Motivasi di Balik “Tangisan Gajah”

758

Oleh: Ilham Nurdin (Fakultas Kedokteran Unhas, 2003)

Dua bola mata itu berkaca-kaca. Tak lama kemudian buliran bening menetes, membasahi pipi yang mulai nampak penuh guratan. Ia pun tersenyum dan memelukku dengan erat, air mata yang diteteskannya itu merupakan ekspresi kebahagiaan yang ditunjukkan ibu ketika melihat anaknya mengenakan jas putih dengan stetoskop menggantung di leherku. Sementara bapak, ia tetap “kokoh” seperti yang aku lihat selama ini, ia hanya tersenyum kecil di samping Ibu.

Momen pertemuan dengan orang tuaku di sela-sela penugasanku sebagai dokter di pelosok desa di Sulawesi Tenggara inilah yang tak pernah kulupakan. Aku belum pernah melihat mereka sebangga ini sebelumnya kepadaku. Mereka bahagia dan terharu melihat impianku yang kini menjadi nyata, impian yang dulu tak pernah berani aku ungkapkan pada dunia, impian yang setia menemani perjuanganku selama ini selangkah demi selangkah. Impian yang tak seharusnya aku tutupi dari mereka yang kadang meremehkan.

Aku sendiri kadang tak percaya telah menyandang profesi bergengsi seperti dokter. Aku kembali teringat bagaimana aku berusaha mewujudkan mimpiku ini. Pada 2003, diam-diam aku ikut seleksi penerimaan mahasiswa baru, tak satu pun keluarga yang tahu kalau aku mendaftar di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. Aku takut akan diremehkan, aku malu orang-orang akan menciutkan nyaliku untuk terus maju. Aku takut mereka cuma akan merebut impianku.

Hingga hari bersejarah bagiku itu tiba, pengumuman seleksi mahasiswa baru mencantumkan namaku sebagai salah satu peserta yang lulus. Aku tidak bisa menahan air mataku dalam sujud syukurku, rasa haru dan bahagia menyatu dalam diriku, aku tak menyangka Allah mengabulkan doaku. Aku lulus di Fakultas Kedokteran, jurusan yang selama ini aku idam-idamkan. Keluargaku pasti sangat bangga, tidak banyak putra daerah dari kampungku yang mendapat kesempatan kuliah di jurusan favorit seperti Fakultas Kedokteran. Selama seminggu hari-hariku diisi dengan perasaan bangga dan bahagia, terbayang sebentar lagi aku akan kuliah dan manjadi seorang dokter seperti yang selama ini aku impikan.

Aku berdiri di depan sebuah gedung bertingkat, kira-kira bangunan ini tujuh sampai delapan tingkat. Halaman sekitar gedung sangat bersih, dihiasi dengan bunga yang berjejer rapi. Tepat di depanku berdiri terdapat sebuah pengumuman resmi dari universitas tentang pendaftaran ulang mahasiswa baru. Tiba-tiba aku menjadi kurang bersemangat melihat nominal-nominal rupiah yang tertera di pengumuman, mulai dari uang masuk, uang SPP dan lain-lain yang totalnya sangat besar untuk ukuran keluarga kami yang hidup pas-pasan.

Aku bingung membicarakan hal ini kepada bapak, aku tidak ingin lagi menambah beban keluarga karena aku tahu kondisi keluarga tengah sulit, dua orang kakakku juga sedang kuliah, kemudian adikku yang bungsu tahun itu akan naik kelas 3 SMA, dan berencana melanjutkan kuliah juga.

Tapi kuberanikan diri berbicara kepada bapak tentang biaya masuk universitas. Raut mukanya berubah. Meski dengan suara pelan, beliau mengatakan akan mengusahakan biayanya. Bapak mau utang di mana lagi, semenjak kedua kakakku kuliah, sudah tidak terhitung banyaknya utang bapak kepada tetangga dan keluarga. Aku cuma pasrah kepada Allah saja, kalaupun Allah menakdirkan diriku untuk tidak kuliah di Fakultas Kedokteran, aku merasa itulah jalan yang terbaik untukku dan keluargaku.

 

***

Kukayuh sepedaku dengan pelan dan sangat hati-hati, tanganku begitu tegang memegang setang, sekali-kali aku menoleh ke belakang. Aku bukan baru belajar naik sepeda, tapi pagi ini aku membawa beras jualan seberat tiga puluh kilogram di boncengan belakang sepedaku. Meskipun bapak sudah mengikatnya dengan kuat, terkadang masih ada rasa was-was yang memaksa kepalaku untuk selalu menoleh ke belakang sekadar mengecek.

Sebenarnya untuk ukuran orang dewasa beban seperti ini tidak begitu berat, cukup enteng untuk diangkat apalagi jika diangkut menggunakan sepeda, tetapi untuk anak seumuranku yang masih kelas 3 SD, tentu saja beras itu lumayan berat. Sebelum berangkat ke sekolah, aku mengantarkan beras kepada ibu untuk dijual ke pasar, kadang bergantian dengan kakak laki-lakiku yang sudah agak lebih besar dariku. Sore harinya, sepulang mengaji, biasanya aku ke pasar lagi untuk membantu ibu berjualan atau sekadar membantu membereskan jualan.

Sebelum aku lahir ibu sudah berjualan di pasar, aku juga tidak mengerti kenapa ibu harus berjualan di pasar, padahal bapak juga sudah bekerja. Terkadang aku malu ke teman-temanku yang melihatku berjualan. Ada perasaan malu dianggap sebagai orang miskin yang kerjanya sebagai pedagang kaki lima. Setiap hari aku selalu berharap tak ada satu pun temanku yang menemukanku berjualan.

Bapak seorang guru SD, sudah puluhan tahun beliau mengabdikan dirinya mengajar di sekolah. Pernah bapak bercerita pengalamannya di awal-awal menjadi guru, pengalaman pahit karena selama berbulan-bulan bekerja tanpa gaji. Hal itulah mungkin salah satu penyebab dulu orang malas menjadi guru. Lebih banyak memilih berwiraswasta atau pekerjaan lain yang lebih menghasilkan. Gaji bapak tidak cukup untuk menghidupi kami bertujuh, makanya ibu mencari penghasilan tambahan dengan bekerja sebagai pedagang kaki lima di pasar.

Bapak juga demikian, di sela-sela waktunya mengajar di sekolah, beliau sempatkan berjualan kue di sekolah. Pelanggannya psiswa sendiri atau teman-teman gurunya. Di era 90-an tidak ada cerita menarik tentang kondisi guru di Indonesia, semuanya hanya berkisah tentang pengabdian tanpa pamrih, gaji yang kecil, bahkan cerita guru yang bekerja tanpa gaji.

Ada sebuah cerita tentang keprihatinan kondisi guru Sekolah Dasar di Indonesia. Cerita ini menarik sekali, lucu tapi kadang membuatku sedih sebagai anak seorang guru. Sebuah cerita tentang perlombaan tiga negara untuk membuat seekor gajah menangis.

Dikisahkan ada tiga negara yang berpartisipasi dalam perlombaan ini, Italia, Inggris, dan Indonesia. Para peserta dari tiga negara diperbolehkan melakukan cara apa saja untuk membuat seekor gajah menangis. Maka bersiaplah semua wakil dari setiap negara lengkap dengan peralatan masing-masing. Perlombaan pun dimulai, seorang pria wakil dari Italia berdiri tegak di depan sang gajah, ditangannya sebuah tombak tajam sepanjang dua meter akan ditusukkan ke badan sang gajah. Akan tetapi, tusukan tombak pria ini tidak membuat gajah menangis. Bahkan tidak ada respon sama sekali dari sang gajah.

Begitupula ketika peserta kedua yang mewakili negeri Ratu Elisabeth menunjukan keahliannya, meskipun ia telah menembakkan dua peluru ke perut sang gajah ternyata tidak juga membuat sang gajah menangis. Sang gajah tidak merespon, malah tetap asyik bermain dengan belalainya. Tibalah saatnya peserta terakhir dari Indonesia. Tanpa alas kaki, tanpa senjata apapun, wakil dari Indonesia ini berjalan mendekat dan hanya membisikkan sesuatu di telinga sang gajah, sontak sang gajah langsung menangis dengan suara yang sangat keras. Air matanya hampir membanjiri pijakan kakinya.

Semua pononton keheranan melihat kejadian ini. Suara gemuruh penonton pecah disertai kemeriahan tepukan tangan. Mereka seakan tidak percaya, tanpa menggunakan senjata apapun wakil indonesia ini bisa membuat gajah menangis. Indonesia menjadi pemenang dalam perlombaan ini.

Sebenarnya, apa yang telah dibisikkan orang itu sampai membuat gajah menangis. Ternyata ketika mendekat dengan gajah tadi, dia berbisik kepada sang gajah “Aku seorang guru di Indonesia, dan sudah tiga bulan tidak digaji,” katanya memulai cerita kepada gajah. Kisah merana guru SD inilah yang membuat gajah terharu dan menangis sekeras-kerasnya.

Anekdot tangisan gajah ini memang sangat lucu, tetapi cukuplah untuk menggambarkan bagaimana kehidupan susah yang dialami guru-guru di Indonesia terutama guru sekolah dasar.

Cerita tangisan seekor gajah terekam kuat di memoriku, aku selalu termotivasi dan bersemangat untuk rajin belajar. Kadang aku tertawa sendiri, kadang sedih bila mengingat cerita ini. Meski hanya fiktif belaka, tapi cerita ini terus membakar semangatku untuk menjadi orang berhasil, mempunyai kehidupan yang lebih layak dari sekarang. Mempunyai pekerjaan yang lebih baik dari profesi bapak sekarang, pekerjaan yang bisa memperbaiki kehidupan ekonomi keluarga.

Sang gajah betul-betul merasakan penderitaan kami, rasa sakit dari sebuah tombak ataupun hantaman peluru senjata tidak mampu membuatnya menangis, cerita penderitaan guru-gurulah yang membuatnya bersedih. Profesi mulia yang mendapat gelar sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, profesi yang mampu mengangkat derajat bangsa, akan tetapi belum bisa mengangkat derajat kehidupan keluarganya.

Bapak selama ini dikenal sebagai seorang guru yang baik. Meski dengan gaji pas-pasan, beliau tetap bersemangat untuk mengajar dan mendidik generasi penerus bangsa. Bapak adalah guru yang hebat, beliau sangat jarang mengeluh, beliau hanya bekerja dan terus bekerja, tidak henti-hentinya beliau memberikan nasehat kepada kami untuk rajin belajar supaya bisa bermanfaat bagi orang banyak. Bapak akan marah besar ketika kami malas bersekolah hanya karena tidak punya uang saku, sepatu sudah bolong, atau alasan kecil lainnya.

Ada pesan yang paling berkesan yang selalu disampaikan kepada kami, beliau berpesan, kalau ingin menjadi orang yang berhasil itu harus menderita dulu, itulah kuncinya. Pesan beliau ini yang kemudian aku jadikan moto hidupku sampai sekarang “no pain no gain.

Kehidupan yang sulit tidak membuatku patah semangat, sejak kecil bapak sudah membiasakan kami untuk belajar teratur setiap hari. Bapak tidak pernah main-main soal pendidikan, bahkan sangat keras dalam mendidik anak-anaknya, aku masih ingat kalau bapak punya sebuah tongkat berkepala ular yang digunakan untuk mengancam kami agar rajin belajar. Bukan hanya mengancam, sekali-kali kalau kami nakal, dua sampai tiga kali hantaman tongkat ini cukuplah membuat kami menangis dan berteriak kesakitan. Kadang pukulannya meninggalkan memar merah biru yang membekas berhari-hari di betis kami.

Tidak pernah sekali pun aku menyesali gaya keras beliau dalam mendidik kami. Bahkan aku merasa bangga beliau mendidik kami seperti itu. Didikan keras beliau inilah yang mengantarkanku selalu menempati peringkat pertama di sekolah, bahkan aku sering menjuarai perlombaan tingkat kabupaten dan provinsi. Aku juga pernah menjadi siswa teladan se-Sulawesi Selatan pada 1996. Prestasi demi prestasi itu aku dapatkan di setiap jenjang pendidikan, aku terus ingin berprestasi karena impian besar yang terpendam dalam hatiku, aku ingin menjadi seorang dokter yang bermanfaat bagi orang banyak. Tidak perlu aku sampaikan impian ini kepada dunia, tapi suatu saat aku akan membuktikannya.

***

Suatu hari, seusai sholat Dzhuhur di sebuah masjid kompleks pondokan mahasiswa Tamalanrea Makassar, seperti biasa, aku duduk berdzikir bersandar pada tiang masjid paling belakang. Mesjid ini cukup megah untuk ukuran daerah pondokan mahasiswa, aku pernah dengar kalau masjid ini adalah bantuan dari Yayasan Al Haramain, Saudi Arabia.

Tiba-tiba mataku tertuju pada sebuah lembaran yang tertempel di papan pengumuman. Isinya peluang beasiswa untuk mahasiswa baru. Langsung kuberanjak dari tempat duduk meski dzikirku belum selesai. Namanya Beastudi Etos. Harapan itu tiba-tiba muncul kembali, Allah mendengarkan doaku, aku seperti mendapatkan sebuah pelita untuk menerangi jalan setapak menuju impianku. Kabar bahagia bagi kami yang masih kekurangan, tetapi punya kemauan besar menggapai mimpi. Dengan beasiswa ini, aku bisa melanjutkan kuliah tanpa membebani orang tua. Akupun mengikuti seleksinya dan berhasil menjadi salah seorang penerima beasiswa.

Beastudi Etos adalah anugrah, aku tidak bisa menyembunyikan rasa senang setelah mendapatkan beasiswa ini. Rasa syukur kepada Allah senantiasa kupanjatkan karena menjadi orang beruntung yang ikut program ini. Beasiswa ini begitu lengkap, banyak fasilitas diberikan pada kami. Beasiswa ini luar biasa, semua pembayaran masuk kuliah dibayarkan hanya dengan memperlihatkan kuitansi bukti semua pembayaran, termasuk uang SPP dan uang pembangunan kampus.

Selain itu, aku tidak perlu lagi sibuk mencari rumah kontrakan karena beasiswa ini menyediakan asrama gratis, memberikan uang saku bulanan untuk keperluan sehari-hari. Dan yang paling berkesan adalah adanya kegiatan pembinaan rutin dengan kurikulum yang teratur untuk pengembangan diri para penerimanya. Setiap pekan aku dan teman-teman penerima Beastudi Etos mendapatkan pembinaan yang berisi bimbingan dan pelatihan dari tokoh berkapasitas untuk sharing pengalaman kepada kami.

Mengikuti program Beastudi Etos, aku hidup dalam lingkungan asrama bersama penerima beasiswa lainnya. Di asrama Etos, aku belajar tentang kekeluargaan, kebersamaan, dan kedisiplinan. Kekompakan antara penghuni asrama terjalin kuat, kegiatan sehari-hari hampir kami lakukan bersama-sama, sholat berjama’ah di mesjid, makan bersama, bahkan kadang-kadang kami mabit—menginap di masjid dengan berbagai kegiatan kerohanian seperti pengajian dan shalat tahajud bersama. Selain itu, setiap penerima beastudi ditekankan untuk berprestasi di fakultas masing-masing bahkan sebisa mungkin menjadi leader di lembaga kemahasiswaan.

Aku termotivasi aktif di lembaga kemahasiswaan kampus. Tercatat selama kuliah di Fakultas Kedokteran, aku pernah menjadi Ketua Kerohanian BEM Fakultas Kedokteran, pernah juga menjabat Ketua Mesjid Kampus Al Afiyat, sampai menjadi salah seorang menteri BEM Universitas Hasanuddin. Di luar kampus, aku sangat aktif melakukan aksi sosial bersama Bulan Sabit Merah Indonesia Cabang Makassar.

Menggapai Mimpi

Saat ini aku telah menjadi dokter dan bekerja di sebuah desa terpencil di Sulawesi Tenggara, daerah dengan minim fasilitas, tanpa listrik, tanpa sinyal telepon. Secara pribadi aku bangga bekerja di sini, di tengah mereka yang begitu menghargai petugas kesehatan, di tengah warga desa miskin yang butuh fasilitas kesehatan yang memadai. Pembinaan Beastudi Etos mengajarkanku untuk menjadi insan yang bermanfaat bagi sesama, sekecil apapun itu.

Sekarang aku sadar bahwa semuanya itu berasal dari impian. Impian yang bukan hanya sekadar keinginan, tapi impian yang membekas di hati sanubari yang tidak pernah hilang atau pudar meski diterjang ombak besar. Meski dihantam angin topan, impian tidak pernah dibiarkan terbang bersama angan-angan. Kita harus yakin, bahwa tiada satu pun mustahil di dunia ini ketika kita berusaha dan berdoa. Allah SWT tidak pernah tidur, Dia melihat hamba-Nya yang bersungguh-sungguh berusaha mencapai impiannya, Dia mendengarkan doa dari hamba yang mengucapkannya dengan tulus. Aku tersenyum bahagia jika mengingat perjuanganku dulu, doa dan pengorbanan orangtua, serta dukungan dari teman-teman penerima Beastudi Etos. Terimakasih semuanya, terimakasih kepada tangisan sang gajah yang telah memotivasiku, hingga aku mampu melalui perjuangan ini.


***


Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044
SHARE