Muslim Negarawan

383

Oleh: Siti Qulsyum Shofiyani, Univesitas Gadjah Mada

Muslim Negarawan. Sebuah tagline yang dicetuskan dari hasil diskusi beberapa mahasiswa  pergerakan di tanah Yogyakarta. Tagline tersebut lahir pada saat reformasi sedang gencar di Indonesia. Wajar saja, saat itu gelora mahasiswa memang sedang hidup-hidupnya. Sebuah peristiwa sejarah yang menunjukkan bahwa perubahan adalah satu-satunya yang tak akan pernah berubah. Pun dengan tagline tersebut, bak semangat yang sejatinya diharapkan selalu bergeloro di setiap sanubari mahasiswa muslim yang meyakini di hatinya cinta negaranya, Indonesia.

Sebagai seorang individu, sejatinya setiap manusia lahir dalam keadaan muslim, bahkan semenjak belum menginjak dunia. Apalagi ketika disandingkan dengan negarawan. Manusia terlebih dahulu mendapatkan predikat muslim sebelum warga Negara. Islam Indonesia, bukan sebaliknya. Maka pantas saja jika tagline tersebut bersuara demikian. Manusia, dalam hal ini mahasiswa sejatinya mengetahui hak dan kewajibannya selaku seorang muslim, baru kemudian menjalankan hak dan kewajibannya sebagai warga Negara yang baik dan adil terhadap bangsanya.

Mengarungi realita yang terjadi hingga kini, nampaknya dunia memang akan selalu ditantang oleh angina segar yang menawarkan banyak “menu” yang mengacamkan pertahanan entitas. Jika kemudian tagline tersebut hanya sebatas nama, maka hal itu tak tak akan mengubah apapun yang terjadi terhadap kondisi sosial yang terjadi terhadap bangsa ini. Ketar-ketir soal maraknya era globalisasi, atau paham lain pun tak akan lagi menjadi keresahan bersama tatkala semangat perjuangan untuk mempertahankan entitas bangsa tak lagi digalakkan, bahkan tak disentuh pun karena memang tak peka.

Oleh karena itu, sejatinya hal ini sudah menjadi perhatian bersama bahwasannya Indonesia saat ini sedang berada di tepi jurang, yang mana ketika ia melangkah sedikit saja ia akan mendapati sebuah area penuh kemudahan akses, bahkan mudah menjalani hidup dan kehidupan. Tapi lucunya, ibarat mata uang yang memiliki dua sisi, kemudahan tersebut memiliki kekurangan, yaitu beberapa bagian yang sedikit menggerus nilai-nilai yang sudah tertanam semenjak Indonesia mencatat sejarah pertama kalinya sebagai bangsa.

Diskusi terkait bagaimana hubungan antara agama dan bangsa, nampaknya sudah selesai. Bangsa Indonesia lahir dari ruh perjuangan agama yang ceritanya –mungkin—tak didapati di buku-buku sejarah bangku sekolah. Banyak hal yang tertutupi, dan hanya mereka yang #menolaklupa serta melek sejarah seutuhnya yang mampu menilai secara objektif (rekomendasi silahkan baca Api Sejarah).

Pun dengan tantangan zaman yang semakin mengancam, hal tersebut juga akan menjadi hal yang biasa saja, asal satu hal selektif. Indonesia sebagai bangsa yang mengatur arusnya budaya, paham, aliran, atau apapun yang bisa masuk dari berbagai arah harus mampu mengontrol, memilih, dan memilah mana yang baik diterapkan di Indonesia atau tidak. Entitas bangsa Indonesia harus tetap terjaga. Bangsa Indonesia yang mayoritas umat Muslim pun harus menjadi perhatian utama, karena sejatinya dunia hanyalah sementara. Justru nilai-nilai yang diajarkan agama itulah yang akan melekat dan membawa manusia hingga sampai akhirat.


***


Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044
SHARE