Pasar Johar Kebakaran, Eksistensi Pasar Tradisional Semakin Memprihatinkan

304

Baru beberapa bulan yang lalu, Indonesia diguncang duka kebakaran Pasar Tradisional terbesar di Solo, Pasar Klewer. Meskipun pemberitaan sempat tenggelam,  duka yang tercipta hingga kini belum surut juga. Bahkan sebuah kejadian tragis kembali melanda, salah satu pasar tradisional yang sangat terkenal di kota Semarang, Pasar Johar, Sabtu (09/05) malam hangus terbakar. Pasar tradisional yang berada di pusat Kota Semarang dan  namanya cukup masyhur itu pun kini hanya menyisakan puing-puing bangunan. Pasar Johar merupakan  salah satu pasar tradisional yang menjadi salah satu identitas budaya dan ikon perekonomian Kota Semarang. Seorang budayawan sekaligus peneliti, Djawahir Muhammad dalam Liputan 6.com menceritakan tentang sejarah Pasar Johar. Berawal  pada tahun 1860,  banyak orang  berdagang di bawah deretan Pohon Johar, di depan penjara  sebelah timur alun-alun Semarang untuk melayani para keluarga tahanan yang menunggu jam besuk. Kemudian pada tahun 1933, Ir. Thomas Karsten, seorang arsitek Belanda, diminta oleh pemerintah kolonial Belanda mendesain pasar Johar sebagai pasar sentral. Hingga pada tahun 1955 pun Pasar Johar disebut sebagai pasar terbesar dan terbaik di Asia Tenggara.

Membaca beberapa filosofi pembangunan pasar ini pun, membuat saya cukup tercengang dan kagum. Pertama adalah arsitektur bangunan yang khas dan ramah lingkungan. Meskipun belum secara langsung mengunjungi pasar ini, saya cukup terpesona dengan gambaran ciri khusus arsitektur  pada bangunan pasar ini. Atap-atapnya terdapat kolom-kolom berbentuk seperti cendawan atau jamur, yang berfungsi sebagai tempat masuknya cahaya dan pertukaran udara. Konstruksi bangunan yang  ramah lingkungan dan sesuai dengan iklim yang ada di Indonesia. Kedua adalah aspek sosiologi yang dipertimbangkan untuk membangun pasar ini,   Meskipun arsitek berasal dari Eropa, namun Karsten sangat memperhatikan aspek sosiologis dan tradisi di Indonesia, yang mana pasar bukan hanya diperuntukkan sebagai tempat transaksi jual beli akan tetapi juga tempat bersosialisasi. Bahkan pada kala itu sudah dipertimbangkan bahwa sejak  zaman dahulu mayoritas pedagang adalah perempuan, bahkan tak jarang kuli panggul perempuan, sehingga dibuatlah lantai los pasar setinggi lutut orang dewasa, agar para pedangang perempuan maupun buruh gendong tak perlu mengangkat terlalu berat sebelum di gendong.  Meskipun seiring berjalannya waktu, kondisi semakin tidak terawat dan semakin sesak dipadati orang, menurut saya pasar ini memiliki sebuah sejarah yang sangat luar biasa.

Di tengah modernisasi di berbagai bidang, setidaknya kita bisa sedikit belajar dari pembangunan pasar ini. Orang  berkebangsaan Asing membangun Indonesia dengan memperhatikan kondisi, budaya dan sosial bangsa. Justru saat ini malah sebaliknya, banyak sekali orang-orang asli Indonesia yang menciptakan modernisasi mengikuti bangsa-bangsa Eropa. Hingga yang terjadi saat ini semakin banyak berdirinya gedung-gedung elit, gedung-gedung pencakar langit dan mall-mall besar yang semakin melupakan karakter bangsanya. Menjadi sedikit bahan renungan bersama, apakah benar-benar sudah luntur karakter luhur bangsa ini?

Kembali pada topik pasar tradisional. Hingga sejauh ini, kenyataan menunjukkan satu per satu pasar tradisional semakin kehilangan eksistensinya. Berdasarkan data dari Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI), jumlah pasar tradisional turun drastis dari 13.540 menjadi  9.950 dalam waktu 4 tahun (2007-2011). Beberapa pasar tradisional yang menjadi ikon perekonomian di kota besar seperti Pasar Klewer di Solo, Pasar Tanah Abang di Jakarta Pusat dan Pasar Johar di Semarang, yang awalnya sebagai titik penguatan eksistensi  pasar tradisional  sebagian hangus. Menjadi sebuah tanda tanya besar, mengapa akhir-akhir ini semakin banyak pasar tradisional yang tumbang akibat kebakaran? Serta menjadi sebuah bahan introspeksi bagi semua, bagaimana eksistensi pasar tradisional kedepan? Apakah salah satu identitas bangsa ini juga akan pudar terkikis  modernisasi?

Jika dalam 4 tahun saat masih memiliki beberapa pasar tradisional yang besar saja,  Indonesia kehilangan  sekitar 26% jumlah pasar tradisional, apalagi saat ini dengan kondisi kritisnya pasar-pasar tradisional yang cukup terkenal. Jika untuk membangun pasar permanen kembali dibutuhkan waktu 2 hingga 5 tahun, maka ke mana perginya pedagang-pedagang kelas menengah ke bawah yang mengalami kerugian cukup banyak akibat musibah itu? Ke mana pula perginya ribuan pengunjung yang biasanya melakukan transaksi di pasar tradisional?

Secara langsung maupun tidak langsung, Indonesia memang sedang digiring menuju  segala sesuatu yang sifatnya modern. ASEAN Economic Community (AEC) pun menjadi salah satu jalan perantaranya. Memang tidak semua modernisasi bersifat negatif, akan tetapi segala sesuatu yang berhubungan dengan menumbangkan karakter-karakter bangsa adalah hal yang harus kita sadari dan cegah bersama. Hari ini kita semua ditegur kembali dengan  tumbangnya  satu pasar tradisional sebagai salah satu identitas bangsa.  Maka hendaknya kita sebagai warga negara Indonesia tidak lantas acuh tak acuh terhadap fenomena ini.  Selain do’a yang terlantun untuk menguatkan para korban musibah ini dan do’a agar jalan keluar segera tercipta, tugas kita adalah menjaga nilai-nilai yang harus senantiasa terjaga. Beraksi mencintai budaya Indonesia, menularkan kecintaan itu pada sekitar kita.

SHARE