Singgalang tahun 2014, membina Mahasiswa Baru Unand di asrama mahasiswa unand dari tahun 2014-2016.

Untuk menghadapi masa ketigaku—masa berbakti dan mengabdi pada masyarakat—aku harus banyak belajar di masa keduaku; aktif di komunitas penulis Lembaga Kajian Ilmiah Mahasiswa (LKIM) Fakultas Peternakan Unand tahun 2011-2014, aktif di badan eksekutif etos padang tahun 2011-2014, aktif di organisasi forum studi islam fakultas peternakan tahun 2011-2014, aktif di lembaga mentoring Unand tahun 2012-2016, aktif di Forum Kajian Islam Rabbani Unand tahun 2013-2015, aktif di Forum Komunikasi Silaturahim Islam Mahasiswa Pesisir Selatan (FKSI MPS) tahun 2013-2016. Selain itu aku menjadi pencetus berdirinya Ikatan Pemuda Pelajar Islam Lunang dan Silaut (IKAPPI LUSI) tahun 2013. Dan sekarang aku sedang merancang Komunitas Cinta Membaca Dan Menulis (KCM2). Semua ini aku lakukan demi masa depanku, masa depan keluargaku, dan masa depan bangsaku. Menjadikan pribadi unggul untuk Indonesia yang gemilang.

BAGIKAN

LEAVE A REPLY