Prokrastinasi VS The Power of Kepepet

186

Pada suatu hari, seorang sahabat yang merasa iba melihat kesibukan Khalifah Umar bin Abdul Aziz berkata, “Wahai Khalifah, tangguhkanlah pekerjaan ini sampai besok!”. Namun dengan tegas Umar menjawab, “Pekerjaan satu hari saja sudah membuatku letih, bagaimana dengan pekerjaan dua hari yang terkumpul menjadi satu?”. Dalam sebuah hadits, Ibnu Umar r.a. berkata, “Rasulullah SAW pernah memegang bahuku sambil bersabda, ‘Jadilah engkau di dunia seolah-olah orang asing atau pengembara’. Ibnu Umar r.a. berkata, “Kalau datang waktu sore jangan menanti waktu pagi. Kalau tiba waktu pagi jangan menanti waktu sore. Gunakan sebaik-baiknya sehatmu untuk waktu sakitmu dan masa hidupmu untuk waktu matimu.” (HR. Bukhari).

Menunda pekerjaan memang menyenangkan, ada beban yang seakan terlepaskan. Apalagi ada istilah ‘The Power of Kepepet’ yang seolah menegaskan bahwa kreativitas dan beragam potensi akan muncul dalam keadaan terdesak. Pekerjaan pun dapat diselesaikan lebih cepat. ‘Buat apa ngerjain berhari-hari kalau dapat selesai dalam beberapa jam sebelum deadline?’, pikiran sederhananya mungkin seperti itu. Kualitas hasil pekerjaannya debatable. Pekerjaan yang disegerakan penyelesaiannya belum tentu lebih berkualitas dibandingkan dengan yang selesai jelang deadline, yang tak jarang sarat inspirasi entah dari mana. Setidaknya penulis pernah merasakan hal tersebut kala mengerjakan skripsi dalam kurun waktu (hanya) 12 hari mulai dari menulis judul, Bab I – V, daftar pustaka, lampiran dan daftar isi, termasuk pengumpulan dan pengolahan data. Alhasil, skripsi sekitar 150-an halaman yang sempat terbengkalai hampir 3 semester tersebut mendapatkan nilai A-. Sebuah pencapaian luar biasa mengingat dosen penguji seminar berani bertaruh bahwa skripsinya takkan selesai sebelum jadwal sidang keluar. Sebuah pencapaian yang sejatinya tidak membanggakan.

Bersegera melakukan kebaikan, apalagi yang orientasinya akhirat sudah tidak perlu diperdebatkan lagi nilai keutamaannya. Shalat di awal waktu, tidak menunda menunaikan zakat dan infak, segera bertaubat, berlomba-lomba dalam kebaikan, dan sebagainya. Tanpa perlu banyak dalil sekalipun, ketika kita menyadari bahwa hari esok belum tentu akan kita temui, menyegerakan berbuat kebaikan tentu menjadi sikap paling bijak. Lalu bagaimana dengan upaya mengoptimalkan kekuatan tersembunyi dari ketermendesakan, yang bahkan bisa membuat pekerjaan lebih efektif dan efisien? Lagipula, bukankah yang terpenting adalah akhir atau kesudahannya?

Ada beberapa hal yang perlu dikritisi dari pertanyaan-pertanyaan di atas. Pertama, pekerjaan para deadliners belum tentu lebih efektif dikarenakan ada unsur ketergesa-gesaan yang akan memengaruhi kualitas suatu pekerjaan. Kedua, mengakhirkan suatu pekerjaan belum tentu lebih efisien, terutama dalam hal waktu. Bisa jadi waktu pengerjaannya lebih cepat karena dikejar deadline, namun waktu inteval antara ‘seharusnya bisa mulai dikerjakan’ dengan ‘realitanya baru dikerjakan’ semestinya juga diperhitungkan. Apalagi faktanya sepanjang waktu ‘kosong’ tersebut, ada beban ‘pekerjaan tertunda’ yang menyertai. Ketiga, hasil akhir memang penting dan menentukan, namun kualitas proses tak bisa dikesampingkan. Ada perbedaan yang cukup mendasar antara suatu pekerjaan yang diselesaikan secara terburu-buru dengan yang dinikmati penyelesaiannya secara tenang.

Idealnya, potensi ‘the power of kepepet’ bisa dioptimalkan tanpa menunggu deadline. Pekerjaan terselesaikan dengan cepat di awal waktu sehingga ada banyak waktu untuk melakukan hal produktif lainnya. Namun sekiranya tidak memungkinkan, yang perlu dilakukan adalah menunda untuk menyelesaikan, bukan menunda untuk mengerjakan. Menunda untuk mengerjakan adalah suatu bentuk kemalasan, pelakunya biasanya terjebak untuk menggantikan aktivitas penting yang seharusnya dilakukan dengan aktivitas yang tidak bermanfaat. Atau pelakunya menunda pekerjaan karena harus mengerjakan pekerjaan lain yang tertunda. Itulah hakikat prokrastinasi. Bahkan tidak ada jaminan pekerjaan tersebut akhirnya benar-benar dikerjakan apalagi diselesaikan. Menjelang akhir yang ada hanyalah keluhan, frustasi, keputusasaan dan penyesalan.

Menunda untuk menyelesaikan berarti mulai mengerjakan. Namun masih membuka ruang improvement akan berbagai ide ataupun inspirasi yang bisa jadi muncul belakangan. Tergesa-gesa dalam menyelesaikan pekerjaan, pun itu dilakukan di awal, berpotensi tidak menghasilkan yang terbaik. Jadi yang ditunda adalah penyelesaiannya untuk memberikan hasil terbaik. Interval waktu antara penyelesaian awal dengan finishing bisa digunakan dengan produktif, tidak terlalu membebani toh hasil akhirnya sudah ada, tinggal disempurnakan, jika perlu. Dan yang pasti semuanya terencana.

Lulus tepat waktu mungkin baik, tetapi lulus di waktu yang tepat lebih baik. Bisa jadi dipercepat, bisa juga ditunda jika memang ada aktivitas lain yang lebih bermanfaat dan bekal penting yang harus dipenuhi. Lulus tepat waktu tidak menjamin kualitas lulusan karena fokusnya hanya ke ‘waktu’. Mirip dengan pilihan menyegerakan menikah atau menikah di waktu yang tepat. Lebih cepat belum tentu lebih baik. Ada pertimbangan yang lebih kompleks dari sekadar ‘segera berubah status’. Pepatah ‘kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda’ juga menunjukkan bahwa penundaan tidak semuanya prokrastinatif. Selama sudah memulai dan mengisinya dengan aktivitas produktif, maka menunggu momentum untuk menyempurnakan pekerjaan berbeda dengan prokrastinasi. Lalu bagaimana dengan ‘the power of kepepet’? Yah, pada akhirnya mereka yang memiliki ketergantungan terhadap ketermendesakan untuk optimalisasi potensi, selamanya tidak akan pernah optimal potensinya. Ya, ‘the power of kepepet’ bukan alasan untuk melakukan prokrastinasi, namun meyakini bahwa ada jalan keluar untuk kondisi sesulit apapun. Pasti!

Musuh terbesar dalam mencapai tujuan adalah penundaan. Kenapa banyak orang suka menunda? Karena ketakutan! Takut gagal, takut ditolak, takut kecewa, takut diejek, dan segala macam ketakutan yang lain” (Jaya Setiabudi dalam ‘The Power of Kepepet’)


***


Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044
SHARE