Raju: Etoser Multitalenta Anak Pembuat Batu Bata (Bag 1)

214
raju etoser

Dulu banyak yang mencibirnya karena hidup dalam kemiskinan dengan hutang keluarga yang menggunung. Namun anak pembuat batu bata ini telah membuktikan, bahwa setiap orang berhak bermimpi. Kini mimpinya berbuah segudang prestasi dan membawanya ke mancanegara. Berikut ini kisah inspiratif dari seorang anak desa.

Raju sekilas seperti nama orang India, namun itu adalah  nama yang disandang oleh pemuda  kelahiran Desa Sukolilo, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah ,sembilan belas tahun lalu. Pemuda bernama lengkap Moh. Khoiruddin Rajulaini ini  merupakan putra dari pasangan Sugianto dan Poni’ah. Ayahnya bekerja sebagai buruh tani tepatnya sebagai pembuat batu bata di tanah garapan milik salah seorang warga, sedangkan Ibunya berprofesi sebagai ibu rumah tangga.

Raju, anak sulung dari dua bersaudara ini sejak kecil gila betul dengan hobi menyanyi. Maka, ketika duduk dibangku kelas dua SD, Raju kecil sudah diminta bergabung dalam grup  rebana ARISMA (Aktivitas Remaja Islam Musholla Ar-Rohmah). Hal ini bermula ketika salah seorang pengurus organisasi tersebut mendengar Raju sedang bernyanyi lagu-lagu Haddad Alwi dan Sulis yang kala itu sedang booming. Raju dan kakak sepupunya pada saat itu asyik bersenandung di pojok kamar kecil rumahnya persis ditepi lorong jalan kecil untuk jalur warga ke mushola. Sehingga membuat tertarik setiap warga yang berjalan, termasuk pengurus organisasi tadi.

Menjadi personil termuda bukan berarti bernyali kecil. Ia sudah terbiasa tampil diberbagai kegiatan, grup rebananya menjadi grup rebana favorit yang sangat sering diundang untuk mengisi acara di rumah-rumah. Tidak hanya tingkat  desa, namun  sampai tingkat kecamatan, kabupaten, juga sampai ke luar kota. Bahkan beberapa kali sempat menjuarai festival rebana tingkat kecamatan dan kabupaten. Ia pun pernah seketika tersohor akibat kepiawaiannya dalam bernyanyi lagu islami di Desa Prawoto yang terpublikasi melalui salah satu stasiun TV lokal pada tahun 1997. Ini pula yang membentuk dirinya memiliki mental berani dan percaya diri.

Dari dunia tarik suara ini, rupanya Raju berhasil mendapat honor. Lima ribu rupiah adalah upah dari hasil “menjual” suaranya selama kurang lebih lima jam mulai dari pukul delapan malam hingga pukul satu pagi. Semua itu ia lakukan sebagai konsekuensi dari permintaan warga yang mengundang. Ia lakoni sampai duduk di bangku kelas 1 SMP.  Honor itulah yang sering ia tabung untuk keperluan sekolahnya.

Penghasilan bapaknya yang sebagai tukang batu bata tentu tidak seberapa jika harus menutupi berbagai kebutuhan keluarga. Bagi keluarganya,  makan nasi aking (nasi basi yang dikeringkan kemudian dimasak) itu hal yang biasa. Maka bapaknya bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Terkadang berjualan bawang keliling atau menjadi buruh panen padi milik orang lain.

Raju kecil pernah berternak kelinci karena dia memang sangat menyukai kelinci.  Dimasa itu seringkali  sang bapak yang kerja serabutan pulang kerumah tanpa membawa uang sepeserpun, hanya seikat daun pisang yang dibawa pulang. Itu pun sebagian untuk makanan kelincinya. Uang hasil ikut rebana tak cukup untuk beli lauk pauk, dan lebih sering disimpan untuk kelak membeli seragam. Akhirnya satu per satu kelinci pun harus mereka relakan untuk jadi hidangan mereka tiap harinya. Meski sayang dengan kelincinya,  namun urusan perut keluarga lebih penting, hasilnya sembilan ekor kelinci berumur tanggung telah habis dalam tiga minggu.

Di suatu malam selepas  sholat isya’, sewaktu pulang mengaji dari musholla, Raju menghampiri bapaknya yang nampak lusuh meniup bara api diperapian yang disusun dari batu-bata. Raju senang karena ia mengira malam itu ia akan makan ikan panggang atau sate. Namun ternyata berbeda dengan kenyataannya. Dengan nada membujuk bapaknya berkata “Nak, malam ini kita makan seadanya ya… bapak hanya bisa mencari ini”. “Itu apa pak?” pertanyaan polos Raju yang masih penasaran. Bapaknya menjawab  “Ini orong-orong, serangga (sejenis jangkrik) yang diberi garam sedikit dan disangrai, nanti dimakan dengan nasi”. Raju tersentak kaget, namun akhirnya ia paksakan untuk perlahan mengunyahnya beberapa ekor. Rasa lapar juga cintanya pada sang bapak mengalahkan apa yang terasa di lidah.

Tidak hanya bapaknya, ibunyapun ikut berjuang untuk keluarga. Pada suatu pagi buta ibunya pergi kepasar  mencoba peruntungan untuk berjualan buah srikaya dipasar, dan sampai siang, tak satupun terjual. Ibu kembali pulang dengan keranjang yang masih utuh isinya dengan wajah sedih menangis. Buah srikaya yang tak laku itupun tak bisa diolah, karena itu masih milik orang lain dan harus dikembalikan.

Raju kecil yang polos terkadang tak kuat menahan lapar. Ia terkadang makan di tempat orang lain karena memang tak tersisa makanan sedikit pun. Akibat  ulahnya, Raju sering kena marah orang tuanya ketika mereka mengetahui Raju makan di tempat orang lain. Mereka tak rela anaknya kelak terlalu bergantung pada orang lain.

Hutang orang tuanya sudah sangat banyak dan menumpuk. Kemana-mana dihina. Terpaksa mereka sering hanya makan nasi berbumbu garam. Jika mempunyai sedikit uang baru untuk membeli lauk dan sayuran. Meski kondisi demikian Raju tetap mempunyai mimpi, mimpi terbesarnya ialah suatu saat nanti ia akan menjadi kebanggaan orang tuanya dan menjadi inspirator bagi teman-teman senasib dengannya. Ia akan membangunkan rumah untuk keluarganya dan menghajikan keluarganya. Ia selalu berdoa kelak akan terwujud mimpi-mimpi itu.

11 Juli 1998 merupakan hari kelahiran adik yang sangat ditunggunya. Raju mulai ditanamkan oleh ayahnya tentang kemandirian. Adiknyakah yang kini mendapat giliran untuk lebih diperhatikan. Didikan keras orang tuanya membuat Raju sadar bahwa hidup itu perlu kemandirian. Tidak cengeng. Pukulan, tendangan, berkumur tanah adukan batu-bata disawah sebagai hukuman karena menangis, dan omelan sudah sering ia rasakan waktu itu. Ia menyadari semua itu adalah pelajaran berharga baginya untuk menjadi anak tangguh yang mandiri.

Di tengah kondisi seperti itu justru Raju mulai meraih prestasi. Ia masih sempat  mewakili madrasahnya dalam lomba tilawatil Qur’an di kecamatan dan menjadi juara bertahan peringkat ke-1 selama 3 tahun berturut-turut. Dibidang pramuka pun ia pernah menyumbangkan prestasi tertinggi sebagai Juara 1 Tim Pramuka Siaga bersama teman-teman dari sekolahnya.

Akhir sekolahnya di Madrasah Ibtidaiyah,  Raju dibingungkan dengan beberapa pilihan. Ia harus ikut ujian nasional, sedangkan kegiatannya di grup rebananya  juga sedang padat. Hampir tiap malam pentas dari satu desa ke desa lain. Saking padatnya, sempat ia mendapatkan nilai rapor merah disalah satu semesternya.  Mulai sejak itu ia putuskan untuk tidak ikut rebana lagi sementara waktu sampai menyelesaikan ujian di sekolah.

Menginjak Kelas VII SMP ia mulai mengenal OSIS dan menikmati betul kegiatan di organisasi itu,  hingga pulang sore menjadi hal yang biasa. Lelah beraktivitas dan berjalan jauh tiap hari ke SMP,  membuatnya benar-benar tidak pernah ikut rebana lagi.

Momentum berhenti dari grup rebana, membuat prioritasnya beralih kepada prestasi akademik dan minat bakat dilingkungan sekolahnya. Hasilnya, kembali ia mendulang prestasi,  seperti Juara 1 Lakon Drama, Juara 1 Lomba Baca Puisi, Juara 1 Lomba Baca Cerpen, Juara 2 Lomba Menyanyi Islam, dan Juara 1 Lomba Tilawatil Qur’an di SMP nya. Bahkan ia pernah beberapa kali mewakili SMP nya dalam berbagai perlombaan setingkat kecamatan hingga karesidenan.  Dalam bidang akademis pun  ia coba bangkit,  karena pernah menjadi  peringkat 46 dari 48 siswa, namun usahanya berbuah manis, ia berhasil  masuk dalam 5 siswa terbaik dan peringkat ke 6 untuk nilai ujian nasional di SMP nya. (bersambung)

 

SHARE