Profil Program Sekolah Desa Produktif

0
487

Definisi Program

Sekolah Desa Produktif adalah program revitalisasi desa berbasis sekolah dasar. Proses revitalisasi sebuah kawasan mencakup perbaikan aspek pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan sosial. Pendekatan revitalisasi harus mampu mengenali dan memanfaatkan potensi lingkungan (SDA, SDM, sejarah, makna, keunikan lokasi, dan citra tempat). Sekolah Desa Produktif mengedepankan prinsip partisipatif dan mandiri. Sehingga masyarakat sasaran bukan hanya sebagi obyek, tetapi juga bagian dari subyek pemberdayaan.

Pelaksana Program

Dalam proses pelaksanaan program di daerah, dibentuk tim SDP daerah yang digerakkkan oleh etoser (penerima beastudi Etos).

Rencana Intervensi SDP

A.    Bidang pendidikan
  • Bersama sekolah, membuat tahapan program peningkatan kualitas pendidikan secara sistematis dan terukur
  • Memberikan bantuan kelengkapan sarana pendidikan yang terjangkau
  • Memberikan tambahan asupan motivasi untuk anak didik melalui training atau agenda sejenis
  • Melakukan proses peningkatan kesadaran pendidikan kepada warga masyarakat
  • Melakukan proses pendampingan belajar untuk peningkatan prestasi anak didik
  • Mengadakan acara acara insidental untuk meramaikan moment tertentu di sekolah
  • Memberikan tambahan pelatihan untuk peningkatan kompetensi guru bekerjasama dengan Makmal
  • Pendidikan Dompet Dhuafa
B.    Bidang Ekonomi
  • Bersama masyarakat membuat tahapan program peningkatan ekonomi desa secara sistematis dan terukur
  • Menginventaris potensi lokal yang dapat dikembangkan dan bernilai ekonomi
  • Memberikan pelatihan untuk kompetensi tertentu yang dapat menjadi sumber tambahan pendapatan warga
  • Memberikan pendampingan usaha kecil masyarakat
  • Memberikan pendampingan untuk peningkatan produksi pertanian
  • Membantu warga memperluas jaringan ekonomi yang dapat meningkatkan pendapatan
  • Membangun jaringan dengan institusi pemerintah maupun swasta yang relevan dengan bidang ekonomi warga.
C.    Bidang kesehatan
  • Bersama masyarakat membuat tahapan program peningkatan kesehatan desa secara sistematis dan terukur
  • Peningkatan kesadaran kesehatan masyarakat melalui penyuluhan atau kegiatan lain yang sesuai
  • Membuat pola peningkatan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan cuma-cuma yang diberikan pemerintah
  • Memberikan pelatihan pengolahan sampah rumah tangga
  • Membangun jaringan dengan institusi kesehatan pemerintah maupun swasta yang bisa menjadi mitra dalam proses peningkatan kesehatan masyarakat.
D.    Bidang Sosial
  • Bergabung bersama masyarakat dalam forum-forum sosial warga
  • Optimalisasi forum warga dalam proses internalisasi nilai dan pencapaian target pemberdayaan
  • Memberikan back up pemahaman nilai-nilai Islam bagi masyarakat
  • Membangun kedekatan emosional dengan warga melalui forum kultural warga
  • Menyiapkan kader pemberdayaan lokal

Sasaran Program

Sasaran program Sekolah Desa Produktif adalah masyarakat desa/komunitas marjinal. Dalam proses penentuan sasaran, tim Sekolah Desa Produktif akan melakukan proses assessment untuk menilai calon sasaran. Proses assessment ini juga dilakukan dalam rangka memetakan potensi dari calon sasaran yang akan didampingi.

a. Situ Pladen, Depok
Situ Pladen merupakan kawasan miskin atau marjinal yang berada di perkotaan dengan struktur sosial ekonomi rendah dan informal. Kesadaran masyarakat mengenai pendidikan dan lingkungan masih rendah. Rendahnya kesadaran terhadap pendidikan masyarakat ini tidak dapat dilepaskan dari kondisi ekonomi masyarakat yang mayoritas masyarakat miskin. Tingkat pendidikan ini memberikan dampak pada kesadaran mereka atas kesehatan lingkungan. Situ yang ada di tengah masyarakat yang seharusnya mampu menjadi pendukung kehidupan sosial-ekonomi masyarakat hanya menjadi tempat sampah dan dipenuhi enceng gondok yang belum termanfaatkan. Peningkatan kualitas sumber daya manusia diharapkan menjadi agen perubahan dalam mengubah fungsi situ menjadi potensi sosial-ekonomi masyarakat.

b. Desa Galuga, Bogor
Desa Galuga terkenal sebagai dua icon yaitu “sampah” dan “ayam bakar”, dimana dua hal yang sangat bertentangan. “Sampah” memang menjadi icon yang lebih melekat untuk Desa Galuga, sebagai tempat pembuangan akhir (TPA) maka dapat dibayangkan bahwa desa ini bukan tergolong desa yang bersih. Persoalan yang dihadapi desa ini lebih dekat dengan permasalahan lingkungan dan kesehatan. Melihat dari sisi yang lain, bahwa TPA memberikan kesempatan kerja bagi warga sekitarnya, walaupun mereka harus bekerja dengan pola hidup yang tidak sehat. Kelemahan kesempatan ini adalah tidak memberikan dorongan masyarakat untuk berkembang, setidaknya terdapat dua hal yang mengganjal mereka yaitu penghasilan yang terbatas dan pola pikir yang terpasung oleh lingkungan sosialnya. Walaupun demikian, tumpukan sampah ini sesungguhnya menyimpan potensi yang sangat besar.
Berdasarkan data monografi desa tahun 2009, tingkat pendidikan dan jenis pekerjaan masyarakat Galuga rendah terlihat dari prosentase tertinggi yaitu masyarakat yang tamat SD/sederajat yang mencapai 24,77%. Berdasarkan tingkat pendidikan dasar 9 tahun, prosentasenya menjadi 34,53%. Selain itu, masyarakat yang tamat SMA/sederajat hanya 5,63%. Warga yang mengenyam pendidikan perguruan tinggi hanya 0,68% dan 0,33% yang menyelesaikan sarjana (S1). Terbatasnya aksesibilitas masyarakat dikarenakan persoalan ekonomi dan belum terbukanya wawasan mengenai pendidikan. Matapencaharian petani merupakan jenis pekerjaan dengan prosentase tertinggi di Galuga yaitu 46% dan buruh tani mencapai 10,82%. Prosentase pekerjaan sektor informal hanya 27,05% yang meliputi pengusaha kecil-menengah, pengrajin industri rumah tangga, pembantu rumah tangga, montir, pedagang keliling, peternak, seniman dan jasa pengobatan.

c.    Jayagiri, Bandung
Desa Jayagiri memiliki potensi alam yang bagus. Sebagian besar lahannya digunakan untuk pertanian sayur. Jayagiri termasuk wilayah Bandung bagian atas dengan topografi tanah berbukit-bukit. Desa Jayagiri mudah diakses. Meskipun tidak ada alat transportasi umum yang mauk ke desa, tapi masih relatif mudah dijangkau. Hanya saja bagi yang belum terbiasa jalan kaki dengan medan berbukit-bukit akan sangat berat untuk menuju beberapa wilayah di desa jayagiri.

d.    Rowosari, Semarang
Sebagian besar penduduknya adalah petani. Sebagaian wiraswasta, dan sebagian kecil laiannya peternak. Tingkat ekonomi sebagian besar penduduknya adalah menengah kebawah.
Desa Rowosari memiliki potensi alam yang bagus. Sebagian besar penduduknya adalah petani. Salah satu potensi yang coba dikembangkan oleh tim Sekolah Desa Produktif semarang adalah pengolahan pisang menjadi berbagai produk yang bernilai ekonomi. Buahnya diolah menjadi keripik, pohonnya dibuat shampoo yang sekarang masih dalam tahap pengembangan. Sebagian besar penduduknya memiliki tingkat ekonomi menengah ke bawah. Layana kesehatan tingkat desa belum memadai. Uatamanya untuk  balita dan lansia.

e. Kedung Cowek, Surabaya
Desa kedung cowek masuk dalam wilayah kota Surabaya yang berada di pantai kenjeran. Sebagian besar penduduknya bekerja sebagai nelayan yang pendapatannya masih tergolong rendah. Pendapatan nelayan masih bersifat harian (Daily Increments) dengan jumlah yang fluktuatif menyesuaikan hasil tangkapan. Karena itulah kemudian tingkat kesehatan masyarakat masih kurang memadai. Ditambah lagi lingkungan pantai yang kotor dengan bermacam limbah yang ada.

f.    Penanggungan, Malang
Desa Penanggungan memiliki berbagai permasalahan di bidang ekonomi, kesehatan, pemdidikan, juga sosial. Sebagian besar (80%) penduduknya berpendidikan SD. Sarana dan prasarana pendidikan juga belum memadai. Sementara untuk bidang kesehatan, sebagian besar warga menggunakan sungai untuk aktifitas MCK karena belum memiliki sarana MCK pribadi.

g.    Bronggang, Jogjakarta
Bronggang adalah salah satu dusun di Desa Argomulyo, Cangkringan, Sleman. Daerah ini merupakan daerah yang terkena dampak erupsi merapi. Sebagian besar masyarakatnya hidup dari pertanian dan perikanan darat. Potensi pertanian sangat besar tetapi belum digarap dengan optimal.

h.    Maccini Sombala, Makassar
Maccini sombala adalah sebuah kelurahan yang secara adminstratif termasuk wilayah Kecamatan Tamalate, Kota Makassar. Merupakan salah satu RW dari sembilan RW yang ada. Terdiri dari enam RT. Tercatat dalam data statistik PHBS dan Tim PKK RW 05 terdapat 437 kepala keluarga dengan 2.147 jiwa yang menempati 364 rumah. Didominasi oleh perempuan dengan 1.172 jiwa, laki-laki 975 jiwa. Dari jumlah tersebut terdapat 135 jiwa anak-anak. Sebagian besar masyarakta bekerja pada sektior informal. Tercatat hanya 34 orang yang teridentifikasi memiliki pekerjaan tetap. Selebihnya bekerja dalam sektor inormal, pemulung, buruh bangunan, pengamen, dan pengemis.

i.    Jawa Gadut, Padang
Desa Jawa Gadut adalah salah satu desa yang terletak di Kelurahan Limau Manis Jawa Gadut, Kecamatan PauhV, Padang Sumatera Barat. Desa ini masih terletak di daerah pinggiran kota Padang yang tidak jauh dari asrama Beastudi Etos Padang, jarak antara desa tersebut dengan asrama Beastudi Etos Padang ± 2 Km atau dapat ditempuh sekitar 20 menit. Desa ini juga tidak jauh dari universitas Andalas, jarak antara desa ini dan Universitas Andalas dengan waktu tempuh 10 menit. Desa jawa gadut dan Universitas Andalas dibatasi dengan lembah kecil dan sungai.

BAGIKAN

LEAVE A REPLY