Saatnya Kontribusi untuk Indonesia

1944

Oleh: Ganjar Widhiyoga, UGM 2000

Namaku Ganjar Widhi Yoga, saya lahir dari keluarga sederhana di sebuah kota kecil bernama Wates, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Saya anak ketiga dari tiga bersaudara. Kedua kakak saya perempuan, dan sudah kuliah ketika saya masuk kuliah. Jadi saat itu, orang tua harus membiayai tiga anak untuk kuliah.

Profesi kedua orang tuaku sebagai guru pada masa itu, tentu berbeda dengan masa kini ini. Saat ini, sebagian besar guru sudah mendapatkan sertifikasi guru yang mampu menunjang penghasilan. Penghasilan orang tuaku sangat pas-pasan, terlebih harus membiayai ketiga anaknya yang sudah duduk di bangku kuliah. Kadang mereka harus berutang untuk biaya pendidikan kami. Meski demikian, orang tua memang menekankan pada kami untuk terus sekolah. Bagi orang tua, pendidikan adalah nomor satu.

Alhamdulillah Allah memberikan jalan, saya tidak sengaja menemukan Koran Republika yang di dalamnya ada pengumuman beasiswa dari Dompet Dhuafa Republika (DD). Mendapatkan Beasiswa DD merupakan salah satu turning point dalam kehidupan saya. Selain membantu meringankan biaya kuliah, saya menjadi lebih mencintai Islam, lebih bersemangat dalam beribadah dan tergerak untuk berdakwah sesuai kemampuan saya. Bisa dibilang, jiwa spiritual saya baru tumbuh saat itu. Saya menjadi seperti sekarang tidak lepas dari pembinaan yang saya ikuti  selama mendapatkan beasiswa DD.

Beasiswa DD membukakan pintu baru bagi saya. Sebelum mendapatkan Beasiswa DD, saya termasuk ‘seadanya’ dalam ber-Islam. Orang tua saya Muslim, Alhamdulillah kami menjalankan ibadah wajib, namun tidak ada semangat dan kecintaan yang mendalam terhadap Islam. Ketika mendapatkan beasiswa DD, saya tidak mengira kalau harus mengikuti pembinaan rutin dua pekanan. Awalnya saya merasa berat, dan jujur, datang ke pembinaan hanya sebatas menggugurkan kewajiban sebagai penerima beasiswa. Tapi, masya Allah, sedikit demi sedikit rasa berat itu hilang dan digantikan dengan semangat. Saya bahkan merasa pembinaan yang dua pekan sekali itu kurang. Dari sanalah saya tergerak untuk belajar lebih tentang Islam dan mulai bergelut dalam aktivitas dakwah. Dari sini pula saya berkenalan dengan Forum Lingkar Pena (FLP), komunitas penulis terbesar di Indonesia.

Saya menjadi anggota Forum Lingkar Pena (FLP) sejak 2003. Saya tertarik dengan cerpen (cerita pendek) dan novel Islami yang dihasilkan rekan-rekan FLP akibat ikut pembinaan rutin dari DD. Alhamdulillah, teman-teman FLP memberikan amanah pada saya untuk menjadi Ketua FLP Wilayah Yogyakarta periode 2004-2006, dan menjadi Ketua Harian II FLP Pusat periode 2009-2013. Di FLP Wilayah Yogyakarta, saya dan rekan-rekan belajar menulis dan mengajarkan juga ke banyak orang. Kami pernah mengadakan pelatihan menulis untuk berbagai organisasi pelajar, kemahasiswaan dan kepemudaan di Yogyakarta dan sekitarnya. Saat ini, teman-teman FLP Yogyakarta sudah memiliki kerja sama dengan Kantor Perpustakaan Daerah untuk membuka Sanggar Menulis Ceria bagi siswa SD.

Selain itu, sejak 2008 saya dan istri juga mendirikan Taman Bacaan Guyup Rukun di rumah kami di Lempuyangan, Yogyakarta. Taman bacaan ini terbuka untuk umum dan menyediakan les pelajaran SD bagi anak-anak di lingkungan sekitar. Sebagian besar warga di lingkungan saya memang tergolong kurang mampu, sehingga pendidikan dan bacaan tidak menjadi prioritas bagi para orang tua. Untuk menyemarakkan taman bacaan, kami bekerja sama dengan Kantor Perpustakaan Daerah menyelenggarakan lomba mewarnai, lomba membaca dan lomba mendongeng setiap tahun. Alhamdulillah, masyarakat antusias dengan kegiatan ini. Itu semua tentu karena ada kontribusi nilai yang disemaikan DD.

Saat ini, saya menjadi Dosen Ilmu Hubungan Internasional di Universitas Slamet Riyadi Surakarta, Jawa Tengah. Alhamdulillah saat ini pula saya tengah menempuh kuliah doktoral di School of Government and International Affairs, Durham University, Inggris. Pada 2012-2013, sebelumnya, saya menempuh studi di School of Geography, Politics and Sociology, Newcastle University dan berhasil mendapatkan Postgraduate Certificate in Research Training.

Indonesia Tidak Miskin Keteladanan

Ketika mencoba mengurai benang kusut bertajuk Indonesia, selama ini saya, Ganjar Widhi Yoga, selalu melontarkan bahwa dasar peliknya masalah adalah miskinnya teladan di Indonesia. Bagaimana tidak, para pemimpin yang seharusnya memberi teladan pada masyarakat ternyata satu demi satu terkena masalah.

Mulai dari anggota parlemen yang mengkhianati suara konstituennya, hakim yang menerima suap, sampai pemangku eksekutif yang alih-alih membangun negeri, malah membangun dinasti politik. Kerajaan Republik Indonesia, demikian seloroh pahit saya saat menyebutkan fenomena dinasti politik itu. Praktek yang sudah terjadi sejak lama, dan jamak di berbagai penjuru nusantara. Belakangan ini media menyorot fenomena dinasti politik, terbatas di Banten. Bagaimana kabar dinasti politik di Jakarta?

Miskinnya keteladanan, menjadi penjelasan sekaligus alasan ketika saya tidak mampu berbuat apapun untuk Indonesia. Saya pun mampu menghabiskan waktu berjam-jam untuk menjelaskan, betapa si A yang seharusnya begini ternyata begitu. Betapa si B yang saya harapkan demikian ternyata tidak. Betapa si C, D dan seterusnya bertubi-tubi tidak mampu menjadi teladan bagi saya, dan masyarakat Indonesia.

Tapi betulkah Indonesia negeri yang miskin keteladanan? Ternyata tidak. Hari-hari ini, banyak berita tentang figur inspiratif yang layak untuk saya jadikan teladan.

Ada seorang nenek yang bekerja sebagai pemulung, giat menabung tujuh tahun untuk menunaikan Qurban. Ada seorang pria yang tidak menerima gaji selama setahun, kontraknya tidak jelas, namun tekun membina pesepak bola muda. Dari tangan dinginnya, para pemuda tersebut berhasil memenangkan piala AFF.

Ada banyak gubernur/walikota/bupati yang bekerja serius membangun daerahnya; Herry Zudianto (Wali Kota Yogyakarta), Joko Widodo (Gubernur Jakarta), Nur Mahmudi (Wali Kota Depok), Ahmad Heriyawan (Gubernur Jawa Barat), Tuan Guru Bajang (Gubernur Nusa Tenggara Barat), Tri Rismaharini (Wali Kota Surabaya), Ridwan Kamil (Wali Kota Bandung) adalah sedikit nama yang saya tahu. Saya yakin, insya-Allah ada lagi kepala daerah penuh prestasi yang tidak saya ketahui nama dan prestasinya.

Ada Ibu Guru yang tekun mengajar sambil menggendong putranya yang lumpuh. Beliau insya-Allah satu dari ratusan guru yang serius memikirkan pendidikan di negeri ini.

Ah, tapi itu di luar sana. Bagaimana di dekat saya? Ternyata sama. Ada banyak sosok yang menginspirasi, layak saya jadikan teladan.

Saya kenal dokter-dokter muda yang tidak mata duitan, yang benar-benar mengabdi untuk menyehatkan warga. Mereka melakukan itu baik di semua tempat yang memungkinkan: rumah sakit besar, puskesmas, layanan kesehatan gratis.

Saya kenal para fresh graduate yang alih-alih meniti karir pribadi, memilih mengajar di pelosok Indonesia dan berbagi ilmu bersama adik-adik mereka. Mereka melakukan itu bukan karena tidak laku cari kerja; tapi karena pengabdian.

Saya kenal rekan-rekan yang penuh ketekunan merajut kembali makna “menjadi Indonesia”; mengajarkan toleransi, saling menghormati, proses politik yang sehat, pendidikan anti-korupsi, mencintai budaya sendiri, menggaungkan produk lokal. Mereka masih muda, namun saya iri dengan binar semangat di mata mereka ketika berbicara masa depan Indonesia. Saya kenal para penulis yang setia menyampaikan nilai kebenaran dan budi luhur, alih-alih menghamba pada syahwat dan popularitas yang didapat melalui sensasi.

Saya pun sampai pada kesimpulan: Ah, ternyata, masih banyak teladan di Indonesia. Jika selama ini saya merasa Indonesia itu miskin teladan, mungkin saya mencari keteladanan di tempat yang salah. Jika selama ini saya merasa pemimpin Indonesia tidak mampu memberi teladan, mungkin saya meletakkan kepemimpinan di tangan orang yang salah. Jika selama ini saya merasa tidak ada yang layak ditiru, mungkin karena saya tidak mau meniru mereka yang bekerja nyata!

Saatnya saya berubah!

Saatnya saya melihat dan mengakui semua tindakan positif di sekitar saya sebagai sesuatu yang layak menjadi teladan. Tidak lagi mencari keteladanan di tempat yang sempit dan menuntutnya dari orang-orang tertentu saja.

Saatnya saya menjadikan orang-orang yang giat bekerja sebagai pemimpin. Tidak lagi menjual suara pada janji kosong, tidak juga apatis dan masa bodoh pada proses regenerasi kepemimpinan di Indonesia.

Saatnya saya ikut berkontribusi, menyumbangkan apa yang saya bisa untuk membangun Indonesia. Tidak lagi menjadikan “miskin keteladanan” sebagai alasan dan tabir bagi kemalasan saya untuk bekerja. Tidak lagi menjadikan “miskin keteladanan” sebagai pembenar atas perilaku merusak bangsa. Saatnya saya menjadi bagian dari keteladanan, dan bersama-sama memperkaya teladan di Indonesia.


***


Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044
SHARE