Poyo : Kekuatan Doa Etoser Semarang

368

Poyo namanya, 25 September 2012 mendatang jika ada takdir baik berpihak padanya, dia akan berangkat ke negeri yang sering dia sebut dalam doa-doanya, Jepang .

Ditengah semarak acara TENs (Temu etos NAsional) 2012 yang diselenggarakan oleh Beastudi Indonesia di Semarang , ada mahasiswa bernama Purwoyo yang biasa dipanggil Poyo. Ia salah satu penerima beastudi Etos (biasa disebut Etoser-red) dari Beastudi Indonesia Dompet Dhuafa. Tentu beasiswa yang ia terima bukan tidak ada alasan dibaliknya, ada perjuangan didalamnya. Jika ingin merasakan bagaimana perjuangan hidupnya , mungkin sepenggal cerita ini akan membuat kita menjadi tahu seperti jiwa dia terbentuk.

Poyo terlahir dari keluarga tidak mampu disebuah desa di Purwodadi. Bapaknya terlahir dalam keadaan fisik tidak sempurna, kaki dan tangannya mengalami cacat sejak lahir. Kondisi itu membuat orang-orang terdekat mengucilkannya, dan akses pekerjaan pun sangat sulit didapat. Imbasnya, keluarga Poyo dalam kondisi sulit dan harus makan dengan seadanya saja. Kondisi itu berpengaruh kepada adik satu-satunya Poyo, di usia yang masih berusia bulanan, adiknya meninggal dunia karena kekurangan gizi.
Tidak berhenti disitu saja, pelajaran dari kehidupan kembali ia dapati. Ketika ia duduk dibangku sekolah kelas 2 SMP, ibunya yang selama ini bekerja sebagai tukang pijat keliling, meninggal dunia dikarenakan penyakit kaki gajah. Lengkap sudah haru birunya.

Menjelang kelas 3 SMP, bapaknya menikah lagi , dengan pertimbangan sang bapak mulai sering keluar kota untuk menjadi buruh, sedang Poyo butuh teman dan perhatian karena saat itu menjelang ujian sekolah. Dengan keputusan bapaknya itu, justru Poyopun bersyukur, karena ibu tirinya sekualitas dengan ibu kandungnya. Poyo pun menganggap beliau seperti ibu sendiri. Ibunya yang sekarang ini sama pekerja kerasnya dengan ibu kandungnya, ibunya yag sekarang bekerja sebagai penjual sayur mayur, berkeliling dengan sepeda.

Dipenghujung kelas 3 SMP, Poyo merasa serba salah, disatu sisi ia ingin melanjutkan sekolah, namun disisi lain kedua orang tuanya meminta ia mengurungkan niatnya. Biaya menjadi alasan klasik dan memang itu hambatan yang nyata didepannya. Dengan kenyaatan seperti itu, ia tak putus asa, Poyo jadikan doa sebagai salah satu senjata pamungkas dalam menghadapai persoalan dalam hidupnya.

Disuatu sore, Allah SWT menjawab doa-doa Poyo, kawan sebangku di sekolah mengundang Poyo kerumahnya, untuk bertemu kedua orang tuanya. Ternyata , orang tua kawannya itu meminta Poyo untuk menjadi anak angkat mereka dan akan menyekolahkan Poyo di bangku SMA. Ia pun terharu dengan orang tua sang kawan tersebut, karena jika dilihat secara ekonomi, merekapun dari keluarga pas-pas an bukan keluarga yang berada, namun mereka rupanya menjadi “malaikat penolong” cita-citanya itu.

Meski sempat ditentang keras oleh bapaknya, karena pertimbangan akan berpisah dengan anak laki-laki satu-satunya, namun akhirnya Poyo mendapat lampu hijau untuk ikut dengan orang tua angkatnya demi kehidupan kelak yang lebih baik. Selama tinggal bersama orang tua angkatnya, enak tidak enaknya ia terima. Ia justru merasa berhutang budi dan berusaha membalas segala kebaikananya, . “Saya ketika SMU bisa dibilang anak cupu , tak ada waktu untuk bermain, pagi dan sore tiap hari saya membantu orang tua angkat saya, dari menyapu halaman sampai urusan kamar mandi, semua untuk membalas budi”.

Untuk berangkat sekolah, dalam rangka menghemat, jarak bolak-balik 20 KM pun ia tempuh dengan menggowes sepeda. “ Jajan saya hanya dua ribu rupiah perhari dan bisa habis hanya untuk membeli es kalau pulang kehausan”. Untuk urusan perut ini pula ia siasati dengan membawa bekal makan siang racikan sendiri.

Selama diasuh oleh orang tua angkatnya, prestasinya di SMU dapat dibilang cukup bagus. Ia belum pernah terlempar dari 10 besar. Prestasinya justru mengalahkan kawan dekatnya yang merupakan putra orang tua angkatnya. Maka, menjelang lulus SMU, dia mulai berpikir untuk melanjutkan ke jenjang kuliah. Kuliah, kata yang asing bagi keluarga dan juga semua orang di kampungnya. “Saya sadar kalau melanjukan ke kuliah, dananya darimana. Ketika orang lain daftar SPMB dan ikut ujian masuk universitas ini dan itu, saya ndak bisa, 100 ribu saja saya ndak punya”.
Kondisi itu membuat dia mencari-cari info beasiswa dan tak lama kemudian ia diberitahu oleh seorang temannya bahwa ada program beasiswa untuk mahasiswa dengan nama Beastudi Etos. Dengan berbekal info itu, ia menuju ke ruangan guru untuk mencari info lebih lengkap, ternyata batas pendaftaran sudah terlewat sepekan sebelumnya.

“Namun , Alhamdulillah, hari berikutnya saya dikabari lagi oleh teman saya, jika pendaftaran di Beastudi Etos di tunda, dan besoknya merupakan pendaftaran terakhir!”. Untungnya Poyo saat itu sudah memilki handphone , yang baru ia miliki selama 2 pekan hasil menabung, meski hanya HP second dan jadul. Dia menghubungi tetangganya di kampung, karena sang orang tua tidak mengenal apalagi memilki handphone, ia meminta disiapkan semua berkas administrasinya.

Setelah beberapa hari kemudian ditengah parade doa dan harapan, datanglah pengumuman kalau ia lolos administrasi dan berhak mengikut tes wawancara. Perasaan luar biasa saat itu.Ikutlah ia wawancara. Sepulang wawancara, di bus baru terpikir, kalau misalkan diterima lantas uang pendaftaran untuk SNMPTNnya dari mana???. Karena untuk pendaftaran SNMPTN tentu harus dari kocek sendiri. Benar saja, ketika ia sampai rumah dan mengutarakan keinginan untuk mengikuti SNMPTN kepada orang tuanya, terlontarlah “ aku juga ra duwe duit le…” jawaban yang sudah ia duga.

Pikirnya mengejar SNMPTN tidak boleh berhenti samapai disitu saja, selain doa harus ada usaha nyata. Sempat berpikir-pikir lagi, jalan apa keluarnya. Maka, jalan terakhir menjual HP !!! itu langkah yang Poyo pilih. Akhirnya HP yang belum lama ia beli kembali dilego. Meski ternyata hasil jual HP masih kurang, namun kekurangannya masih bisa diatasi untuk mendaftar SNMPTN di detik-detik terakhir.

Ujian SNMPTN pun ia ikuti di Semarang. Dengan hanya bermodal Rp. 50.000 yang ia miliki, ia harus melewati 3 hari ujian SNMPTN di Semarang. Cara paling ampuh yang ia tempuh , ia harus mengurangi frekuensi makan menjadi hanya 2 kali sehari dan pinjam teman untuk menambal kekurangannya. Untung saja untuk transportasi ia mendapat tumpangan sepeda motor dari teman SMAnya.

Hari pengumuman hasil SNMPTN pun tiba, didepan layar monitor warnet dengan jantung berdegap ia mengetik nama nya. PURWOYO. Hasilnya “Selamat Anda di terima menjadi….” Kaget tidak terkira, namun karena belum yakin dan pikirnya mungkin websitenya error ia kembali mengetik namanya. Hasilnya sama. Karena masih tak percaya, ia pun pindah ke warnet sebelah, melakukan hal yang sama, dengan hasil yang sama juga. LULUS.

“Pak’e-pak’e… saya diterima!!!. “ begitu teriak Poyo ketika sampai di rumah. Mereka pun larut dalam bahagia, terwujud mimpi mewah bagi orang seperti mereka, seolah tidak percaya, tidak hanya orang tuanya bahkan orang sekampung pun tidak ada yang menyangka. Setelah tertawa dan bergembira bersama, tiba-tiba suasana berganti hening dan diam. Kembali pertanyaan klasikpun muncul, uang untuk pendaftaran kampusnya bagaimana? Poyo harus menyediakan uang 3,8 juta rupiah. Kalaupun ada dana sebesar itu, lantas bagaimana biaya selanjutnya selama ia kuliah, padahal Beastudi Etos pun belum ada pengumuman hingga saat itu.

Keesokannya, melamun menjadi rutinitas Poyo dalam keseharian. Ibaratnya, setengah bangku kuliah ia sudah duduki, namun bisa jadi karena ketiadaan dana, ia akan terjatuh dari kursi itu. Tapi ia teringat akan harapan terakhirnya, doanya semoga Beastudi Etos memilih dirinya untuk memiliki bangku kuliah tersebut.

Setelah menunggu-nunggu namun tidak ada kabarnya juga, sampai pada 3 hari sebelum batas terakhir pendaftaran ada sebuah berita, PURWOYO anda berhak untuk mendapatkan Beastudi ETOS di jurusan Teknik Kimia UNDIP. Kembali rasa gembira dan syukur berpadu.”Pak’e… saya lolos Etos!, saya pinjam sapinya dulu, sapinya dijual untuk biaya pendaftaran ya. ”begitu permintaan Poyo kepada bapaknya, sambil menunjuk satu-satunya asset keluarga yang paling berharga. Permintaan itupun dengan senang hati dipenuhi bapaknya.

Dalam masa dua tahun kuliahnya, ia merasa tidak ada suatu prestasi yang luar biasa ia dapat. Meski sudah mengikuti bermacam-macam lomba penulisan dan kompetisi ilmiah. Evaluasi diripun ia lakukan di tahun ketiga, barulah Poyo tersadar “Saya tidak memiliki target hidup dan prestasi yang jelas”. Maka kemudian ia tuliskan proposal prestasi yang ia ingin capai secara spesifik. Termasuk mimpinya untuk pergi ke Jepang. Merasakan nuansa kedisiplinan dan keilmuan di negeri Sakura tersebut.

Allah SWT menunjukkan jalan untuk mewujudkan proposal hidupnya. Tak lama kemudian ia mendapati sebuah pengumuman di kampusnya, bahwa ada pertukaran program mahasiswa dengan Jepang. Inilah kesempatan terbaik dalam hidupnya untuk kembali mewujudkan mimpi yang ia hadirkan dalam setiap doa-doanya.

Setelah melalui beberapa proses, dan menjalani skenario dari Allah SWT yang banyak tak terduga, kembali nama PURWOYO tercantum dalam sebuah pengumuman. Ia menjadi salah satu dari dua orang mahasiswa se Indonesia yang akan mengikuti pertukaran mahasiswa di Jepang di bulan September mendatang.

Kini Poyo sudah mempunyai motor pribadi yang baginya sebuah kendaraan mewah, hasil membuka les privat bagi anak-anak sekolah. Namun tidak berhenti disitu, tiket menuju negeri Sakura meski ia tetap perjuangakan. Setidaknya ia harus mempunyai dana 80 juta rupiah untuk menopang hidupnya selama satu tahun di Jepang. “Saya tak terlalu pusing memikirkan darimana 80 juta rupiah akan saya dapatkan, yang penting tetap berusaha. Asalkan ada kemauan dan doa, InsyaAllah akan ada jalan, Allah Maha Kaya!”. Harapannya pun mudah-mudahan ada sponsor yang mau mendukungnya.

Mahasiswa semester VI Teknik Kimia UNDIP ini kini sangat bersyukur menjadi keluarga besar penerima Beastudi Etoser. Tak hanya biaya kuliah dan asrama gratis yang ia dapatkan, namun nilai-nilai dan rasa kekeluargaanlah yang sebenarnya “beasiswa” tak ternilai. Disinilah jiwa dan mental kuat serta sikap optimisnya semakin terbentuk. Termasuk dalam mewujudkan satu persatu mimpi serta proposal prestasinya. “Bismillah, Jepang saya akan datang” begitu tuturnya. (Arya)


***


Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044
SHARE