Seni Memimpin

206

Oleh: Ibnu Asyrin

Katakanlah: ”Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS. Al-‘Imran (3):26).

Allah adalah Tuhan semesta alam, yang telah membuat rakayasa atau konspirasi dialam semesta ini, tidak ada makar yang mampu menandingi makarnya. Dia yang Maha penyayang yang sayangnya tidak terbilang, Maha pengasih yang memberikan kasih tidak pernah pilih kasih, Allah yang merajai langit dan bumi beserta seisi didalamnya, termasuk kita sebagai manusia yang menyembah kepadaNya, tiada daya dan upaya atas segala amanah yang kita emban melainkan atas izin dariNya, sehingga Allah memberikan amanah, ujian, dan cobaan sesuai dengan kadar keimanan dan ketaqwaan hambaNya, memberikan berbagai pelajaran kepada kita agar bisa naik kelas ke jenjang berikutnya. Allah tidak memberikan amanah itu ringan, tapi memberikan amanah sebagai tiket untuk naik kelas dan menguatkan pundak-pundak hambaNya yang berbaris rapi dijalan-Nya.

Jika kita ingin belajar kepemimpinan, maka sosok Muhammad adalah role model paling tepat untuk dijadikan qudwah oleh kita, manusia biasa layaknya seperti kita, tapi telah dipilih Allah sebagai manusia mulia yang membawa risalah keNabian terakhir sebagai penutup para anbiya. Kepemimpinan salahsatunya berbicara tentang pengaruh, Maka sangat pantas, jika seorang astrofisikawan Michael H. Hart walaupun dia bukan orang muslim, menjadikan beliau sebagai manusia paling berpengaruh nomor 1 dalam bukunya yang diterbitkan pertama kali tahun 1978 “the 100 ranking of the most influental persons in history.” Bisa dibayangkan betapa sangat luar biasa gelombang kebaikan yang sudah berjalan lebih dari empat belas abad lamanya, dan masih sangat relevan ajarannya, ajaran Islam sebagai Rahmatan lilaalamiin sampai didetik ini di generasi kita, tugas kita selanjutnya adalah terus menjaga kemuliaan dan keagungan ajaran beliau, beliau mengatakan “berpeganglah kepada dua hal, alquran dan as-sunnah agar kamu tidak tersesat.”

Hidup adalah siklus yang niscaya, ada yang datang dilahirkan ke muka bumi ini dalam keadaan lucu dan menggemaskan, namun ada juga yang pergi, untuk kembali kepada pemilik jiwa kita. Termasuk didalamnya antara datang dan pergi dalam kehidupan, ada proses dan fase dimana manusia terus berkembang kearah lebih baik. Agar kelak ketika panggilan itu datang, panggilan bahwa ujian kehidupan sudah usai dilakukan dimuka bumi, manusia sudah siap dengan segala perbekalannya, perbekalan yang bisa menjadi penolong dihari pembalasan.

Memimpin adalah salahsatu ujian yang diberikan oleh Allah, pemberi kepemimpinan yang menuliskannya dilembaran yang suci di lauhil mahfudz sebelum semuanya tahu akan kepemimpinan hendak diberikan kepada siapa, apakah kita bisa melewatinya dengan baik atau malah kita mendapatkan nilai merah dirapot. Pada hakikatnya, sebuah kepemimpinan adalah fase untuk menempa diri, untuk bisa melewati fase ini setidaknya memiliki kualitas keimanan yang utuh, memiliki ilmu yang cukup, dan ikhtiar yang maksimal, sehingga fase ini bisa kita lewati dengan baik dan naik kelas ke jenjang berikutnya.

Kita semua terkadang memang tidak pernah bermimpi untuk menjadi seorang pemimpin atau mendapatkan amanah, namun realitanya Allah memberikannya kepada kita. Maka kesempatan yang itu seharusnya kita tunaikan dengan sebaik-baiknya dan semulya-mulyanya. Ketika mendapatkan suatu amanah, memang akan menjadi hari dimana kita akan melewati masa-masa penempaan dan ujian yang tidak seperti hari-hari biasanya, dan entah kedepan akan terkalkulasi berapa banyak pelajaran yang akan kita dapatkan. Kata Kasman Singodimedjo murid dari H.Agus Salim mengatakan, “leiden is lijden, memimpin adalah mederita.” Ya memang benar, kepemimpinan itu bukanlah sesuatu hal yang mudah, namun membutuhkan effort yang luar biasa, harus bisa ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, dan tutwuri handayani. Kepemimpinan adalah sebuah keteladanan, mampu menggerakkan, dan mau juga mendengarkan. Kita memiliki satu mulut untuk sedikit berbicara kecuali perkataan yang berkualitas, memiliki dua telinga untuk lebih banyak mendengarkan dan menerima saran dan kritik yang konstruktif, memiliki dua bola mata untuk lebih teliti dan berhati-hati, memiliki fikiran jernih untuk melahirkan gagasan-gagasan brilliant, dan memiliki hati untuk menjalaninya dengan kelembutan dan kesabaran.

Kita selalu berharap dalam proses kepemimpinan apapapun bisa terasa sejuk, indah, dan menyenangkan, walaupun pasti akan ada dinamika didalamnya, menghadirkan kebahagian dalam setiap derap langkah perjuangan-bahagia itu saat ini, bahagia itu disini, dan cara untuk berbahagia adalah dengan membuat orang lain bahagia- Sejatinya memang tidak ada manusia yang sempurna, begitupula dengan apa yang dilakukannya termasuk dalam sebuah kepemimpinan. Dengan terus ikhtiar memperbaiki diri, lembaga, dan lingkungan sekitar. Terus mengevaluasi disetiap proses yang dilakukan, dengan tidak melupakan sejarah sebelumnya, guna terhubugnya estafet perjuangan yang berkelanjutan,

Dalam setiap proses kepemimpinan pasti banyak pihak yang turut andil dalam perjuangan baik secara moril maupun materil, maka bergeraklah sesuai apa yang kita yakini, pasti akan orang-orang yang memiliki nafas perjuangan yang sama dengan kita, sehingga kita tidak merasa sendiri. Dalam jumlah berapapun pejuang itu, pastikan kita ada didalmnya, dan jika hanya ada satu, pastikan itu juga adalah kita yang lantang terus menyuarakan kebaikan. Jangan takut apa yang dikatakan orang apalagi kata Koran, tapi takutlah apa yang akan dikatakan para sejarawan suatu saat nanti. Sejarah akan membuktikan siapa saja yang benar-benar memperjuangankan nilai kebaikan dalam sebuah kepemimpinan.

“Allah pasti menjaga dan menguatkan hamba-hambaNya yang memiliki kemauan yang keras untuk berubah lebih baik. Bukan hamba lemah yang tidak memiliki harapan dan memandang hari esok sebagai hari dengan cuaca mendung yang diliputi awan hitam. Hari ini adalah kenyataan, kemarin adalah kenangan, dan esok adalah harapan, mari tatap masa depan gemilang dengan penuh keyakinan.”


***


Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044
SHARE