Nawacita: Lanjutan Trisakti yang Tak Tertata

504

Oleh: Eka Anzihory.

Nawacita lahir dalam keadaan yang sama seperti konsep Trisakti di zaman Soekarno. Lahir di tengah-tengah krisis mentalitas yang menerpa bangsa Indonesia. Koentjaraningrat menganalisis bahwa krisis mentalitas itu bersumber pada kehidupan tanpa pedoman dan tanpa orientasi yang tegas. Sehingga menghasilkan mentalitas penerabas, mentalitas yang suka meremehkan, kurang percaya diri dan mentalitas yang suka mengabaikan tanggung jawab (Koentjaraningrat, 2000).

Jokowi yang gelisah menangkap fenomena ini, kemudian menanggap bahwa reformasi yang menumbangkan rezim Orde Baru ternyata adalah baru sebatas melakukan perombakan yang sifatnya institusional dan belum menyentuh paradigma, mindset atau budaya politik. Oleh sebab itu, Jokowi mencanangkan revolusi mental untuk melakukan terobosan politik. Jika Nawacita merupakan program inti atau tujuan dari pemerintahan Jokowi maka revolusi mental adalah paradigma berpikir atau cara berpikir dan bertindaknya pemerintahan Jokowi.

Lantas, apakah Nawacita benar merupakan perpanjangan dari Trisakti ?

Sudah lebih dari 365 hari sejak ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) setahun yang lalu (10/2014), bahwa kursi kepemimpinan Republik Indonesia dipimpin oleh Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Pasangan dengan segudang janji-janji politiknya di masa pra pemilihan Presiden, digadang-gadang oleh sebagian masyarakat sebagai sosok yang lahir dari rakyat dan akan mampu mengeluarkan Indonesia dari jurang keterpurukan. Nawacita kemudian disusun untuk menunjukan prioritasnya dalam jalan perubahan menuju Indonesia yang bedaulat secara politik, mandiri dalam bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Lantas bagiamana hasilnya Nawacita ?

Bukannya menjadi terusan mulia dari konsep Trisakti, nyatanya Nawacita lebih mirip dengan cita-cita yang tak tertata, seperti kebingungan bagaimana menggapai substansi nyata dari harapan yang ada dalam Nawacita. sembilan program yang menjadi andalan Nawacita rasanya tak bisa berbicara banyak dalam setahun keberjalannya bersama bangsa ini.

Kemandirian di bidang ekonomi yang tertuang nampaknya hanya akan menjadi angan-angan, lantaran selama setahun ini pemerintah Jokowi-JK belum bisa mengendalikan perekonomian Indonesia dengan baik. Terbukti bahwa beberapa waktu terakhir ini, nilai tukar Rupiah terhadap Dollar mencapai titik terendahnya sejak setelah krisis moneter 1998. Diikuti Pelepasan harga bahan bakar minyak mengikuti mekanisme pasar, kenaikan tarif dasar listrik, pemutusan hubungan kerja secara besar-besaran. Maka di mana letak kemandirian ekonomi ?

Kedaulatan politik yang dijanjikan juga tidak menunjukan tanda-tanda perubahan sceara signifikan. Siapa yang hari ini tidak tahu terkait “papa minta saham?” Sebuah Drama Politik elit terhadap masalah “tanah emas”, menunjukan adanya pertentangan antara satu pihak dengan pihak lainnya dalam pemerintahan. Ketidakjelasan perpolitikan dan sistem hukum membuat hal tersebut bisa terjadi. Begitu juga dengan konflik kekuasaan dan kasus-kasus lain yang secara jelas mencerminkan Indonesia benar-benar tak mampu berdaulat secara politik.

Belum lagi jika berbicara terkait pribadi pemimpin Indonesia yang dinilai berbudaya, yang ada hanyalah identitas kebiasaan berupa kolusi, korupsi, dan nepotisme yang menjadi identik dengan budaya yang selalu melekat dalam pundak mereka. Jika pun ada kebiasaan lain atas nama budaya yang menjadi identitas pemimpin Indonesia saat ini, paling-paling tak jauh dari pelanggaran politik dan hukum. Jadi seperti inikah keberhasilan Nawacita? Lanjutan idealisme Bung Karno?

Nawacita [katanya] merupakan turunan dari ide Trisakti. sembilan program yang ada [katanya] ingin memperkuat kemandirian ekonomi dengan cara menggerakan ekonomi rakyat yang strategis dan memberikan perhatian kepada produk-produk Indonesia serta mendorong land-reform. Dalam bidang politik, [katanya] Nawacita menginginkan terciptanya negara kuat dengan melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum, memperkuat pertahanan maritim serta negara tidak abai dalam membangun tata pemerintahan yang demokratis dan melindungi seluruh rakyat Indonesia. Dalam strategi kebudayaan, [katanya] Nawacita secara jenius menyadari bahwa Indonesia dibentuk dari kolektivitas kebudayaan yang dibangun dari daerah-daerah, desa-desa kemudian menjadi Indonesia. Berkepribadian dalam kebudayaan dapat dicari dari khazanah kebudayaan Indonesia yang begitu luas bukan dari luar.

Dahulu konsep Trisakti runtuh di tengah jalan, akibat gejolak 1965 yang seketika pula menghancurkan mimpi-mimpi indah Soekrano terhadap pembangunan Indonesia. Lantas apakah Nawacita juga akan berakhir dengan cara yang sama ? Semoga saja Nawacita memang merupakan terusan mulia dari Trisakti, menyelesaikan apa yang dulu belum mampu tercapaikan oleh Trisakti. Kita harus mengawalnya, agar Nawacita tak menjadi lanjutan Trisakti namun tak tertata.

– Surakarta Desember 2015-


***


Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044
SOURCEfoto: nasional.kompas.com
SHARE