Puasa di Aligarh

0
219

“Ramadan tiba… Ramadan tiba…,” itulah penggalan lagu religi Opick dan Hadad Alwi yang menggema dalam ruangan apartemen setiap hari di bulan penuh kemuliaan.

India terkenal dengan panorama alamnya yang indah. Selain itu, terkenal juga dengan suhu panas yang bisa mencapai 50 derajat celsius bahkan lebih. Hal itu sudah bisa dibayangkan bagaimana rasanya jika berpuasa di sini. Tetapi tenang saja, tidak separah yang dibayangkan. Awal puasa di bulan ini diawali dengan suhu di atas 43 derajat celsius. Aku harus pergi ke kampus meskipun berpuasa dalam keadaan terik matahari yang sangat menyengat. Aku pun berniat untuk tidak kalah dengan keadaan.

Waktu menunjukkan pukul 11.50 waktu india. Aku masih menunggu kelas berikutnya sampai  akhirnya bel pun berbunyi pukul 12.10. Di dalam kelas, jujur saja, setelah menit ke-15 konsentrasiku mulai pudar, mata ku pun terus mengarah ke arah jarum jam seraya berharap bel berikutnya segera berbunyi. Akhirnya, ketika bel berbunyi, aku bisa memasukkan buku dan pena ke dalam tas serta bergegas keluar kelas. Hawa panas langsung menerpa dan membuat badanku lemas sehingga banyak mengeluarkan keringat.

Aku lihat di ujung koridor tempat pengisian air minum. Dengan gegas aku menghampiri dan menekan keran. Aku tadahkan air dingin tersebut lalu kubasuhkan ke mukaku. Sungguh, sangat sejuk. Kini, aku merasa lebih bertenaga. Bukan berarti aku meneguk airnya meskipun berharap lupa kalau hari ini berpuasa lalu meneguk air. Hal ini dilakukan untuk mendapat sensasi air dingin yang membasahi mukaku.

Perjalanan dari kampus ke kamar tidak terlalu jauh. Bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Tapi percayalah, jalan ini akan terasa sangat jauh ketika musim panas tiba. Hal ini diperparah dengan keadaan perut kosong dan tenggorokan kering. Ku lihat ponselku, lalu kutekan aplikasi pengukur suhu udara yang sudah tersedia di ponsel. Setelah menunggu beberapa detik muncullah angka dari 45 menuju 48 derajat celsius. Sungguh, ini nyaris setengah mendidih! Pantas saja, kulitku terasa seperti terbakar karena dikenai angin yang berubah menjadi panas.

Duh, Gusti, mohon kuatkan hamba. Aku mulai melangkahkan kakiku menjejaki jalan menuju rumah. Jika nanti di tengah jalan tiba-tiba kepalaku pusing dan mataku berkunang-kungan seperti sebelumnya, aku harus minum. Niat dalam hatiku lagi-lagi agak sedikit melenceng. Mau berbuat apa lagi, di musim panas tahun lalu, aku yang tidak minum air selama ujian saja langsung dehidrasi. Sepanjang perjalanan terasa sangat panas dikarenakan tidak adanya pohon rindang seperti di Indonesia.

Alhamdulillah, bisa sampai di apartment tanpa menoleh ke pedagang jus buah di sepanjang Jalan Amir Nisha. Seperti biasa, aku menekan tombol lift namun sayangnya tidak bekerja sama sekali. Kutekan sekali lagi namun hasilnya nihil. “Light nahi hai,” suara dari samping tangga yang membuatku kecewa. Dengan terpaksa aku harus memijaki anak tangga sampai ke lantai ke-4.

Beberapa hari setelah puasa, teman PPI membuat acara berbuka puasa bersama dan Salat Tarawih berjamaah. Pukul 17.00 waktu India, aku berangkat ke tempat kediaman Kak Nisa, salah satu anggota PPI Aligarh yang rumahnya akan dijadikan tempat kami berkumpul. Sebelum berbuka puasa, kami semua memasak makanan untuk disantap saat berbuka dan makan malam nanti.

“Allahu Akbar Allahu Akbar….”

Semua mengucapkan hamdalah sambil melirik gelas yang sudah berisi es timun saat mendengar kumandang azan. Tidak tanggung-tanggung, kami membuat es timun segalon penuh  dan habis dalam hitungan menit. Untuk Salat Maghrib, kami tidak berjamaah dikarenakan beberapa orang ada yang sibuk memasak hidangan makan malam. Sebagian orang bertugas membagi nasi secara adil merata dan beberapa orang lainnya asyik menyantap bakwan juga es timun sambil mengobrol santai.

Setelah selesai menunaikan shalat magrib dan hidangan makan malam sudah siap disantap, kami makan bersama-sama sambil mengobrol santai diselingi dengan candaan. Sekilas, aku jadi teringat keluarga di Indonesia. Azan Isya sudah berkumandang, saatnya bergegas membereskan bekas makan malam dan bersiap untuk Salat Isya dan Tarawih. Sungguh, tiba-tiba mata ingin meneteskan air mata, aku teringat akan suasana masjid di dekat rumahku saat Ramadan.

Salat Isya dan Tarawih telah selesai kami laksanakan. Setelah itu, kami berdoa dan melanjutkan dengan bersalawatan sambil bersalaman. Beberapa orang sudah ada yang pulang setelah salat. Ada yang mengobrol santai membicarakan tentang pendidikan, politik, dan lain-lain, sedangkan aku asyik mendengarkan mereka sambil makan semangka dan memburu jangkrik yang berkeliaran di dalam rumah Teh Dina. Kalau saja para bidadari PPI Aligarh banyak yang teriak karena jangkrik, aku tidak akan sibuk menangkanpnya.

Waktu menunjukkan pukul 22.05 waktu India, sepertinya aku harus pulang. Sebelum pulang, aku meminta beberapa film dari Teh Dina. Selain berkumpul bersama teman PPI, cara ampuh untuk menghilangkan rasa suntuk dan rindu akan tanah air yaitu dengan menonton film. Kakiku melangkah menuruni tangga, kunyalakan lampu senter dari HP-ku. Bukan hal yang aneh lagi kalau di India sering kali mati lampu.

Perjalanan menuju kamarku melewati pasar Amir Nisha, kulihat sekitar, rasanya ada yang berbeda. Di atas langit-langit pasar ini dipasangi hiasan sebagai sambutan bulan Ramadan. Meriah sekali, seperti mau ada acara 17 Agustusan, hehe…. Sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya aku memandangi hiasan itu. Maklumlah, aku kan MKKB (masa kecil kurang bahagia) hehe.... Entah mengapa aku bisa terpana dengan hiasan itu, padahal kurasa biasa-biasa saja. Sampai di kamar, aku segera ke kamar mandi dan bergegas tidur. Sebelum tidur, aku berdoa supaya hari esok turun hujan dan suhu panas akan berkurang.

 

 

BAGIKAN

LEAVE A REPLY