Pelajaran Sepuluh Ribu

382

Oleh: Dewi Citra Sari, Agronomi dan Hortikultura, IPB 2009

Bagi mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) yang masuk melalui jalur USMI (Undangan Seleksi Masuk IPB) pasti masih lekat kenangan saat matrikulasi. Yaitu sistem perkuliahan alih tahun untuk satu mata kuliah yang dilaksanakan dalam waktu satu bulan. Dalam masa matrikulasi inilah saya mendapatkan pesan pendek yang penting: “Kepada Dewi Citra Sari, selamat, Anda salah satu penerima Beastudi Etos Bogor 2009,” begitu isi pesan. Kendati singkat, pesan itu telah menghantarkan saya kepada perjalanan panjang.

Bak mendapatkan suplemen, kelesuan saya pada pagi hari sirna, berganti cerah dengan datang pesan itu. Sebelumnya saya agak muram karena gagal mendaftar beasiswa pada sebuah bank. Setelah membaca pesan itu, sejurus kemudian saya mengikuti panduan Dompet Dhuafa. Menghubungi contact person yang tertera dalam pesan itu.

Sebuah perkenalan singkat dengan pendamping baru dalam telepon waktu itu. Tak banyak yang beliau sampaikan, hanya perkenalan dan undangan untuk hadir dalam pertemuan perdana Etoser 2009 di mushala Asrama Putri IPB.

Hiruk pikuk masa pengenalan kampus masih sangat terasa. Penugasan yang menumpuk, teriakan yel-yel dan jargon, seragam putih hitam, pita di kepala, caping, simulasi aksi, dan teriakan-teriakan komandan disiplin yang sibuk merapikan barisan bahkan hingga kini masih teringat jelas. Dalam suasana orientasi itu, pertemuan perdana Etoser 46 dilaksanakan. Pertemuan waktu itu berlangsung singkat, hanya perkenalan dan penjelasan sekilas tentang Beastudi Etos dan Masa Ta’aruf Etos.

Diawal perkenalan disaat kami masih baru mengenal Etos, pertanyaan tentang komitmen kami untuk tetap bergabung dengan Etos dilontarkan. Hanya ada dua pilihan, tetap bergabung dengan Etos dengan konsekuensi wajib mengikuti segala bentuk pembinaan atau mengundurkan diri.

Saya menilai pertanyaan ini agak konyol. Tetapi aku hanya membatin. “Bukannya kami sudah diterima?” begitu kira-kira kegundahan. Pertanyaanku terjawab beberapa bulan kemudian. Ternyata seleksi alam itu berlaku, hanya Etoser yang berkomitmen tinggi yang bertahan menjadi Etoser hingga akhir periode.

Di Etos saya mendapatkan guru pendamping, namanya Rinjani. Dari dia kami diberi nama “17 Pearls”. Rinjani, seorang perempuan yang keibuan, berharap kami seperti mutiara yang tegar, kuat, dan selalu berharga di mata setiap orang meski awalnya hanya berupa sebutir pasir yang tak bernilai.

Sejak program Etos mulai bergulir regular, kesibukan saya hampir seperti rel kereta, panjang tak terputus. Dalam seminggu kami mendapat tujuh pembinaan. Lima kali digelar Senin hingga Jumat, pembinaan olahraga pada Ahad pagi dan pembinaan gabungan juga digelar pada Ahad. Ini adalah pembinaan yang cukup padat. Bagi mahasiswa baru di IPB, jadwal kuliah Senin-Jum’at ditambah tujuh kali jadwal pembinaan terasa sangat padat. Saat itu baru Beastudi Etos saja yang menerapkan pembinaan terstruktur bagi mahasiswa bimbingannya.

Hampir setiap Sabtu-Ahad, saya tak bisa berkegiatan di luar Etos seperti bermain dan kegiatan organisasi. Sulit bagi kami mendapatkan izin untuk tidak mengikuti agenda pembinaan tersebut. “Guru” Etosku memberlakukan prosedur perizinan yang cukup ketat. Tak jarang kami harus beradu argumen terlebih dahulu untuk mendapatkan izin. Mungkin hal ini yang membuat pembinaan Etos kami terkesan kaku.

Banyak alasan yang harus saya buat untuk tidak mengikuti kegiatan organisasi. Karena itu tidak sedikit teman yang menyimpulkan Beastudi Etos sangat mengekang dan tidak memberikan kami kebebasan. Sering saya mendapatkan masukan untuk keluar dari Beastudi Etos ataupun tanggapan negatif tentang pembinaan Beastudi Etos dan membandingkannya dengan beasiswa lain yang lebih fleksible. Tanggapan negatif tersebut bukan hanya tentang kegiatan pembinaan kami saja, tetapi juga pada pembinaan terkait dengan perilaku kami.

Sejak kami bergabung dalam Beastudi Etos, tata perilaku kami mulai diarahkan sesuai dengan ajaran Islam yang syar’i. Tata berpakaian kami, bergaul, dan berperilaku mulai diarahkan agar tidak melampaui batas-batas yang tidak diperbolehkan Islam.

Selain dua hal di atas, ada dua hal lainnya yang selalu ditekankan pada kami sebagai Etoser. Yang pertama adalah larangan merokok. Selain merugikan kesehatan, merokok juga hingga saat ini belum diketahui manfaatnya. Yang kedua adalah larangan untuk pacaran. Landasan larangan yang kedua ini pun cukup jelas. Dalam Al-Qur’an pun telah disebutkan bahwa seorang muslim harus menjauh dari perbuatan yang mendekati zina.

Itulah beberapa hal yang dianggap merupakan pembatasan yang sangat ketat bagi kami. Bukan sesuatu hal yang lumrah bagi sebuah lembaga beasiswa mengatur perilaku bahkan hingga tata berpakaian dan pergaulan penerima manfaatnya. Mungkin itu sebabnya, beberapa teman di sekitar kami yang belum cukup paham banyak berpikiran negatif terhadap lembaga beasiswa ini. Bahkan, ada beberapa diantara mereka yang membujuk saya untuk keluar dan membantu mencarikan beasiswa lain di luar Etos.

Layaknya mahasiswa baru yang baru saja mengenal dunia kampus, lugu, dan masih mudah terpengaruh, rasa tertekan pun mulai muncul. Tak mengerti apa yang harus kami lakukan, akhirnya kami menceritakan semua respon teman-teman tersebut kepada Rinjani. Beliau hanya menjawab: “Coba bandingkan antara respon negatif dan positif,” katanya.

Jawaban singkat, tetapi cukup menyadarkan kami bahwa masih banyak tanggapan positif dari berbagai pihak yang lebih baik kami dengarkan. Bagi orang-orang yang telah mengenal Etos secara menyeluruh dan mengetahui prestasi yang dihimpun penerima manfaatnya, tak ragu bagi mereka memberikan standing applause pada Beastudi Etos. Sebuah pelajaran bagi kami untuk tidak selalu memandang sesuatu hanya dari satu sisi. Lihatlah sebuah kejadian dari segala arah secara menyeluruh.

***

Sepuluh Ribu untuk Pulang

Seperti biasa, 17 Pearls tidak pernah punya hari libur. Senin sampai Jum’at kuliah. Sabtu dan Ahad, penuh agenda pembinaan Etos. Kadang rutinitas ini membuat jenuh.

Berbeda dengan weekend biasanya, akhir pekan ini sangat ditunggu. Alasannya ada kabar pembinaan Etos di minggu ini adalah melatih kecerdasan sosial Etoser dengan mengamati langsung realita di masyarakat. Artinya kita akan jalan-jalan. Kegembiraan itu bertambah ketika pembina kami Rifa dan Robbi mengatakan kalau ada sarapan gratis. Setelah prosesi sarapan terlewati, Mas Robbi membagi kami menjadi tiga kelompok.

Sebelum menjelaskan tugas kami di daerah sasaran masing-masing, tiba-tiba Mas Robbi mengeluarkan 3 kantong plastik dan 6 botol air mineral 600 ml. Tanpa basa-basi beliau meminta kami agar menyerahkan semua uang, ATM, HP, dan segala barang yang bernilai tukar. Yang boleh kami bawa hanya tas, buku, dan KTP.

“Kalian akan diantar ke tempat masing-masing dan dibekali dengan uang Rp 10 ribu dan dua botol air mineral untuk tiap kelompok. Wawancarai tiga orang dengan tiga profesi yang berbeda dan cari tau kondisi sosial mereka. Setelah itu, bagaimanapun caranya kalian harus pulang ke asrama Etos putra lagi jam 11 siang ini,” begitu Mbak Rifa menambahkan. Serentak Etoser menolak bersamaan. Tapi, Etoser menyerah kalah setelah Mbak Rifa mengancam menyunat uang saku.

Kelompok yang sudah terbagi diturunkan di lokasi berbeda. Kelompok pertama diturunkan di Pasar Anyar. Di lokasi kedua, Sempur, giliran kelompokku yang diturunkan. Saya ditemani Fajar, Ghulam, dan Tis’ah. Berhubung Ahad pagi ada Car Free Day jadi kami tidak diturunkan tepat di Sempur tapi di pertigaan sekitar 200 meter dari lapangan olahraga.

Jalan begitu ramai pagi itu. Begitu banyak orang dengan berbagi aktivitas yang kami temui hingga di suatu tempat kami tertegun. Seorang kakek tua dengan anggota badan yang tak lengkap mengadu sedih sambil menengadahkan mangkuk kosong. Saat itu kami tersadar bahwa sebagai muslim harus mempunyai kemandirian secara finansial. Dengan apa kita bersedekah kecuali dengan uang atau barang bernilai jual. Sedekah tak cukup hanya dengan senyum, tapi jangan salah, ya, jangan karena alasan ini, tak ada lagi yang tersenyum saat bertegur sapa. Memberi kebahagiaan kepada orang lain juga termasuk kegiatan yang disukai Allah.

Akhirnya kami sampai juga di Sempur. Kami berempat sempat terdiam menatap sekeliling mencari cara mendapatkan uang untuk pulang hingga akhirnya pandangan kami tertuju pada penjual es teh manis tak jauh dari tempat kami berdiri. Penjual es teh manis ini berbeda dengan pedagang pada umumnya. Beliau mengajak istri dan anak-anaknya untuk ikut berdagang.

Beliau juga tak menjual dagangannya sendiri. Ada beberapa orang yang kami lihat bergiliran datang dengan membawa nampan kosong dan kemudian kembali membawa nampan berisi enam cup teh manis dari tempat itu. Rupanya ada banyak orang yang membantu menjual es teh manis milik Bapak ini. Saat kami tanyakan kepadanya, Bapak penjual teh manis tersebut mengaku memberikan keuntungan 50:50 atau Rp. 1000,-/cup untuk semua orang yang mau menjajakan barang dagangannya.

Mendengar keterangan si Bapak tadi, langsung terpikir oleh kami untuk ikut menjajakan teh manis. Untuk dapat kembali ke Asrama Etos Putra, kami membutuhkan uang sebesar Rp20 ribu . Uang Rp10 ribu masih ada di tangan kami, berarti kami tinggal mengumpulkan uang Rp10 ribu atau menjual minimal 10 cup teh manis. Segera kami utarakan niat kami tersebut kepada Bapak penjual teh manis tersebut, dan si Bapak langsung menanggapinya dengan senang hati.

Kami pun mulai berkeliling lapangan Sempur untuk berjualan. Tak mudah berjualan diantara banyak orang yang sedang asyik dengan kegiatannya masing-masing. Tak jarang kami ditolak pembeli ketika menawarkan dagangan, sampai akhirnya kami bertemu dengan beberapa teman dari kampus yang juga sedang menjual baju bekas yang keuntungannya akan digunakan untuk membiayai kegiatan di kampus. Fajar memang selalu bertingkah kocak. Melihat teman akrabnya ada di sana, langsung ditawarinya teh manis. Bukan teh manis gratis tentunya, tetapi wajib membeli. Kasihan sekali harus jadi korban pemaksaan Fajar.

Setelah sekali lagi berkeliling, akhirnya kami dapat menjual 12 cup teh manis. Itu artinya kami mendapat keuntungan Rp12 ribu untuk kami pulang. Huft akhirnya kami dapat kembali pulang juga. Tapi, ternyata cerita kami tak cukup sampai di sini. Kami masih harus mewawancarai 3 orang dengan profesi yang berbeda. Ya sudahlah, karena kami juga sudah lelah akhirnya kami putuskan hanya mewawancarai penjual es teh manis itu saja.

“Bapak berjualan teh manis ini sudah lama pak?” Tanya Fajar mengawali pembicaraan. “Belum, nak. Baru sekitar 3 tahun Bapak berjualan di Sempur. Setiap hari Bapak berjualan di Pasar Anyar. Oh iya.. ini ambil satu gelas teh manisnya.. silakan diminum saja gratis,” jawab Bapak sambil memberikan teh manis.

Obrolan pun berlanjut dengan santai, Bapak juga banyak memberikan pelajaran hidup tentang keikhlasan dan kerja keras. Beliau berpesan agar kami menjaga salat dhuha dan tahajud agar Allah memudahkan setiap urusan dan rezeki. Karena asyik ngobrol, kami tak sadar kalau Ghulam sudah tidak bersama kami. Kami baru menyadarinya ketika dia datang dengan membawa sebungkus batagor yang katanya merupakan pemberian dari penjual yang diwawancarainya. Ya, sepertinya kami banyak mendapat rezeki hari itu, ongkos pulang cukup, es teh manis gratis, batagor gratis, dan ternyata si ibu diam-diam pergi dan membelikan kami sebungkus gorengan.

Dalam perjalanan pulang, tak henti kami bercerita tentang perjalanan kami di Sempur hingga tak terasa kami sudah sampai di depan gerbang Asrama Etos Putra. Ternyata kami adalah yang pertama sampai di tempat finish.

Empat cerita di atas adalah sepotong gambaran lima hal yang menjadi domain pembinaan di Beastudi Etos, yaitu: agama, sosial, akademik, entrepreneur, dan leadership. Sebuah sistem pendampingan objek beasiswa yang sangat terstruktur dan tentunya dikonsep dengan matang.

Seringnya terlibat dalam kegiatan sosial yang diselenggarakan baik oleh manajemen Beastudi ataupun Dompet Dhuafa terutama di bidang pendidikan, membuat ketertarikan saya pada dunia pendidikan membesar. Hal tersebut memperkuat motivasi saya untuk mewujudkan salah satu mimpi yaitu mempunyai sebuah yayasan atau komunitas yang bergerak di bidang sosial pendidikan.

Pada 2010 saya mulai bergabung dengan kementrian pendidikan BEM KM IPB dan 2011 kami berhasil membuat satu gerakan baru yang disebut dengan IPB Mengajar. Dengan wadah IPB Mengajar, kami dapat menyatukan sejumlah mahasiswa yang memiliki kepedulian yang sama terhadap dunia pendidikan dan bersama-sama kami menyusun konsep pendampingan sekolah.

Tujuannya sederhana, berbagi kepedulian, semangat, dan motivasi untuk terus belajar. Motivasi yang kami harapkan dapat menguatkan keinginan siswa SD binaan kami untuk terus belajar dan tidak putus sekolah. Motivasi yang kami harapkan dapat mengantarkan mereka menjadi generasi yang cerdas. IPB Mengajar adalah sebuah gerakan yang kami harapkan dapat menjadi langkah kecil kami untuk negeri. Inspirasiku bersumber pada Surat Al-Alaq ayat 1-5: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari (sesuatu) yang melekat. Bacalah!, dan Tuhanmu Yang Paling Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Saat saya menulis memoir saya sedang menempuh semester 3 pendidikan Pascasarjana IPB di program studi Pemuliaan dan Bioteknologi Tanaman. Tak terbayang saya bisa menggapai strata ini. Penempaan selama tiga tahun di lingkungan Beastudi Etos mengantarkan saya pada fase ini. Berhasil mendapatkan beasiswa S2 pada program fast-track dan berharap mendapat gelar Magister sebelum genap berumur 23 tahun.

SHARE