Nasionalisme dalam Bingkai Globalisasi

0
357

Oleh : Khairunnas, Universitas Sriwijaya

Ini adalah era dimana semua orang berteriak tentang kebebasan, mengkampanyekan tentang HAM, dan era dimana semua gerakan – gerakan menghimpun jalannya sendiri. Dimana – mana dari semua golongan dan tingkatan usia menyuarakan kesamaan hak, ingin diperlakukan sama layaknya Prinsip Pancasila sebagai dasar negara. Meskipun tak dapat dipungkiri bahwa negeri nusantara ini sungguh mengalami dinamika yang hebat, keberagaman yang bila tak dibatasi tentu akan membunuh, atau bahkan saling menyingkirkan satu sama lain. Tapi, tentu tak hanya itu, bangsa ini juga bisa menjadi peradaban yang sempurna karna komposisi perbedaan yang luar biasa yang dimilikinya.

Euforia kemerdekaan adalah momentum kebangkitan yang dirindukan, Bhineka Tungga Ika pernah menjadi slogan pemersatu bangsa sehingga cita – cita kemerdekan ingin diperjuangkan bersama. Momentum yang benar – benar luar biasa, perbedaan bahasa, suku, kulit, agama dan budaya menjadi satu kesatuan bernama nusantara. Setelahnya semua orang seolah tergerak tanpa ingin pamrih, hanya atas dasar solidaritas dan kecintaan terhadap bangsa dan semua yang memilikinya. Tapi merebut merdeka tentu tak semudah itu, karena merdeka yang utuh hanya akan diraih bila semua sudah sejahtera, dan sejahteranya bangsa ini membutuhkan perjalanan yang sangat panjang, atau Soekarno bilang ini tentang tantangan mengisi kemerdekaan.

Pasca pemerintahan negeri ini berjalan, perbedaan seolah menjadi musuh dan pembatas golongan, semua mengusung kepentingannya masing – masing sehingga perpecahan secara perlahan menjadi pilihan satu – satunya. Diawal kemerdekaan isu agama menjadi polemik yang sulit dipecahkan, kebebasan golongan berbenturan dengan ideologi pancasila yang telah diputuskan sebagai dasar negara Republik ini. Undang – undang HAM diusung sebagai pembelaan, komunis lahir sebagai alternatif gerakan politik yang seolah membuka tangan untuk semua kalangan. Negeri bergejolak, terjadi penumpasan dan pembantaian terhadap bangsa sendiri. Ada yang merasa HAM telah dirampas, tapi golongan yang lain merasa ini adalah pilihan yang harus diambil untuk keberlanjutan pancasila.

Transisi dari orde baru ke orde lama menjadi saksi bersejarah bahwa gerakan politik justru lahir dari latar belakang agama yang membentuk basisnya masing – masing. Gerakan – gerakan agama dikemas dalam organisasi – organisasi eksternal yang menjadi basis partai –partai politik penguasa. Lalu dalam perjalanannya menjadi kekuatan yang sungguh mendarah daging dan tidak bisa lagi dipisahkan dari tubuh bangsa ini. Dan terus tumbuh dan berkembang, bahkan sampai reformasi diputuskan sebagai tujuan pergerakan pada masa otoriterisme orde baru.

Pada tahun 1970-an pembangunan merebak menjadi sebuah senjata politik yang dimasukkan dalam agenda kesejahteraan, kebutuhan akan modal luar negeripun diusahakan sebagai kekuatan penyokong kekuasaan. Modal luar negeri diambil sebanyak – banyaknya, dan investasi menjadi harta politik yang maha penting dimasa itu. Gerbang Imprealisme modern pun dibuka, Globalisasi pada akhirnya menjadi instrumen ekonomi dunia yang sangat berpengaruh terhadap semua sektor.

Tanah air bergejolak, globalisasi yang melaju dengan sangat cepatnya menimbulkan masalah ditengah membengkaknya hutang luar negeri. Nilai rupiah melemah, krisis menghantui perekonomian diseluruh penjuru tanah air. Daerah – daerah angkat bicara, mereka mengkritisi tidak adanya keadilan pemerintah pusat dalam pemerataan pembangunan didaerah – daerah. Basis – basis gerakan pun dibangun, mosi tidak percaya terhadap pemerintah terus disuarakan dengan lantang. Ditengah polemik ini, basis penyokong kekuasaan (investor) mencoba mengambil peran, tentu untuk mengamankan investasi mereka ditanah air. Primordialisme menjadi senjata pamungkas pemilik modal, politik pecah belah pun menjadi opsional yang sangat menguntungkan.

Indonesia merupakan negara yang banyak berdinamika dengan keberagaman agamanya, sehingga dari dulu hingga sekarang isu radikalisasi agama selalu dijadikan isu pecah belah yang diusung, yang berakibat disetip fenomena yang terjadi republik ini selalu dihubung – hubungkan dengan isu agama. Beberapa golongan terpancing, alhasil terorisme pun diidentikkan dengan salah satu agama. Beberapa golongan yang lain merasa dimarginalkan dan merasa tertindas, memintak kesamaan hak, dan ada pula yang justru menyerang balik lalu mengkampanyekan isu negatif terhadap agama yang lain.

Keberadaan nasionalisme dan kesepahaman terhadapnya menjadi harta karun yang sampai hari ini belum ditemukan lagi, semua orang sibuk dengan kepentingan golongannya masing – masing. Diantara mereka ada yang dijadikan boneka dan senjata globalisasi untuk menyelamatkan kepentingan tertentu, lalu pemilik modal duniapun terus bersiasat guna mengembangkan penguasaannya terhadap dunia. Konfrontasi uang ala pemilik modal terus terjadi, basis – basis perekonomian terus coba dikuasai, tentulah semua cara ditempuh, bila tidak mau dibuang dari kompetisi globalisasi. Maka bila semangat kemerdekaan dulu pernah diraih dengan semangat perbedaan, kini saatnya semangat itu tumbuh kembali, bukan gerakan agama, budaya atau sejenisnya, tapi semangat nasionalisme dalam bhineka tungga ika yang akan menjadi benteng yang sangat kuat untuk bangsa ini.

BAGIKAN

LEAVE A REPLY