Reshuffle Jilid Ii Kabinet Kerja JK

0
463

Kabinet kerja adalah kabinet pemerintahan Indonesia pimpinan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla. Susunan kabinet ini berasal dari kalangan profesional, usulan partai politik pengusung pasangan Jokowi-JK pada Pilpres 2014 (PDI Perjuangan, PKB, Partai NasDem, dan Partai Hanura) ditambah PPP, PAN, dan Partai Golkar yang bergabung setelahnya, serta tim sukses pasangan Jokowi-JK pada Pilpres 2014.  Presiden Jokowi selalu membuat raport (penilaian) tiap hari, tiap minggu, tiap bulan untuk melihat kinerja menteri kabinet kerjanya.

Sayangnya, kabinet kerja JK ini pun tidak bertahan lama karena Presiden Jokowi kembali melakukan  perombakan kabinet atau biasa disebut reshuffle kabinet. Menurut Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto reshuffle adalah hak prerogatif presiden secara otonom. Sedangkan publik yakin bahwa presiden Jokowi tidak akan bisa diintervensi oleh siapa pun, sebab presiden sentralitas jagat kekuasaan. Presiden berhak mencopot menteri yang dianggap tidak kompeten dan tidak layak, alokasi nilai nilai secara otoritatif ada di tangan presiden.

Walaupun reshuffle kabinet merupakan hak prerogatif presiden, namun evaluasi kinerja bisa dijadikan bahan pertimbangan presiden dalam menilai baik buruknya kinerja para menterinya dalam kabinet. Adapun sebelum reshuffle dilakukan, Presiden Jokowi telah memanggil sejumlah menteri dalam rangka finalisasi evaluasi kinerja menteri. Seperti yang disampaikan Juru Bicara Presiden, Johan Budi, bahwa presiden terus melakukan evaluasi kinerja menteri yang dijadikan dasar dalam reshuffle kabinet.

Isu reshuffle telah ramai diperbincangkan beberapa bulan terakhir ini, dan sekarang reshuffle kabinet kerja telah resmi diumumkan oleh Presiden Jokowi. Reshuffle ini merupakan reshuffle kedua (Jilid II) pada kabinet kerja, setelah sebelumnya Presiden Jokowi pernah melakukan reshuffle pada Agustus 2015. Terdapat sejumlah menteri yang diganti dan ada juga yang hanya pindah posisi. Adapun 12 Menteri dan 1 (satu) Kepala BKPM telah diganti pada reshuffle kali ini. Hal ini merupakan reshuffle terbesar dibandingkan dengan reshuffle sebelumnya. Setidaknya ada 8 (delapan) nama baru yang masuk dalam kabinet. Beberapa nama berasal dari parpol, namun ada juga yang berasal dari kalangan profesional.

Walaupun kemudian muncul anggapan bahwa reshuffle kabinet kali ini sebagai akomodasi bagi koalisi parpol, namun Juru Bicara Presiden, Johan Budi, mengatakan bahwa perombakan ini dalam rangka untuk mempercepat pembangunan dan bukan karena kepentingan partai. Presiden Jokowi juga berharap perombakan kabinet ini bisa mendorong terbukanya lapangan kerja, sehingga angka pengangguran dapat ditekan. Reshuffle juga dianggap sebagai salah satu cara presiden dalam mengevaluasi kinerja para menterinya. Dua kali reshuffle kabinet kerja dalam 2 tahun kepemimpinan Presiden Jokowi, tergolong cepat. Apalagi jika melihat dari lama waktu kinerja para menteri tersebut dalam menjalankan program kerjanya. Oleh karena itu, bagaimana reshuffle jilid II Kabinet Kerja ini dan apakah dampak reshuffle terhadap kinerja kelembagaan kementerian?

Banyak pengamat politik yang megatakan alasan reshuffle kabinat ini bersifat politis karena hanya mengakomodasi partai-partai pendukung baru, seperti Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Golkar. Akibatnya, jika perombakan kabinet kerja hanya bertujuan untuk kepentingan politik, tidak dimungkiri dapat terjadi kegaduhan di internal partai politik. Gema reshuffle harus tetap sesuai trayek, itikad reshuffle (perombakan) dalam rangka memperbaiki kinerja kementerian, bukan sekedar bagi-bagi kekuasaan, jangan sampai publik mencium aroma tak sedap bagi-bagi kekuasaan.

Kebutuhan utama kabinet kerja ialah menteri-menteri yang mampu bekerja secara profesional, tidak sekadar mewakili kepentingan partai di pemerintahan. Sebagaimana kita ketahui, menteri adalah pembantu presiden yang memimpin kementerian. Kementerian mempunyai tugas menyelenggarakan urusan tertentu dalam pemerintahan untuk membantu presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara. Dengan adanya reshuffle kabinet tersebut yang mana terjadi pergantian pimpinan kementerian, pasti akan berdampak pada kinerja kementerian dan lembaga itu sendiri. Hal ini juga terkait pada pola dan gaya kepemimpinan masing-masing menteri yang berbeda-beda yang dikhawatirkan dapat menghambat kinerja kementerian dalam pelaksanaan program kerjanya.

Kinerja kementerian dan lembaga tidak pernah terlepas dari sosok menteri yang memimpinnya. Oleh karena itu, peran menteri sangat penting dalam meningkatkan kinerja institusi yang dipimpinnya. Dengan komposisi kabinet kerja hasil reshuffle jilid II ini diharapkan mampu memperbaiki berbagai persoalan yang muncul dan berkembang, terutama dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Dukungan DPR sebagai lembaga legislatif dengan fungsi pengawasan dan juga sebagai mitra kerja Pemerintah diharapkan dapat mendorong kabinet dalam proses peningkatan kinerja ke depannya.

REFERENSI:

Elvan Dany Sutrisno. “Jokowi Evaluasi Kinerja Menteri, Reshuffle Kabinet di Depan Mata”. http://news.detik.com/berita/3259856/jokowi-evaluasi-kinerja-menteri-reshuffle-kabinet-di-depan-mata, diakses 30 Agustus 2016.

Ray Jordan.”Seskab: Komposisi Keseluruhan, Kalangan Profesional Tetap Banyak di Kabinet”.http://news.detik.com/berita/3262432/seskab-komposisi-keseluruhan-kalangan-profesional-tetap-banyak-di-kabinet, diakses 30 Agustus 2016.

Riko Syarudin. “Hak Prerogatif Presiden di dalam UUD 1945”. http://www.academia. edu/9543497/Hak_Prerogatif_Presiden_didalam_UUD_1945 diakses 30 Agustus 2016.

“Apa itu Reshuffle Kabinet?” http://wwww. selasar.com/politik/reshuffle-kabinet, diakses 31 Agustus 2016.

BAGIKAN

LEAVE A REPLY