[Pena Negarawan] Ironi Pendidikan Negeri Ini

0
1220

Oleh: Inggrit Fernandes, SH, MH.
(Wakil Dekan Fakultas Hukum Universitas Islam Indragiri Riau/Alumni Beastudi Etos Dompet Dhuafa 2004 Padang)

Disaat peradaban saat ini begitu mengenyampingkan nilai-nilai religius, disaat yang bersamaan tumbuh suburlah paham-paham baru yang menjadi idola bagi para perusak tatanan Bumi. Sebut saja hedonisme dan materialisme yang menjadikan seseorang begitu apatis dan materialistis. Segala sesuatu dinilai dengan materi dan kemewahan dan sering mengabaikan nilai-nilai yang begitu luhur yang sedari dulu sudah mengakar dalam karakter bangsa ini. Paham-paham baru ini mencetak generasi yang tidak lagi menghargai proses, mereka lebih tergiur dengan hasil. Meski, hasil yang mereka peroleh dengan menghalalkan segala cara.

Ujian Nasional (UN) merupakan salah satu perhelatan akbar tahunan dibidang pendidikan baik tingkat SLTA, SLTP, SD atau sederajat, tujuannya adalah bagaimana agar peserta didik mampu berkompetisi dengan tantangan yang diberikan yaitu berupa soal-soal yang menurut Menteri Pendidikan, kesanggupan dalam menjawabnya menjadi bukti dari proses belajar mengajar yang selama ini dilakukan. Dalam sebuah kompetisi, tentu ada yang menang dan kalah. Entah siapa yang menjadi pemenang dan entah siapa yang kalah, saat ini semuanya begitu abu-abu. Seakan saling membela diri dan ingin tampil segemilang mungkin. Menteri ingin dikatakan sukses dengan sistem yang ada, karena mampu mengecoh lawan (baca: siswa) dengan paket soal yang bejibun sehingga diharapkan tidak adalagi budaya mencontek. Peserta didik kalang kabut dengan taktik yang ada. Ibarat pertarungan dalam dunia persilatan. Jika murid tidak mampu mengalahkan lawan dengan jurus yang diwariskan sang guru, maka selanjutnya sang gurulah yang turun tangan. Ia mengeluarkan jurus pamungkas, karena ini adalah pertarungan nama baik perguruan. Ironi memang, pendidikan yang diharapkan mampu membentuk karakter sebuah bangsa dan pemutus kejahiliyaan menuju kedigdayaan, justru masih mempertahankan kejahiliyaan itu sendiri. Inilah musibah yang sebenarnya akan meluluhlantakkan kemuliaan dan cita-cita mulia negeri besar ini. Ada beberapa perumpaan bagi peseta didik dan pendidik (baca:pemain) yang membuat kita sulit menampilkan Fair Play dalam penyelenggaraan UN. Pertama, masih adanya pemain yang bertanding memperebutkan kemenangan di luar arena kompetisi yang telah disepakati untuk digelar. Bagi pemain seperti ini kita sarankan agar secepatnya mendaftarkan diri lalu bertanding secara jantan dan bermartabat. Kedua, kelompok pemain yang alergi jika lawannya bertanding dengan membawa bendera kejujuran. Bagi pemain seperti ini, enyahlah dari lapangan, karena tidak layak terdaftar sebagai pemain di negeri yang katanya mayoritas penduduknya beragama ini. Ketiga, pemain yang ingin memenangkan pertandingan, tetapi tanpa bermain optimal. Untuk yang seperti ini disarankan seriuslah berlatih dan junjunglah sportifitas.

Butuh waktu yang panjang untuk mengurai benang kusut yang ada dalam dunia pendidikan kita. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar ketidakberhasilan dalam proses pendidikan adalah disebabkan oleh sistem, pendidik, sarana dan prasarana. Pertama, Sistem, dalam hal ini perubahan kurikulum setiap saat akan berefek pada proses, munculnya ketidakjelasan, kebingungan dan kerancuan bagi peserta didik dan pendidik itu sendiri. Kurikulum pendidikan kita yang try and error sebenarnya merupakan tindakan malpraktik oleh pembuat kebijakan. Akibatnya melahirkan produk yang cacat. Kedua, Pendidik. Pendidik yang sukses adalah pendidik yang tidak saja memberi materi tetapi diharapkan juga mampu mentransfer nilai-nilai moral. Sehingga, peserta didik tidak kehilangan arah dan figur. Harus ada pawang yang mampu menjinakkan Jebakkan pemikiran liar tanpa kendali yang rentan melanda peserta didik pada masa pancaroba, itulah tugas mulia seorang pendidik. Ketiga, Sarana dan Prasarana merupakan alat yang mampu menjadi katalisator mutu pendidikan. Ini adalah tugas pemerintah untuk melengkapinya, tidak hanya di daerah yang mampu disorot media, tapi juga didaerah yang hanya mampu disorot oleh lampu-lampu dinding minyak tanah.

Ketika unsur-unsur yang menjadi syarat penjaminan mutu di atas sudah kita penuhi, maka berbangga hatilah, sebab, generasi kita kelak akan menjadi generasi yang berpikir intelek, berakhlak mulia dan bertindak profesional. Wallau’alambishowab.

BAGIKAN

LEAVE A REPLY