Reshuffle : Solusi Perbaikan Kinerja Pemerintah?

198

Oleh: Sisilia Dwi Puspita, UNSRI

“Ketika mahasiswa turun ke jalan, maka Indonesia sedang tidak baik-baik saja!”, begitulah sepenggal kalimat orasi yang seringkali dilontarkan oleh para orator saat aksi mengenai evaluasi 2 tahun kepemimpinan  Jokowi-JK yang dilakukan oleh anggota Badan Eksekutif Mahasiswa dan seluruh mahasiswa Universitas Sriwijaya yang tergabung dalm Tim Garda Sriwijaya. Terbesit dalam hati, apa kabar Indonesia hari ini? Apakah benar Indonesia sedang tidak baik-baik saja? .

Sudah 71 tahun Indonesia merdeka, namun negeri yang indah ini ternyata memang masih syarat akan masalah. Mulai dari permasalahan ekonomi, kesehatan, lingkungan, sumber daya manusia hingga permasalahan di pemerintahan dan lain sebagainya. Sudah 7 kali pergantian presiden dengan gaya kepemimpinannya yang berbeda-beda, dengan terobosan-terobosan dan gagasannya yang berbeda-beda namun belum juga memperlihatkan hasil yang signifikan terhadap perubahan masalah yang ada di Indonesia ini.

Presiden Jokowi yang merupakan Presiden Republik Indonesia yang ke-7 ini juga tentunya memiliki gagasan dan cita-cita dalam rangka memecahkan permasalahan bangsa yang tertuang ke dalam sembilan cita-cita atau yang lebih sering disebut sebagai Nawacita Jokowi-JK. Diawal masa pencalonan sebagai presiden hingga hari ini cita-cita ini selalu digadang-gadang. Namun, faktanya hari ini pemerintah lebih banyak disibukkan dengan pergantian kursi para menteri atau yang biasa disebut Reshuffle kabinet daripada fokus pada sembilan cita-cita yang digadang-gadang saat masa kampanye. Ada apa sebenarnya dengan reshuffle? Apakah reshuffle merupakan solusi dari perbaikan kinerja pemerintah kedepannya?

Menurut komite pemilih Indonesia (Tepi), Jeirry Sumampow mendukung survey dari Indonesiabarometer bahwa ada penurunan tingkat kepuasan masyarakat terhadap pemerintah sekarang secara keseluruhan. Hal tersebut seharusnya menjadi koreksi bagi pemerintah untuk melakukan perbaikan kinerja.

Reshuffle kabinet justru bukan merupakan solusi, karena reshuffle kabinet malah menimbulkan kegaduhan sosial. Bagaimana tidak menimbulkan kegaduhan sosial, pertambahan dan pergantian kursi menteri selalu terjadi ketika masuknya partai-partai oposisi ke dalam koalisi pemerintahan. Selain itu perombakan kabinet jilid-2 malah menambah rentetan permasalahan yang belum selesai. Sebut saja pengangkatan Menteri ESDM yang baru, Archanda Tahar yang memiliki dwi kewarganegaraan sehingga mengakibatkan menteri yang baru diangkat ini hanya mencicipi kursi menteri selama 20 hari dan harus kehilangan kedua kewarganegaraannya. Kemudian anehnya, untuk menggantikan posisi Archanda Tahar yang dilengserkan karena memiliki dwi kewarganegaraan ini digantikan oleh orang lain yang juga menduduki kursi kementerian. Bisa dibayangkan bagaimana kerja pemerintah akan optimal ketika satu orang menteri menduduki dua jabatan. Pemilihan menteri ini seperti pemilihan ketua kelas yang dengan mudahnya naik, tanpa ada seleksi superketat, padahal Indonesi bukan mainan.

Ditambah lagi dengan digantinya Menteri Pendidikan yang baru. Ketika permasalahan kurikulum 2013 yang belum berjalan dengan optimal, menteri yang baru sudah memunculkan kebijakan sekolah sampai pukul 17.00 yang juga banyak menuai kontra dikalangan masyarakat, praktisi pendidikan dan tenaga pengajar.

Hal-hal diatas hanyalah sekelumit pertambahan masalah dari adanya reshuffle kabinet jilid-2. Sehingga, reshuffle kabinet jilid 2 ini bukan menjadi solusi dalam perbaikan kinerja pemerintah dan banyak menuai kritik pedas dari masyarakat. Pemerintah seharusnya  lebih berfokus pada kinerja dan program kerja-program kerja yang dibuat oleh kementrian, bukan dengan mengganti ataupun merombak orang-orang dikementrian ditambah lagi orang-orang tersebut berasal dari kalangan elite politik yang baru bergabung dengan koalisi pemerintah. Sehingga, masyarakat memandang bahwa perombakan kabinet jilid-2 ini hanyalah untuk mengakomodir kepentingan para elite politik bukan untuk tujuan yang lebih besar. Ternyata benar, Indonesia sedang tidak baik-baik saja.


***


Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044
SHARE