Mutiara Berdebu

1051

Tepat ketika surya tegak lurus di atas ubun-ubun, 14 April 1990, tangisan pertamaku pecah, terdengar di antara puluhan kerumunan orang. Mereka tertawa bahagia menyambut kehadiranku di dunia ini. Aku tidak tahu pasti bagaimana suasana keluargaku saat itu. Yang aku dengar dari cerita orang-orang, aku adalah anak ke-7 di keluargaku.

Menurut kepercayaan orang-orang Bugis, angka tujuh merupakan salah satu angka keberuntungan. Tujuh diidentikkan dalam bahasa Bugis Makassar, yaitu “Mattuju”, artinya selalu berada di jalur benar. Terlebih lagi, usaha keluargaku terbilang maju saat itu. Ayahku adalah pengusaha, setiap bulannya selalu berkeliling Nusantara membangun jaringan bisnis. Kaya raya, dermawan, dan suka menolong. Begitulah kata orang-orang tentang keluargaku. Terlebih, darah bangsawan mengalir kental di tubuhku dan seluruh anggota keluargaku. Menjadi pelengkap bukti betapa terpandangnya keluargaku saat itu.

Itulah serpihan memori kehidupanku. Berusaha aku kumpulkan sedikit demi sedikit, agar aku tahu siapa aku sebenarnya. Hingga usiaku beranjak 6 tahun. Mungkin masih terlalu dini bagi seorang anak kecil mengingat dengan kuat masa lalunya. Namun bagiku, kenangan ini membekas begitu kuat. Seakan berkata “aku adalah kenanganmu, kenangan yang terlalu indah untuk kau lupakan, namun terlalu sedih untuk terus kau kenang.”

Roda kehidupan terus berputar, kadang di atas, kadang juga di bawah. Setidaknya begitulah kata pepatah lama. Namun, aku tidak merasakan perputaran itu. Duniaku seakan-akan jungkir balik. Tidak ada singgasana, apalagi istana kini. Yang ada hanyalah gubuk kecil sederhana, di situlah tempatku dibesarkan. Berharap tumbuh dengan limpahan kasih sayang, namun tak jua aku dapatkan. Seakan takdir menghukumku dengan begitu beratnya. Aku bukan anak yatim piatu, bukan juga orang sebatang kara. Justru aku memiliki semuanya. Ayah, Ibu, nenek, dan saudara. Mereka semua masih hidup di dunia ini. Sayang, aku tidak tahu di mana dan sedang apa mereka saat ini. Wajahnya seperti apa aku juga tidak tahu. Ia meninggalkanku di sini saat aku masih kecil.

Awalnya aku mengira aku anak terbuang. Orang tuaku lari dari tanggung jawabnya untuk menafkahi dan membesarkanku. Namun, ini bukanlah sinetron yang penuh rekayasa sang sutradara untuk memuaskan penonton. Beberapa bulan sejak kelahiranku, ayah terjerat kasus pengedaran uang palsu. Hingga ia harus mendekam selama bertahun-tahun di balik jeruji penjara. Ia bukanlah penjahat, ia hanya korban dari kasus penipuan oleh rekan kerjanya. Uang hasil transaksi yang diperoleh ternyata palsu, inilah kenyataan pahit yang harus ia lalui. Tertipu rekan kerja sendiri, meringkuk di balik jeruji besi, hingga harus jauh dari keluarga.

Begitulah cara panah takdir menghujam jantung keluargaku. Amat kejam, tiada sedikitpun menimbang rasa. Bukan hanya sekali, berkali-kali panah takdir memporak-porandakan istanaku. Menusuk dalam hingga ke sendi-sendi kebahagiaan. Bertubi-tubi penderitaan datang silih berganti. Menyisakan air mata, dan luka dalam dada. Merenggut semua senyuman di raut wajah kami. Satu demi satu aset-aset berharga milik keluarga mulai digadaikan. Disulap menjadi lembaran-lembaran rupiah, dengan harapan dapat menebus dan mengeluarkan ayah dari balik jeruji besi.

Setali tiga uang, ketika usaha berujung pada kegagalan, panjatan doa pun tiada mengisyaratkan hasil. Disaat tumpuan harapan hanya dilandaskan pada makhluk ciptaan-Nya, maka kecewalah hasilnya. Tinggallah kepercayaan terbalut rasa penyesalan. Manakala lembaran demi lembaran uang telah dikumpulkan, malah dibawah kabur pengacara keluarga. Untaian kata-kata manisnya hanya isapan jempol belaka. Janji tinggallah janji, bersama jiwa dalam rasa keterpurukan.

Mungkinkah Allah menguji kami. Ataukah menjatuhkan karmanya pada hamba yang melalaikan harta titipan-Nya. Hingga hantaman kerasnya kehidupan seakan menjadi teman perjalanan kami, membawa diri semakin tenggelam dalam kemelaratan. Alam pun rasanya menjadi murka. Tak mau kalah dan ikut ambil bagian menghardik keluargaku. Ganasnya si jago merah membumi hanguskan toko milik keluarga hanya dalam hitungan detik. Kini semuanya menjadi kenangan. Kemegahan, hanya akan menjadi cerita pelipur lara dalam catatan sejarah keluargaku. Di sinilah titik balik duniaku. Dari singgasana indah, kini harus berkubang dalam lumpur kehidupan. Bukan berputar seperti roda, tapi jungkir balik seperti roller coaster.

Kini keluargaku hidup dalam lilitan hutang. Jangankan menebus ayah, menghidupi diri kami saja semakin sulit. Ibulah satu-satunya tulang punggung keluarga saat ini. Bertanggung jawab penuh pada kondisi keluarga yang kian labil. Di saat itulah ia berpikir untuk hijrah, melakukan perjalanan dagang dari satu daerah ke daerah lain. Meninggalkan aku dan saudara-saudaraku di “istana” ini. Rumahkulah satu-satunya aset tersisa setelah kejadian itu. Menjadi catatan memori dan saksi bisu perjalanan hidup keluargaku. Berharap suatu hari kami semua berkumpul menjadi keluarga yang utuh kembali. Di sini, di rumah ini.

Itulah terakhir kali ibu melihatku. Dan itulah awal saat aku hidup seperti seorang yatim piatu. Rumah ini begitu rapuh. Tanpa ayah, rasanya seperti hidup di rumah tak beratap dan dinding. Kini giliran ibu meninggalkan kami, hari-hari akan kami lalui tanpa adanya kasih sayang dan belaian dari kedua orang tua kami.

Namun, kebahagaiaan itu tidak sepenuhnya terenggut. Kami masih memiliki nenek. Menggantikan posisi ayah dan ibu membesarkan kami. Setidaknya aku masih bisa merasakan kasih sayang. Bukan dari orang tuaku, tapi dari kakak dan nenekku. “Badai pasti berlalu”, bertahan dalam kesabaran menanti terbitnya mentari kebahagian. Sampai kapan ini akan berakhir. Hari-hari kami lalui dengan perjuangan berat. Semua anggota keluarga harus banting tulang mencari nafkah. Kecuali aku yang masih kecil. Kami berusaha bertahan hidup ditengah keterbatasan.

Apakah Allah tengah menjatuhkan karmanya? Atau mungkin karena begitu sayangnya terhadap keluargaku hingga antrean cobaan datang silih berganti.

Belum juga terlepas dari masalah yang satu, masalah baru sudah bermunculan. Hanya dalam hitungan bulan sikap nenek berubah, mungkin kerena depresi atau tidak kuat merasakan beratnya kehidupan. Entah kerasukan setan dari mana, beberapa kali ia mencoba membunuh kami. Sebilah pisau menjadi senjata andalannya, siap dihujamkan ke leher kami ketika ketidakwarasannya datang lagi. Takut hal buruk terjadi, saudara-saudaraku pergi meninggalkan rumah satu per satu. Entah mereka diadopsi, ataukah mereka ke rumah keluarga yang lain, aku tidak tahu. Begitulah cerita yang aku dengar dari orang-orang sekitar. Hingga hanya aku yang berdiri di sini, menatap rumah kosong dan tak terawat tiap harinya.

Di sini, aku dirawat oleh keluarga yang serba kekurangan. Membentuk kepribadianku menjadi pekerja keras. Di usia sekecil itu aku sudah belajar mencari nafkah. Tiap pagi aku ke rumah salah seorang warga, mengambil “es lilin” dan menjajakannya kepada warga kampung sebelah. Aku bersama anak-anak lainnya harus berjalan kaki berpuluh puluh kilometer. Bahkan jika pembeli sepi, kami terpaksa berenang menyeberangi sungai. Kalau sudah sampai di desa seberang, barang apapun pasti akan habis terjual. Hanya itu yang bisa aku lakukan. Tubuhku masih terlalu kecil untuk melakukan pekerjaan orang dewasa. Tapi setidaknya uang yang kudapatkan disimpan untuk kebutuhan sekolahku kelak.

Semakin besar, semakin bertambah pula kebutuhan hidupku. Kondisi ekonomi keluarga tempatku tumbuh semakin kritis saja. Penghasilan pas-pasan, semakin lama tidak cukup menghidupi kami. Tidak ada jalan lain, aku dikembalikan kepada keluarga ayah di Sulawesi Tenggara. Awalnya aku mengira akan sendirian di sana. Ternyata tidak, beberapa saudaraku juga tinggal di sini. Meski hidup dalam lingkaran serba kekurangan, setidaknya aku merasa bahagia bisa melihat saudaraku. Melihat senyumannya, membuatku lupa pada semua jeratan rantai kemelaratan.

Badai Belum Berlalu

Setahun telah berlalu, tiba saatnya aku mengenyam indahnya dunia pendidikan. Meski serba kekurangan, kakakku tidak ingin melihatku tidak bersekolah. Uang yang seharusnya dipakai untuk keperluan rumah tangga, sebagian dipakai mendaftarkanku di sekolah dasar. Aku masih ingat saat itu, saat di mana kami hanya mengisi perut dengan memakan nasi dan gula merah. Kebetulan di daerah ini, alam menyediakan bahan pembuat gula merah yang melimpah.

Pagi-pagi sekali aku harus berangkat ke sekolah. Melewati pantai dan berenang menyeberangi sungai. Itulah jalur yang harus aku lewati setiap berangkat dan pulang sekolah. Wajar jika di sekolah, waktu sedetik pun sangat berharga untuk belajar. Bahkan, tidak jarang pelajaran kelas 2 dan 3 pun aku pelajari. Sayang, ini hanya berlangsung selama setahun. Setelah itu aku tidak ke sekolah lagi. Raporku ditahan karena aku belum membayar uang sekolah. Semangat belajarku pun kendor seketika. Ingin berteriak kencang, sambil “mendemo” Allah pada garis takdir-Nya padaku.

Setengah tahun kemudian, aku kembali ke kampung di mana aku dilahirkan. Seperti barang titipan, aku diantar naik ke atas kapal, dan katanya di sana akan ada yang menjemputku. Aku hanya diam, dan tak ingin lagi berkata apa-apa. Mau dibawa kemana pun aku sudah siap. Begitulah pikiranku saat itu.

Sesampainya di sana, betapa terkejutnya saat aku melihat seorang wanita paruh baya tiba-tiba memelukku dengan erat. Spontan air mataku pun mengalir begitu deras. Tak terbendung lagi, dan tanpa sadar bibir ini pun tegerak dan memanggilnya. “Ibu…” Begitu nada terucap dari bibirku saat memeluknya. Kurasakan hangatnya kasih sayang mengalir keseluruh tubuh. Seakan tak ingin kulepaskan lagi.

Seperti angin lalu, kebahagiaan itu datang hanya sementara. Ibu datang menjengukku, menitipkan uang, lalu pergi meninggalkanku lagi. Ya, mau apa lagi, inilah nasibku, harus aku hadapi, karena tiada guna jika terus kuratapi. Tekadku sudah bulat, ingin mengembalikan kejayaan keluargaku dan berkumpul kembali dengan ayah, ibu dan kakakku.

Saat ini aku sudah tinggal di rumah, bersama 2 orang kakakku yang juga masih sangat belia. Alam telah membentuk kami menjadi kuat. Tidak ada kata bermanja-manja dalam kamus kami. Masa kanak-kanak yang seharusnya dihabiskan untuk bermain, kami habiskan untuk mencari nafkah dan belajar menabung untuk masa depan. Di situlah aku menjadi anak rimba. Tiap malam dan setiap pulang sekolah menelusuri hutan-hutan di kampung, mencari buah-buahan yang jatuh dari pohon.

Mulai dari kelapa, mangga, jambu, dan sebagainya kukumpulkan. Paginya aku jajakan di sekolah dan ke warga kampung. Dari situlah aku mendapatkan uang untuk makan, selebihnya kusisihkan sebagai tabungan sekolah. Barang jualanku pun selalu habis. Tidak sedikit mereka membeli hanya karena merasa iba. Bahkan tidak jarang mereka memberikan uang berlebih padaku. Ingin menolak, tapi memang aku membutuhkannya. “Suatu saat, aku akan membalas kebaikan kalian,” ucapan yang terus membayangiku hingga kini.

Di sini juga kami belajar untuk irit. Sehari-hari kami hanya makan bubur, biar lebih enak ditaburi dengan garam. Sedangkan air berasnya dijadikan pengganti susu. Sesekali juga kami makan ubi. Tanaman itu banyak dijumpai di halaman rumahku.

***

Begitulah rutinitas hidupku hingga ayah keluar dari penjara. Ibupun sudah kembali ke rumah. Sayangnya, kami masih belum berkumpul sebagai keluarga yang utuh. Di rumah ini hanya ada aku, ayah, ibu, dan seorang saudara laki-lakiku. Masih ada 5 saudaraku lagi yang belum aku tahu dimana mereka berada. Aku yakin, cerita dan perjuangan mereka bakal sama bahkan lebih parah dari yang aku alami. Kami berjuang untuk bertahan hidup dengan segala keterbatasan yang kami miliki.

Tahun 2001 aku melanjutkan pendidikan menengah tingkat pertama. Uang pendaftaran aku dapatkan dari hasil kerja keras kakakku. Ia mengorbankan masa depannya dan meletakkannya di bahuku. Itulah hasil kesepakatan kami. Kalau bukan aku maka kakakku. Salah satu dari kami harus membantu ayah mencari nafkah. Nilai ujian akhirlah penentu kelanjutan sekolah kami. Kebetulan, nilai ujianku lebih tinggi darinya. Dia mendapat peringkat dua setelahku saat penentuan kelulusan. Sebagai konsekuensinya, ia harus menyekolahkanku.

Sebagai imbalannya, aku harus memperlihatkan nilai raportku, bertuliskan peringkat 1 tiap semesternya. Itu akan membuatnya bangga karena telah menyekolahkanku. Pagi-pagi sekali aku harus bangun, dan berangkat ke sekolah. Menempuh jarak berkilo-kilo meter dengan berjalan kaki. Uang jajan pemberiannya aku tabung. Setidaknya dapat aku gunakan untuk keperluan sekolahku. Sepulang sekolah, aku mencari kesibukan yang menghasilkan uang. Keluar masuk hutan mencari buah-buahan, lalu menjualnya ke warga kampung. Beasiswa sekolah pun tak luput dari bidikanku. Ini semua aku lakukan agar dapat mencapai cita-citaku. Aku ingin menjadi seorang dokter dan mengembalikan masa kejayaan keluargaku.

Tahun 2004 aku lulus dengan nilai tertinggi. Namun ini bukan jaminan bahwa aku sudah pasti masuk SMA dengan mudah. Tidak ada pengecualian. Sama seperti lainnya, aku harus mengikuti tes untuk mengamankan satu kursi di sekolah itu. Seharusnya ini menjadi hal mudah bagiku. Bahkan semestinya aku berada ditataran kelas unggulan. Namun, Allah punya rancangan lain. Hasil ujianku tidak memuaskan, hingga aku tidak masuk kelas unggulan. Bahkan nilai tesku hampir menjadi yang terbawah, mungkin karena aku kelelahan. Malam sebelum tes aku menelusuri hutan sangat jauh, mencari buah-buahan untuk aku jadikan lembaran rupiah.

Tapi tidak masalah bagiku. Setidaknya aku bisa lolos dulu. Kursi kelas unggulan akan menjadi bidikanku di semester berikutnya. Semester genap daftar peserta kelas unggulan sudah diumumkan, ternyata keberhasilanku di kelas ini tidak sendiri. Hampir setengah siswa di kelasku migrasi ke kelas unggulan. Sejarah terukir ketika kami berhasil menggeser setengah dari mereka di kelas unggulan. Citra kelas kami memang sangat baik. Bahkan banyak guru lebih suka mengajar di sini dibandingkan di kelas lain. Itu karena kami selalu belajar bersama saat di kelas maupun pulang sekolah.

Aku berhasil mengamankan satu kursi di kelas unggulan. Namun, gelar terbaik tidak lagi aku capai di sekolah ini. Aku selalu menjadi yang ke dua, dan hanya sekali menempati posisi teratas di sekolah. Seperti biasa, beasiswa prestasi juga terus mengalir ke sakuku tiap semesternya. Lanjut tidaknya aku di sekolah ini bergantung pada pencapaian prestasiku semester ini dan aku selalu memanfaatkan waktu luang untuk belajar. Tidak hanya itu, Aku juga menempa diri dengan terlibat dari berbagai organisasi sekolah. Mulai dari pramuka, PMR, karya ilmiah remaja, dan berujung sebagai ketua majelis perwakilan kelas.

Pengetahuan komputer dan bahasa Inggris pun tak menghalangi keterbatasanku. Tiap ada waktu luang, aku memanfaatkan menggunakan fasilitas sekolah. Bahkan aku dan teman-teman menggagas komunitas bahasa Inggris untuk mengembangkan kecakapan kami dalam berbahasa Inggris. “Mulai dari Nol” begitulah aku. Bermodalkan tekad dan teman, aku menempa diriku, hingga satu demi satu prestasi kuraih. Juara 3 lomba pidato bahasa Inggris, juara 2 lomba baca puisi, menjadi duta baca sekolah, hingga juara 1 lomba olimpiade astronomi di tingkat kabupaten. Uniknya, prestasi itu dari bidang yang berbeda beda. Kerasnya kehidupan membuatku kokoh menghadapi tantangan. Bagiku lomba-lomba ini menjadi batu loncatanku untuk berkreasi di tingkat tertinggi.

Memasuki semester ganjil kelas 3 hembusan angin segar kembali menerpaku. Kabar baik datang dari bagian kemahasiswaan, aku terpilih sebagai kandidat yang akan bersekolah di SMA kelas khusus LPMP Sulawesi Selatan. Pucuk dicinta ulam pun tiba, ini adalah salah satu batu loncatanku untuk berprestasi lebih. Bagaimana tidak, di sana orang berprestasi se-Sulawesi Selatan akan berkumpul. Mereka memperebutkan 40 kursi dan bersaing menjadi yang terbaik mewakili sekolah masing-masing. Sayangnya aku harus berjuang keras untuk sampai di sana tanpa sepengetahuan keluarga, karena memang waktu itu hanya aku yang tinggal di rumah. Aku pergi meninggalkan kampung halamanku, menuju kota Makassar.

Selama 2 hari mengikuti tes, mulai dari tes kemampuan akademik hingga interview kujalani. Dan saat pengumuman tiba hanya ada 29 siswa yang berhasil mengamankan kursi di sekolah ini. Dan aku adalah siswa ke-29 dalam urutan absen tersebut. Begitulah campur tangan Allah dalam perjuangan garis hidupku. Dari sebuah desa kecil, hingga nasib membawaku menapakkan kaki di sekolah unggulan kota Makassar.

Namun hidup memang tak pernah lepas dari masalah. Baru mendapatkan kabar gembira, sekelumit masalah mulai berdatangan. Sehari setelah pengumuman, siswa sudah aktif belajar. Sementara aku belum ada persiapan sama sekali. Jangankan untuk belajar, tempat tinggalpun aku masih belum punya. Kebetulan di tahun itu asrama sedang direnovasi. Tidak ada jalan lain kecuali biaya asrama diserahkan kepada kami untuk mencari tempat tinggal sendiri. Sempat menumpang di tempat orang tidak aku kenal selama beberapa hari. Hingga akhirnya aku menemukan pondokan sederhana. Di sinilah aku akan tinggal setahun lamanya.

Tak terasa, hampir tiga tahun kulalui pendidikan di sekolah ini. Menjelang ujian nasional, penyakit galau semakin menumpuk di dalam dadaku. Kulihat teman-teman semakin sibuk mempersiapkan kelanjutan mereka di perguruan tinggi. UI, ITB, ITS, UGM, dan berbagai universitas ternama lainnya menjadi bidikan. Kalau yang di UNHAS kebanyakan diantara mereka memilih fakultas kedokteran dan teknik.

Kalau bertanya padaku, aku katakan teknik elektro. Itulah satu-satunya jurusan yang aku tahu disana. Tempat kakakku dulu gagal mencapai impiannya. Pintar bukan berarti mudah untuk berhasil. Tumpukan piagam penghargaan, sertifikat, tak menjadi jaminan impian akan tercapai. Terlebih biaya kuliah yang kuketahui untuk kuliah di universitas tidaklah kecil. Kini keputusasaan semakin menjadi-jadi dalam diriku. Bayangan masa depan suram pun semakin sering tampak didepan mata. Sempat frustasi, keimananku terguncang. Dalam tiap doa-doaku senantiasa bernada frontal terhadap kekuasaan Allah. Mungkin ketakutan telah mengalahkan kesabaranku. Saat usaha, kerja keras, serta tetesan keringat dan air mataku harus berakhir dengan kegagalan. Seakan menuntut ketidakadilan Allah dalam mengatur nasib hamba-Nya.

Spontan badanku lesu, dadaku rasanya remuk, sedangkan di leherku terasa ada batu yang mengganjal. Begitulah hari-hari di penghujung masa-masa SMA aku lalui. Tebayang saat-saat aku menerima banyak penghargaan, menjadi bintang dan idola di sekolah. Indah, juga melenakan. Lalu terlintas pikiran masa depan suram. Ingin rasanya aku berteriak. Lari dari kehidupan. Ingin rasanya kulemparkan semua piagamku, bersama beratnya bayangan kelam masa depanku. Sempat juga Setan berbisik dikupingku, membujuk untuk segera mengakhiri hidupku. Sabagai bukti pemberontakanku pada nasib yang Allah takdirkan. Namun semuanya itu kembali hilang dan reda saat air wudhu membasahi wajahku meski tetesan air mata terus mengalir saat aku mengadu pada-Nya.

Secercah Cahaya

Meski buruk, merasa terpuruk, tapi waktu terus berjalan. Tak pernah berhenti dan bertanya, apa aku baik-baik saja. Menjalani sisa waktuku di sekolah ini tanpa senyuman lagi. Banyak yang menegurku dan berusaha menghiburku. Namun, tetap saja luka hati tak terobati. Semakin kuingat, semakin deras air mata ini mengalir. Tapi tak seorang pun yang tahu tidak juga teman dekatku. Hingga suatu hari, sehabis meng-copy ijazah SMP. Kulihat selebar kertas terselip di antara kopian ijazahku. Kubaca dengan seksama, tulisannya Beastudi ETOS. Semakin kubaca, rasa optimis semakin tumbuh dalam diriku. Mungkin inilah yang dinamakan keajaiban. Allah membukakan jalan-Nya untukku. Dari sisi yang benar-benar tidak terduga. “Hati yang seakan mati, kini gairah kembali” Potongan syair lagu, spontan terbesik di kepalaku. Meski belum lolos, setidaknya kulihat cahaya terang mulai menyinari suramnya masa depanku. Setidaknya aku mencoba, daripada aku gagal sebelum mencoba. Kalaupun gagal, pasti ada jalan lain yang Allah sediakan untukku. Atau setidaknya aku akan menyesal seumur hidup karena tidak mencobanya.

Begitulah kilasan perjuanganku hingga masuk ke perguruan tinggi. Ditopang oleh Beastudi ETOS bukan hanya dari sisi finansial, aku juga dibekali soft skill yang mumpuni membuatku semakin percaya diri menghadapi tantangan kehidupan. Akulah mutiara itu. Berasal dari daerah pesisir, namun bernilai jual tinggi. Mutiara tak nampak karena berdebu.  ETOS lah penggerus debu-debuku. Membersihkan hingga aku berkilau kembali. Saat orang memandangku sangat berharga, dia juga membekaliku dengan sikap rendah diri.

Aku baru saja mulai menuliskan tinta emas dalam sejarah hidupku. Hidup mandiri, itulah tahapan awal di titian asa hidupku. Bergelut di dunia profesionalisme keilmuan, begitu sumbangsihku membangun negeri saat ini. Aku tidak lupa tujuan yang ia tanamkan dalam hatiku. “Memutus rantai kemiskinan” Itulah  cita-citaku. Harus aku mulai dari tahapan terkecil. Berbuat semampuku, bertekad kelak benar-benar menjadi panitia orang sukses. Jalanku masih panjang, mimpi-mimpiku masih terlihat di atas tangga harapan. Yakin, suatu saat itu akan terwujud.

Untukmu yang hidup dalam keterbatasan, jangan pernah lelah untuk berharap. Bulatkan tekadmu untuk terus berusaha, ajukan proposal hidupmu pada Sang Pembuat Takdir. Jika memang engkau harus menangis, menangislah. Namun jangan pernah membuat langkahmu terhenti. Ingat, seburuk apapun kondisimu, engkau tidak sendiri. Setidaknya ada kami, yang telah melewati fase sepertimu. Optimislah pelangi harapan akan terbit di atas titian asamu. Tetesan air matamu akan berganti senyuman saat impianmu telah tercapai. Yakinlah, “Impian itu Nyata”.


***


Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044
SHARE