Optimiskah Indonesia Mencapai Kesejahteraan 2016 dengan Ekonomi Syariah?

440

Rabu, 23 Desember 2015, STEI SEBI yang memiliki visi terdepan dalam pengembangan ekonomi islam menyelenggarakan seminar Outlook 2016, untuk melihat dan mendiskusikan peluang dan tantangan pengembangan keuangan syariah di Indonesia kedepan. Seminar ini diselenggarakan oleh SEBI Islamic Business & Economics Research Centre (SIBER-C) dan Penerima Maanfaat Dompet Dhuafa.

Berbagai perspektif dibahas dalam outlook ini, mulai dari aspek ekonomi makro, keuangan Islam, juga dari sisi kebijakan publik Islam, seperti zakat dan tak lupa pembahasan pajak dan aspek bisnis sebagai pendukung utama perekonomian. Hadir dalam acara ini para pakar yang tidak diragukan lagi kapabilitasnya. Yakni Direktur Keuangan Syariah Kementrian Keuangan, Suminto; Presiden Direktur Dompet Dhuafa, Ahmad Juwaini; Ketua STEI SEBI, Asmeldi Firman; Peneliti SIBER-C, Aziz Budi Setiawan; dan Direktur IDEAS, Yusuf Wibisono; serta Rendi Saputra sebagai Sekretaris Jendral JPMI  (Jarigan Pengusaha Muslim Indonesia).

Dalam pemaparan Suminto, beliau mengatakan bahwa total penerbitan sukuk internasional dalam berbagai mata uang sampai dengan 6 November 2015 mencapai US$779,58 miliar, dengan total outstandingsebesar US$318,07  miliar. Indonesia, Malaysia, Bahrain, Saudi Arabia, UAE, Iran, Gambia telah menerbitkan sukuk secara reguler, baik domestik maupun internasional. Di Indonesia sendiri, sukuk yang sudah diterbitkan sejak tahun 2008 hingga tahun 2015 sebesar Rp. 386 triliun, termasuk Rp. 119 triliun yang terbit di tahun 2015.

Dari berbagai penelitian, potensi zakat yang ada di Indonesia bahkan mencapai angka Rp. 200 triliun, namun yang terealisasi hanya mencapai Rp. 30 triliun. Ahmad Juwaini lebih memaparkan tentang bagaimana dampak dari perubahan regulasi mengenai penghimpunan zakat yang dikeluarkan Pemerintah, terhadap Lembaga Amil Zakat dan Badan Amil Zakat Nasional. Diantaranya adalah jumlah LAZNAS yang berkurang akibat degradasi dan konversi, penghimpunan dana masing – masing LAZNAS yang seharusnya semakin besar, peran BAZNAS yang semakin signifikan serta tantangan efektivitas pemanfaatan zakat yang akan semakin besar.

Di samping itu, Azis Budi Setiawan mengatakan bahwa growthAPBN di tahun 2015 sebesar 5,7%, dan perekonomian di tahun 2016 secara global akan terlihat mengalami kenaikan. Namun kenaikan ini perlu diimbangi dengan tatakelola yang baik, untuk menghasilkan pertumbuhan yang optimal. Sebab di samping peningkatan, angka inflasi hingga kini masih bermain di angka 3% sampai 4%, yang merupakan angka yang cukup tinggi. Dan poin terbesar adalah inflasi pangan. Padahal, sektor pangan dan manufaktur merupakan tonggak utama perekonomian Indonesia. Jadi, di samping optimis, kita juga harus bersikap waspada terhadap perekonomian yang terlihat membaik ini. Jangan sampai, kenaikan ekonomi yang terjadi saat ini tidak terdistribusi secara merata, artinya hanya dirasakan oleh sebagian kalangan


***


Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044
SOURCEindorayanews.com
SHARE