Pemimpi Luarbidahsyat

596

Mimpi adalah kunci 
Untuk kita menaklukkan dunia
Berlarilah tanpa lelah
Sampai engkau meraihnya

Begitulah sepenggal lirik soundtrack film Laskar Pelangi. Lirik lagu ini mungkin tepat untuk menggambarkan kekuatan impianku, seorang pemuda dari desa terpencil di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Satu persatu, mimpi demi mimpiku kini telah terwujud.

Namaku Aris Setyawan, kenangan sebelas tahun lalu begitu membekas di ingatanku. Tahun 2002, layaknya anak-anak lain sebayaku, setelah lulus SMA aku berkeinginan kuat untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Kuutarakan keinginanku kepada orang tuaku, tapi mereka hanya terdiam. Diamnya mereka adalah sebuah jawaban bagiku. Itu artinya mereka tak punya uang untuk membiayai kuliahku. Jangankan untuk biaya kuliah, untuk kebutuhan sehari-hari saja mereka kesulitan.

Sebuah kampus pertanian di Jawa Barat adalah mimpiku ketika itu. Kupendam dan tanamkan dalam hatiku, kutancapkan kuat-kuat dalam pikiran, dan dalam selalu kurapalkan. Hambatan yang menghalangi mimpiku saat itu justru membuatku semakin yakin akan meraih kemenangan di depan kelak.

Berbekal uang seadanya, kami—aku dan dua orang sahabatku—mengadu nasib ke Jakarta. Seminggu berada di Jakarta, kami kehabisan bekal, tak ada lagi uang yang tersisa. Kami pun berpikir keras, memutar otak bagaimana caranya agar bisa menyambung hidup di kota yang konon sangat kejam. Tak ada pilihan lain ketika itu, akhirnya kami bertiga menjadi kuli bangunan di daerah Kelapa Gading. Dari hasil kerja kami mulai pukul 8 pagi hingga pukul 5 sore, upah sebesar Rp 17.500 kami terima tiap harinya.

Hari-hari pertama begitu berat kami lalui. Kami harus berebut kardus untuk alas tidur. Sesekali harus tidur di emperan toko, atau di bedeng lantai 3 proyek, yang hanya berdinding triplek. Kehidupan sebagai kuli bangunan yang sedemikian berat, membuat kami bertiga ingin beralih profesi mencari pekerjaan yang lebih baik. Setelah gajian kami putuskan untuk melamar pekerjaan di perusahaan. Tapi sayang, nasib baik belum menghampiri, dan akhirnya kami harus kembali bekerja sebagai kuli bangunan. Selama menjadi kuli bangunan berbagai macam posisi pernah aku lakoni, dari mulai tukang bersih-bersih, kuli ngaduk, kenek hingga wakil mandor.

Satu tahun sebagai kuli bangunan ternyata tidak mengubah nasibku menjadi lebih baik. Berbekal uang hasil kerja sebagai kuli bangunan yang kukumpulkan, aku putuskan untuk pulang kampung dan membeli anak sapi atau pedet untuk dipelihara. Saat itu uang yang kumiliki hanya cukup untuk membeli sapi pedet lagi pincang seharga Rp 150.000,-. Tapi dengan sabar kubesarkan pedet kesayanganku itu. Setiap hari aku harus mencari rumput untuk memberi makan pedet dan membersihkan kotoran. Mimpiku masih belum hilang, di tengah kesibukanku memelihara pedet itu, aku berusaha menyempatkan diri untuk belajar dan berlatih mengerjakan soal-soal SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru).

Hingga suatu hari, aku menjual pedet kesayanganku seharga Rp 650.000. Uang itu kugunakan untuk mengikuti tes SPMB, dan sisanya kusimpan untuk keperluan yang penting. Syukur Alhamdulillah, betapa bahagianya aku, jerih payahku selama ini tidak sia-sia. Mimpiku terwujud, pengumuman SPMB yang kuterima menyebutkan aku diterima di IPB (Institut Pertanian Bogor), kampus yang kuimpi-impikan selama ini. Aku pun resmi menjadi mahasiswa IPB jurusan Teknik Pertanian tahun 2004.

Tapi kebahagiaan itu tak berlangsung lama, rasa khawatir dan bingung tiba-tiba datang menyergap, bagaimana aku membayar uang pangkal dan SPP kuliah? Lama ku terpekur, sejak awal orang tua sudah mengangkat “bendera putih” tak mungkin aku memaksa mereka mencari pinjaman sana-sini.

Kali ini aku tak mau mengalah dengan keadaan. Mimpiku sudah setengah di genggaman, bagaimana pun juga aku harus bisa kuliah. Berbekal buku dan baju seadanya, aku nekat berangkat ke Bogor, tempat di mana kampusku berada.

Sesampainya di kampus, bukan tempat pendaftaran ulang yang kutuju. Justru aku  langsung mencari informasi beasiswa. Maha Suci Allah, aku dipertemukan dengan Direktur Kemahasiswaan IPB, bapak Rimbawan, di Rektorat. Tanpa malu kunyatakan kesulitanku, kuyakinkan ia akan kesungguhanku berkuliah meski tak memiliki biaya. Setelah puas mendengarkanku, ia pun menyodorkan secarik kertas berisi informasi beasiswa dari lembaga zakat terkemuka Indonesia. Beastudi Etos namanya. Ia menyarankanku untuk mengikuti seleksi beasiswa tersebut. Tak menunggu waktu, segera saja kulengkapi persyaratan yang dibutuhkan untuk mengikuti seleksi.

Cukup panjang dan lama proses seleksi yang dilakukan, namun akhirnya semua itu berbuah manis. Aku dinyatakan berhak mendapat beastudi dari Dompet Dhuafa, sehingga aku bisa melanjutkan mimpiku, menjadi mahasiswa.

Aku sangat tertolong dengan beasiswa tersebut. Tahun pertama, Etos meng-cover seluruh biaya kuliah, kami juga diberi uang saku dan tinggal di asrama. Sebagai mahasiswa baru, aku merasa nyaman karena pembina Etos selalu membimbing kami dalam menjalani kehidupan baru di kampus. Tidak hanya dibimbing secara akademik, namun juga diberikan ilmu keagamaan, kepemimpinan, entrepreneur, sosial, dan berorganisasi.

Ketika duduk tingkat 2, aku dipilih sebagai ketua Beastudi Etos Bogor. Sejak awal kami diwanti-wanti, bahwa beasiswa yang kami terima tidak sampai akhir, olehnya sejak awal pula ditanamkan jiwa kewirausahaan kepada kami sehingga kelak ketika sudah tidak menerima beasiswa kami tetap bisa survive, melanjutkan kuliah. Oleh karenanya, aku juga mengajar privat, ikut acara bazaar, jualan bunga hias, Event Organizer (EO) sampai kerjasama dengan petani budidaya tomat buah untuk menambah penghasilanku. Dengan usaha-usaha itu, tidak hanya membantu orang tua di kampung, aku juga bisa membeli komputer dan sepeda motor di saat masih menjadi mahasiswa.

Hidup memang seperti roda, kadang kita berada di atas, kadang pula di bawah. Di akhir masa-masa kuliah, keluarga kami mendapat ujian. Bapak mengalami kecelakaan, hingga kaki kanannya patah. Semua tabungan yang kusiapkan untuk penelitian tugas akhir dan wisuda harus kukuras untuk membiayai pengobatan Bapak. Bahkan, aku tak lagi memiliki dana untuk membayar SPP semester terakhir. Sampai batas waktu yang ditentukan, aku juga tak bisa membayar SPP, aku tak sempat mencari uang lagi karena memang harus konsentrasi mengurus pengobatan Bapak di Kampung. Konsekuensinya, kampus pun menon-aktifkan statusku. Terpukul memang, namun aku harus tetap sabar menghadapi cobaan tersebut. Dan sejak saat itu praktis aku harus menjadi tulang punggung keluarga.

Allah tak pernah ingkar janji. Sebagaimana firmannya, dibalik kesulitan selalu terdapat kemudahan. Kali ini pertolongan Allah datang melalui dosen pembimbingku. Ia mengetahui aku dinonaktifkan setelah mendapat surat dari rektorat perihal diriku. Aku dipanggil untuk menghadap, kujelaskan semua kondisi dan permasalahan yang ada. Tanpa diduga dosen pembimbingku memberikan pinjaman untuk membayar uang semester, aku juga bisa melakukan penelitian dan menyelesaikan skripsi. Tak cukup sampai di situ, aku juga mendapat bantuan dana penelitian dari proyek penelitian yang sedang dikerjakan oleh dosen pembimbingku. Alhamdulillah, aku pun dapat menyelesaikan skripsi dan lulus menjadi Sarjana Teknologi Pertanian pada tahun 2008.

***

Itulah penggalan kisahku dahulu. Bagaimana aku sekarang? Bila pernah mendengar istilah Achievement Motivation Training (AMT), tentu Anda akrab dengan istilah trainer. Ya, aku memilih profesi sebagai trainer. Seorang motivator. Alhamdulillah sampai saat ini aku telah memberikan pelatihan kepada lebih dari 150.000 audien. Mulai dari pelajar, mahasiswa, guru, dosen, dan karyawan. Di sekolah dan kampus terbaik di Indonesia seperti UI, IPB, ITS, Unibraw, UNG, USU, bahkan lembaga pemerintahan, BUMN, dan beberapa perusahaan swasta di Indonesia.

Kalau dulu ketika kecil aku langsung lari keluar rumah ketika mendengar ada pesawat terbang mengudara di atas  langit kampungku, sekarang aku kerap kali berkeliling Indonesia dengan pesawat terbang.

Selain sebagai trainer, aku juga menjadi dosen di STIE Umar Usman, terapist “trauma healing, phobia, kecanduan”, dan penulis berbagai buku motivasi.

Mimpi. Itulah magnet kuat yang menarikku bisa menjadi seperti sekarang. Mimpi-mimpi yang ingin kucapai dalam satu tahun kutuliskan di atas kertas. Mimpi tahunan itu kuturunkan ke dalam mimpi atau capaian tiap bulan, kemudian mingguan, dan harian. Aku juga menuliskan 30 mimpi tiap tahun yang kini banyak tinggal coretan-coretan karena telah tercapai.

Mimpi untuk memutus tali kemiskinan keluarga. Mimpi untuk membahagiakan keluarga yang selalu menjadi pembakar semangatku. Kemana pun aku pergi aku selalu meminta doa restu kedua orang tua dan menyisihkan rezeki untuk mereka. Aku selalu berusaha membina hubungan baik dengan keluarga, rekan, maupun dengan klien. Dan belajar pada guru yang berkompeten itulah kunci keberhasilan. Memperbanyak silaturahim berarti memperbanyak rezeki.

Tak terbayang sebelumnya, tukang kuli ngaduk, kini menyandang gelar Sarjana Teknologi Pertanian, membagikan motivasi di berbagai wilayah di Indonesia, memiliki keluarga yang bahagia, rumah dan mobil yang mewah, dan itu semua didapatkan di saat masih muda.

Untuk menjadi mahasiswa berprestasi, tidak harus menyandang gelar Mawapres (mahasiswa berprestasi formal) di kampus. Ada banyak cara. Bisa menjadi entrepreneur, aktivis kampus, atau motivator, inspirator. Salam sukses dunia akhirat.


***


Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044
SHARE