Sejarah Minang: Mengembalikan Pusako Pemikiran

611

Oleh: Khairunnas (Universitas Sriwijaya)

Minang merupakan besi menyerupai tanduk kerbau yang pernah dipakai dalam peristiwa adu kerbau. Ketika itu untuk mendapatkan tanah Minangkabau (Sumatera Barat) terjadi perebutan wilayah yang kemudian harus diselesaikan dengan pertarungan adu kerbau. Orang Minang ketika itu hanya memiliki satu anak kerbau saja, sementara pihak lawan memiliki kerbau betina yang badannya besar sekali. Dalam peristiwa pertarungan ini, akhirnya orang Minang tetap ikut bertanding dengan memakaikan besi Minang sebagai pengganti tanduk anak kerbau yang belum memiliki tanduk sama sekali dan pertarungan pun dimulai.

Melihat orang Minang hanya mengandalkan anak kerbau, maka pihak lawan sangat menganggap remehnya dan orang Minang ternyata telah sengaja membuat anak kerbau tadi kelaparan. Sehingga ketika pertarungan dimulai maka anak kerbau langsung berlari untuk menyusu di perut kerbau betina lawan, dan Minang (tanduk besi) yang ada di kepala anak kerbau langsung menyobek perut kerbau lawan. Kerbau betina yang besar itu pun tumbang, dan orang Minang pun keluar sebagai pemenang dari pertarungan tersebut. Pada akhirnya tanah yang diperebutkan dapat dimiliki sepenuhnya oleh orang Minang dan sejak saat itu lahirlah sebuah peradaban yang dinamakan Minangkabau. Begitu singkat ceritanya.

Dari sejarah sebenarnya, pola pikir dan konsepsi yang dipakai oleh orang Minang sudah terlihat sangat cemerlang. Hingga kebudayaannya pun dipandang sebagai sebuah peradaban yang fenomenal sampai sekarang. Prinsip ditanam seiring dengan petuah agama, Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah (adat bersendikan syariat, syariat bersendikan kitab Allah). Prinsip–prinsip pemikaran adat Minangkabau merupakan hasil turunan dari isi kitab Al-Quran, sehingga adat Minangkabau identik dengan kehidupan yang Islami.

Alam takambang jadi guru (belajar dari alam) merupakan prinsip dasar yang mendorong orang–orang Minang untuk menjadi pembelajar yang tekun dari hal–hal yang sangat sederhana. Sehingga yang diharapkan dari sebuah proses belajar orang Minang adalah memahami sesuatu yang kecil tetapi harus berpengaruh kepada moralitas (aplikatif). Keindahan prinsip–prinsip tersebut semakin menyentuh karena disajikan dalam bahasa–bahasa sastra yang indah, sehingga dalam mengatur kehidupan masyarakatnya orang Minangkabau sangat memperhitungkan etika dan sopan santun, terutama dalam hal saling mengingatkan kesalahan. Oleh karena itu bukanlah sesuatu yang mengherankan, ketika orang–orang Minang terbentuk sebagai pribadi yang perasa, karena di lingkungannya dididik dengan pepatah-petitih yang mengandung sindiran dan makna tersirat dalam kebiasaan bermasyarakat.

Prinsip yang ditanamkan dalam berpikir dan berprilaku tersebutlah yang membuat banyak pemikir–pemikir lahir dari Ranah Minang, dengan gaya bahasa sastra yang identik dengan filosofi–filosofi budaya Minangkabau. Tokoh–tokoh seperti   Imam Bonjol, Tan Malaka, Taufik Ismail, Hatta, Syahrir, Hamka, Agus Salim dan masih banyak tokoh–tokoh Minangkabau yang terus bermunculan dengan passion yang lebih kurang sama. Maka dalam praktik sejatinya pusaka pemikiran terus diwariskan, hanya saja perlahan terus terkikis oleh pemikiran–pemikiran baru yang dianggap lebih modern, dan sayangnya seiring dengan pengaruh budaya barat yang sedang terjadi, putra–putri Minangkabau terpengaruh dan secara perlahan meninggalkan budaya mereka. Artinya, hilangnya budaya tentu akan sangat berpengaruh terhadap pelestarian prinsip–prinsip Minangkabau yang menjadi pusako pemikirannya.

Akan tetapi harapan sebenarnya masih terus hidup, masih banyak putra–putri Minang yang pergi merantau untuk menimba ilmu yang lebih banyak di negeri orang tetap mempertahankan ciri khas mereka sebagai orang Minang, yang hal tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi orang–orang di wilayah rantau terhadap budaya Minangkabau. Indahnya alam Sumatera Barat pun menjadi daya tarik tersendiri untuk mengunjunginya, sehingga lewat pariwisata budaya putra–putri Minang pun disindir dengan sangat halus bahwa mereka harus tetap hidup sebagai peradaban yang kaya akan budaya dan pusaka pemikiran, seperti orang–orang yang datang mengunjungi tanah Minang, dan mereka yang datang sangat mengaguminya sebagai salah satu peradaban besar yang syarat dengan nilai–nilai agama, etika dan sopan santun.


***


Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044
SHARE