Seni Dalam Kepemimpinan

223

Oleh: Elian Devina (Kedokteran UNS)

Di dunia yang semakin canggih dan modern saat ini tersimpan berbagai masalah yang siap menghadang kapan pun. Saat ini orang-orang semakin mudah dalam menyampaikan aspirasi dan argumen di depan khalayak umum dengan didukung oleh majunya teknologi. Masyarakat semakin bebas berpendapat dan berkicau sesuka hati melalui akun media sosialnya. Tak jarang banyak orang yang “tong kosong nyari bunyinya”. Hanya sedikit ilmu dan berita yang ia ketahui, tapi sudah ribuan kata yang ia lontarkan disertai hujatan-hujatan yang tak ayal sering membuat orang yang membacanya terpengaruh, ikut geram dan emosional. Orang-orang semacam itu memang sulit untuk dikendalikan karena mereka menganggap itu adalah hak mereka dalam menyampaikan pendapat. Tak jarang itu juga terjadi pada pemimpin-pemimpin saat ini

Dinamika Masyarakat dan Krisis Kepemimpinan

Hidup dalam masyarakat yang beraneka ragam pasti akan menemui berbagai dinamika yang tak bisa dihindari. Setiap orang pernah merasakan jatuh bangun dalam kehidupan bermasyarakat. Hanya saja yang membedakan apakah ia layak menjadi pemimpin adalah saat ia mampu bangkit kembali, bergerak, dan pantang menyerah ketika kegagalan menimpa dirinya. Fakta yang terjadi di lapangan saat ini adalah tak banyak orang yang mampu dan layak menjadi pemimpin berintegritas. Pemimpin yang berintegritas adalah pemimpin yang mempunyai karakter yang kuat dan berlandaskan iman taqwa untuk menjadi pedoman memimpin. Para pemimpin itu mungkin dari luar terlihat baik, mampu untuk memimpin, banyak janji yang ditawarkan tetapi ketika kesempatan memimpin sudah didapat, ia belum punya pondasi yang kuat dalam dirinya. Pun hal-hal prinsipal dan fundamental yang seharusnya ia jadikan pedoman dalam memimpin sering dilupakan karena dibutakan oleh ketamakan. Banyak pemimpin yang korupsi, melakukan penyuapan, hingga masuk penjara. Mereka adalah contoh pemimpin yang tidak berintegritas. Oleh karena itu, dunia sedang mengalami krisis kepemimpinan.

Proses Menjadi Pemimpin Berintegritas

Menjadi seorang pemimpin tidaklah mudah. Semua orang adalah pemimpin. Minimal menjadi pemimpin untuk dirinya sendiri. Namun apakah ia sudah mampu menjadi pemimpin yang berkarakter kuat? Pemimpin yang berkarakter kuat dan berintegritas memerlukan proses. Tentu proses yang tidak bisa hanya dalam satu malam. Maka, pemimpin yang baik pun tak bisa tercipta dalam satu malam. Perlu tahapan demi tahapan yang harus dilalui dan ujian yang menghadang sebelum menjadi pemimpin yang ideal.

Saya merasakan sendiri sulitnya menjadi seorang pemimpin. Pemimpin mahasiswa dan pemimpin dalam masyarakat. Sejak saya SD, saya sering dipercaya untuk menjadi ketua kelas hingga ketua dokter kecil di sekolah. Pada jenjang SMP dan SMA juga begitu. Saat saya duduk di bangku SMA, saya benar-benar merasakan menjadi pemimpin yang sesungguhnya dan merasakan hal yang berbeda dibandingkan dengan SD dan SMP. Mungkin jika dahulu saya masih punya tameng yaitu guru saya, tetapi di SMA ini apa yang saya lakukan dan gerak gerik saya akan selalu menjadi sorotan publik serta banyak hal yang harus saya pertanggungjawabkan seorang diri. Dari sana saya menyadari saya harus banyak belajar untuk memperbaiki diri sendiri sebelum memperbaiki orang lain dan lingkungan.

Organisasi yang saya ikuti di SMA memang cukup spesial. Nilai-nilai berorganisasi yang ditanamkan di sekolah saya pun sarat akan makna. Untuk bisa menjadi salah satu bagian dari organisasi itu saja harus mengikuti rangkaian eleksi yang ketat dimulai dari seleksi berkas, wawancara, hingga proses yang dinamakan “regenerasi”. Regenerasi ini adalah suatu proses pengkaderan dan penanaman nilai-nilai untuk bekal diri sendiri dan memimpin kelak. Regenerasi ini bernama Bimbingan Dasar Manajemen (BDM) MPK. Sebuah pelatihan yang saya rasa cukup keras dan berat bagi seorang anak SMA. Pun sebuah proses yang menuntut kita untuk mampu memajemen diri, keluarga, finansial, dan akademik. Setiap hari dituntut untuk berani berbicara di depan umum, berani menyampaikan pendapat, selalu jujur, semangat, pantang menyerah, seimbang dalam urusan diri sendiri juga organisasinya, dan sebagainya. Sebuah “penggemblengan” yang luar biasa bagi saya. Hingga akhirnya setelah masa regenerasi berakhir dan saya harus merasakn kondisi real di lapangan untuk memimpin SMANSA. Saya menyadari bahwa BDM tidaklah ada apa-apanya dibanding beratnya harus mempertanggung jawabkan amanah yang sudah diberikan.

Saat ini saya adalah seorang aktivis sosial di kampus sekaligus seorang pemimpin dalam sebuah organisasi kedokteran di tingkat nasional. Atmosfir yang saya rasakan berbeda lagi ketika saya menjadi salah satu aktivis kampus. Di bangku perkuliahan, kondisi organisasinya dan kepemimpinannya sangat berbau politik. Ada beberapa hal yang berbau kepalsuan. Ada pula orang yang mendekat jika ada kepentingan sesaat, setelah mendapatkan hal yang ia inginkan kemudian pergi entah kemana. Amanah yang dipikul pun semakin berat. Namun di sisi yang lain tak jarang saya belajar dari para pemimpin kampus tersebut yang tetap kece dalam memimpin tapi ia juga berprestasi. Ternyata ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dilatih jika kita ingin menjadi pemimpin yang ideal.

Seni dalam Memimpin

Selama saya menjadi aktivis kampus, saya banyak belajar bahwa tipe orang dalam menjadi seorang pemimpin itu berbeda-beda. Memimpin dibutuhkan keahlian khusus dan memimpin adalah sebuah seni. Seorang pemimpin jika tidak punya pondasi yang kuat akan mudah runtuh dan tidak maksimal dalam menjalankan amanahnya. Pemimpin itu harus selesai dengan urusannya sendiri dahulu baru menyelesaikan urusan umat banyak. Kemudian dia juga harus mempunyai skill dalam mempengauhi orang banyak, mengajak orang, melakukan perubahan-perubahan yang baik, mampu berdiplomasi, public speaking yang bagus dan sebagainya. Satu hal yang paling penting dia harus mempunyai karakter yang kuat dalam dirinya.

Pembangunan karakter dimulai sejak kita masih kecil. Pembinaan dan pendidikan orangtua di rumah sangat mempengaruhi karakter seseorang. Penanaman nilai-nilai spiritual, bersikap sopan santun, ramah, suka menolong orang, jujur, amanah, team building yang baik dan sebagainya sejatinya sudah kita pelajari sebelum duduk di bangku sekolah. Membangun karakter yang baik ini bisa dilatih dan dapat menjadi bekal yang sangat penting saat kita meminpin.hal tersebut menjadi kunci utama yang harus dipegang jika kita ingin menjadi pemimpin yang ideal.

Tidak hanya itu seorang pemimpin juga harus mempunyai modal lain yang dapat menunjang. Modal seorang pemimpin diantaranya memahami lingkungan di mana kita berada, mampu manajemen diri, peka terhadap sekitar, komunikasi yang efektif, dan bersikap fleksibel namun berkarakter kuat. Apabila kunci utama sudah dijaga dan dimanfaatkan dengan baik, maka polesan lainnya akan semakin mempercantik hasil memimpin kita.

Itulah beberapa hal sekiranya yang mampu saya bagikan kepada para pembaca. Saya sudah membuktikannya sendiri, bagaimana dengan kamu? Sudah siapkah menjadi seorang pemimpin masa depan?

Dibuka kesempatan untuk mewujudkan merawat Indonesia bersama para aktivis nusantara!

Info lebih lanjut silakan kunjungi www.beastudiindonesia.net dan follow @baktinusauns

#IkutBAKTINUSA #WeAreLeaders


***


Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044
SHARE