Puasa dan Perubahan Sosial

0
392

Oleh: Alfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia

Presiden Mahasiswa UGM, PM BAKTI NUSA 6 Yogyakarta

Tidak pernah ada peradaban, pemikiran, serta kebudayaan di mana pun yang dapat membentuk kepribadian secara kaffah sebagaimana yang telah Islam lakukan.

Dalam tulisan ini, penulis hendak mengajak kita berpikir kembali untuk melakukan aksi-aksi perubahan. Dengan itu tema yang hendak diangkat adalah puasa dan korelasinya dengan perubahan sosial.

Tentu pertama-tama, kita harus memulai perbincangan mengenai puasa dalam perspektif yang progresif; bukan sekadar menahan lapar, haus dan syahwat. Secara terminologi benar bahwa puasa dikenal sebagai upaya menahan lapar, haus, dan syahwat dimulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Namun, lebih jauh, kita menginginkan agar puasa menjadi sarana untuk mengeratkan diri dengan Sang Pencipta. Di saat bersamaan, puasa juga memiliki dampak secara sosial dengan mencipta perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik.

Perubahan-perubahan yang seperti apakah itu?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, kita bisa memahaminya secara jernih dengan terlebih dahulu mendengar firman Allah swt. dalam QS. Al Baqarah: 183, Wahai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana orang-orang sebelum kamu agar kamu menjadi orang yang bertakwa”.

Dan juga mari kita telaah sebuah hadis berikut: “Dia meninggalkan makan, minum dan syahwat karena mencari keridhaanKu. Puasa adalah milik-Ku, dan Aku yang akan membe­rinya balasan khusus. Sedang kebaikan akan mendapat pahala sepuluh kali lipat.” (HR. Bukhari).

Dari kedua dalil di atas, menurut hemat penulis, setidaknya ada tiga dimensi yang layak untuk dielaborasi.

Pertama, puasa bermakna sebagai “suatu perjalanan spiritual”. Artinya, puasa membuat kita bisa lebih dekat pada-Nya. Kita menjadi gemar berefleksi tentang hidup,adalah sebuah kewajiban yang mendudukkan puasa sebagai rukun Islam keempat beserta penilaian khusus dari Allah swt. kepada hamba-Nya. Puasa dijadikan sarana berbagai kegiatan positif. Sehingga, berpikir dan bergeraknya manusia penuh dengan belas kasih, berharap selalu kepada ampunan-Nya dan berupaya untuk membebaskan diri dari api neraka.

Kedua, puasa sebagai bentuk ketertundukan kita kepada Allah swt. Di sini, puasa berguna untuk menunjukkan seberapa jauh kita mengakui diri sebagai makhluk, merasa tunduk, dan yang terkadang berpikir muluk. Terakhir, puasa sebagai sarana untuk mendidik diri. Dalam dimensi ini, kita secara sadar atau pun tidak merasakan bahwa bulan Ramadan mencipta perubahan-perubahan. Sebab, Ramadan telah melatih kita untuk terbiasa beramal sholeh dengan belajar untuk gemar memberi, tak kuasa melihat yang miskin dan dilemahkan, serta membentuk kesalehan sosial.

Tiga dimensi ini yang barangkali membuat kita mulai memahami konsepsi puasa sebagai ibadah yang progresif karena meletakkan kemanfaatannya pada upaya pembebasan dan perubahan sosial. Tentu kita sadar bahwa perubahan hadir dari hal terkecil, beranjak sedang dan mendewasa hingga kita tanpa sadar mengerti dengan sendirinya bahwa perubahan itu adalah keniscayaan.

Pertanyaannya, hendak diarahkan ke mana perubahan itu?

Dalam hemat penulis, sebagaimana di awal disampaikan, seharusnya perubahan itu hendak diarahkan kepada hal-hal yang baik dengan turut aktif membangun kehidupan bersama yang madani. Sebab, puasa seharusnya memastikan kita telah selesai dengan urusan pribadi, sehingga dengan ini kita bisa beranjak kepada persoalan keumatan. Lantas, perubahan itu tidak mungkin bersifat egoistis. Ia akan berupaya sekeras-kerasnya; sekuat-kuatnya untuk memelihara keyakinan terhadap perbaikan-perbaikan kehidupan dengan meletakkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.

Selain karena puasa sebagai sebuah kewajiban yang menyempurnakan rukun Islam, puasa juga hendak membuat setiap insan menjadi pribadi yang bertakwa. Takwa ialah menjalankan segala perintah Allah swt. dan menjauhi larangan-Nya. Dengan ketakwaan, kita akan mencapai derajat tertinggi sebagai “manusia paripurna”, yakni manusia mulia yang telah menjalankan tugasnya dengan baik sebagai khalifah di bumi serta melaksanakan perintah-perintah Allah sebagai seorang hamba, baik sebagai individu maupun sebagai anak bangsa yang hidup bermasyarakat.

Sehingga, puasa adalah sebuah satu kesatuan amal yang kemanfaatannya utuh dan menyeluruh kepada pribadi dan orang lain. Puasa akan mendudukan ketiga dimensi yang telah disampaikan di awal penjelasan kepada perubahan sosial yang mengandung karakter emansipatoris (pembebasan). Penekanannya terletak pada aspek empati. Maka, tidak salah apabila bulan Ramadan kita sebut sebagai bulan empati.

Dengan semua penjelasan ini, kita bisa menyimpulkan bahwa puasa adalah sesuatu hal yang menggembirakan. Bernilai kebajikan bagi yang melaksanakannya sepenuh hati. Puasa juga memiliki potensi untuk melakukan pelbagai perubahan sosial karena di sana telah diasah dan dididik untuk mencintai orang lain dibandingkan dengan diri sendiri.

Harapannya, kita akan segera mencapai tatanan masyarakat Indonesia yang madani dengan berkepribadian mulia sebagai manusia paripurna. Mari jadikan momentum puasa ini sebagai sarana melakukan perubahan diri dan sosial!

BAGIKAN

LEAVE A REPLY