Pesona Budaya Suku Baduy

1720

Oleh: Eka Anugrah.
Baktinusa Angkatan 5, Universitas Padjadjaran

Negeri ini begitu kaya akan warisan budayanya, terhampar luas dari ujung barat hingga ujung timur, juga membentang dari ujung selatan hingga ujung utara. Itulah Indonesia, negeri yang dilintasi garis khatulistiwa dan berada diantara dua benua yaitu Benua Asia dan Australia. Indonesia juga diapit oleh dua samudera besar yaitu Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Dengan jumlah penduduk sekitar 240 juta jiwa menjadikan Indonesia sebagai negeri yang tidak hanya padat penduduk tapi juga kaya akan kebudayaan lokal yang begitu beragam. Indonesia yang terdiri dari 34 provinsi ini menjadi magnet wisata budaya lokal daerah. Berbagai macam suku dan etnis ada di Indonesia menjadikan sebuah cerminan keberagaman dalam kebersamaan. Setiap daerah memiliki budayanya sendiri, saling melengkapi keindahan Indonesia satu sama lain. Salah satu daerah yang perlu dikunjungi untuk melihat potensi kebudayaan lokal adalah Banten, di sana ada satu suku yang unik dan harus dilestarikan, yaitu Suku Baduy.

Suku Baduy atau biasa disebut orang Kanekes merupakan sekelompok masyarakat adat sub-etnis Sunda di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Populasi mereka sekitar 5.000 hingga 8.000 orang, dan mereka merupakan salah satu suku yang menerapkan isolasi dari dunia luar. Selain itu mereka juga memiliki keyakinan tabu untuk difoto, khususnya penduduk wilayah Baduy dalam. Menurut Garna, 1993 bahwa Baduy sendiri berasal dari sebutan yang diberikan oleh orang luar terhadap kelompok masyarakat tersebut. Berawal dari banyak orang yang menyamakan mereka dengan kelompok Arab Badawi yang merupakan masyarakat yang berpindah-pindah (nomaden). Kemungkinan lain adalah karena adanya Sungai Baduy dan Gunung Baduy yang ada di bagian utara dari wilayah tersebut. Mereka sendiri lebih suka menyebut diri sebagai urang Kanekes atau “orang Kanekes” sesuai dengan nama wilayah mereka, atau sebutan yang mengacu kepada nama kampung mereka seperti Urang Cibeo.

Wilayah Kanekes atau Baduy ini secara geografis terletak pada koordinat 6°27’27” – 6°30’0” LS dan 108°3’9” – 106°4’55” BT (Permana, 2001). Masyarakat Suku Baduy pada umumnya bermukim di kaki pegunungan Kendeng di desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Rangkasbitung, Banten, berjarak sekitar 40km dari kota Rangkasbitung. Wilayah yang merupakan bagian dari Pegunungan Kendeng dengan ketinggian 300–600m di atas permukaan laut (DPL) tersebut mempunyai topografi berbukit dan bergelombang dengan kemiringan tanah rata-rata mencapai 45%, yang merupakan tanah vulkanik (di bagian utara), tanah endapan (di bagian tengah), dan tanah campuran (di bagian selatan). suhu rata-rata 20 °C. Tiga desa utama orang Kanekes Dalam (Baduy Dalam) adalah Cikeusik, Cikertawana, dan Cibeo.

Suku Baduy sendiri terdiri dari dua macam, yaitu suku Baduy Luar dan suku Baduy Dalam. Perbedaan dari keduanya dapat dilihat dari berbagai aspek, seperti penampilannya. Secara penampilan, suku Baduy Luar memakai memakai baju dan ikat kepala serba putih. Sedangkan suku Baduy Luar memakai pakaian hitam dan ikat kepala berwarna biru. Secara budaya, suku Baduy Dalam lebih teguh memegang adat istiadat suku mereka, sedangkan Baduy Luar sudah mulai terpengaruh dengan budaya dari luar. Persamaan dari keduanya, mereka pantang untuk menggunakan alas kaki, teknologi modern dan transportasi modern. Suku Baduy sangat menjaga kelestarian alam yang mereka tempati, mereka selalu menjaga dan merawat alam supaya dapat terus dikelola dengan baik, sehingga dapat memberikan hasil panen yang cukup dan melimpah untuk menghidupi kebutuhan hidup mereka, mereka tidak ingin merusak kelestarian alam yang ada, mereka hidup selaras dengan alam sekitarnya. Di tengah-tengah gempuran modernitas dan globalisasi saat ini, suku Baduy berusaha untuk menjaga nilai-nilai budaya dasar yang dimiliki dan diyakininya.

Selain kaya akan budayanya, pesona alam Suku Baduy juga begitu memikat, tak jarang banyak sekali orang yang sengaja berwisata ke Suku Baduy. Melihat pesona budayanya juga pesona alamnya yang indah dan asri. Ada hal yang menarik dari masyarakat Suku Baduy ini, yaitu pandangan terhadap alam semesta. Masyarakat Suku Baduy, khususnya Baduy Dalam sangat menjaga keseimbangan dan keselarasan dengan alam. Masyarakat Suku Baduy sangat menjaga air agar selalu jernih dan bersih sehingga bisa dipakai untuk kehidupan sehari-hari. Saat mandi atau bersih-bersih, tidak boleh ada bahan kimia yang dipakai oleh masyarakat Baduy termasuk para pengunjung. Hal itu untuk menjaga air agar tetap bersih dan jernih. Aliran sungai yang melintasi perkampungan tanah adat Suku Baduy amat jernih, dan tidak ada sampah.

Selain itu, ada juga satu budaya masyarakat Suku Baduy yang begitu terkenal di kalangan masyarakat sekitar wilayah Suku Baduy. Kita semua sadar bahwa Suku Baduy begitu sangat menghargai dan menjalankan adat istiadat dengan penuh sungguh-sungguh. Untuk mempertahankan ada istiadat, masyarakat Baduy berpegang teguh pada pusaka leluhur dan melestarikannya dengan cara mewariskan secara turun-temurun kepada anak cucunya, secara tegas dan mengikat. Salah satu Pesona budaya tersebut bernama Upacara Seba. Upacara Seba ini merupakan bagian dari doktrin atau amanat leluhur (pikukuh karuhun) yang wajib dilaksanakan oleh masyarakat Baduy setahun sekali, pada bulan safar awal tahun baru, sesuai dengan penanggalan adat Baduy (sekitar bulan April-Mei pada tahun Masehi). Tujuan dari Upacara Seba ini adalah sebagai ekspresi rasa syukur dan penghormatan suku Baduy terhadap pemerintah baik itu Bupati Lebak maupun Gubernur Banten. Sebagai wujud rasa syukur dan penghormatan terhadap pemerintah, masyarakat Baduy dalam Upacara Seba mempersembahkan hasil panen dalam setahun, berupa talas, gula, pisang, dan lain-lain.

Upacara Seba merupakan sebuah peristiwa budaya, yang sudah dilakukan sejak zaman Kesultanan Banten dahulu. Oleh karenanya pemerintah setempat sudah seharusnya untuk memberikan apresiasi dan melestarikan Upacara Seba Suku Baduy sebagai potensi budaya yang membawa banyak nilai dan pesan moral terkait keseimbangan alam, kelestarian lingkungan, keharmonisan dan kedamaian.

Lewat pesona budayanya, Suku Baduy telah menjadi salah satu yang membanggakan Indonesia dalam hal potensi budaya dan kearifan lokal, hal ini harus terus dijaga dan dilestarikan bersama karena ini merupakan aset yang sangat berharga yang dimiliki negeri tercinta Indonesia.

Referensi:

  • Garna, Y. (1993). Masyarakat Baduy di Banten, dalam Masyarakat Terasing di Indonesia, Editor: Koentjaraningrat & Simorangkir, Seri Etnografi Indonesia No.4. Jakarta: Departemen Sosial dan Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial dengan Gramedia Pustaka Utama.
  • Permana, C.E. (2001). Kesetaraan gender dalam adat inti jagat Baduy, Jakarta: Wedatama Widya Sastra.
  • http://www.bantenwisata.com/2014/11/wisata-kampung-suku-baduy-banten.html

 


***


Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044
SHARE