Serentang Nilai Nusantara

454

Oleh: Khairunnas, Universitas Sriwijya

~ Perbedaan adalah ukuran sebuah nilai, bukan tentang benar atau salah, tapi tentang memahami.~

Budaya adalah hal yang tak asing di negeriku ini. Sebuah kondisi di mana muncul banyak keunikan dalam setiap segi kehidupan. Indonesia hadir sebagai pemersatunya, dengan sebuah kata prakarsa “Bhineka Tunggal Ika”. Dan berawal dari itulah negeri ini berjuang, tumbuh dan tetap hidup dalam perjalanan menuju cita–cita kejayaannya. Budaya memang menjadi warna, hal yang kemudian melahirkan banyak karya seni yang indahnya pun berbeda–beda. Karena itulah negeri ini kaya, menjadi maestro yang tak ternilai harganya dimata dunia.

Dari Sabang sampai Marauke, dengan suku, bahasa dan agama yang berbeda. Tapi semua hidup dalam satu nama nusantara yang sama yaitu Indonesia. Perbedaan memang adalah sebuah keniscayaan sebagai anugerah yang indah, perbedaan dari segala aspek yang hidup menjadi sebuah kelaziman yang utuh dalam sebuah pemersatu atau sewaktu–waktu bisa saja menjadi penyebab kegaduhan. Itulah yang membuat orang–orang berbendera merah putih ini hidup bukan sekadar bermodalkan aturan saja, tapi kita membutuhkan nilai–nilai kehidupan dari sekecil apapun aspek itu. Nilai akan menjadi perekat yang sangat kuat, karena bernilai membuat seseorang bisa melihat dari “dua kacamata” yang berbeda, memahami, berdaya cipta dan berpadu dalam satu nilai kebangsaan yang telah dipilih sebagai cita–cita yang diinginkan pendiri negeri ini sejak lama.

Kita berangkat dari banyak fakta dan lembaran kisah sejarah perjuangan, di mana nilai perjuangan menjadi fondasi yang sangat kuat dalam upaya merebut kemerdekaan. Mereka yang dahulu berkorban dan mengabdi untuk negeri ini menyerahkan segala daya upaya mereka untuk memerdekakan Indonesia. Nilai itu juga yang kemudian menjadi pemicu munculnya banyak perlawanan di daerah–daerah nusantara terhadap penjajahan, meskipun terdiri dari suku, budaya dan agama yang berbeda. Akan tetapi, terlihat seolah–olah terkordinir untuk melakukan perlawanan serentak atas dasar tujuan yang sama yaitu untuk cita–cita kemerdekaan Indonesia.

Dalam perjalanannya, nilai dan budaya menjadi satu koin mata uang yang tak terpisahkan. Karena kebudayaan bisa disebut sebagai wujud, sementara nilai menjadi ruhnya. Budaya kemudian menjadi perekat antara moral dalam realitas kehidupan masyarakat Indonesia. Semangat kegotong royongan, adab sopan santun dan masih banyak efek positif yang timbulkannya. Hal ini juga yang membuat budaya seolah begitu “keramat” perannya dalam pendidikan generasi–generasi muda disetiap daerah, sehingga lahir kelaziman hukum dalam bentuk baru yang dinamakan dengan “budaya”. Meskipun dalam posisinya tidak tercantum secara formal dalam tata aturan dan hukum negara, tetapi realitanya budaya menjadi referensi tata kemasyarakatan yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat dan memberi pengaruh yang sangat penting.

Berbicara tentang pengaruh, tingkat pemahaman terhadap budaya melahirkan banyak pembicaraan hampir disetiap kalangan masyarakat. Entah benar atau tidak, bobroknya nilai–nilai dan moralitas generasi muda yang terjadi pada saat ini, disinyalir sebagai akibat budaya itu tidak dapat dipahami oleh generasi tersebut. Di sinilah yang menjadi poin perdebatannya, apakah karena minat generasi muda terhadap pembelajaran budaya sedemikian terkikisnya? Atau karena generasi sebelumnya yang tidak mampu mewariskan nilai–nilai dan kebudayaan itu dengan wujud yang sebenarnya? Atau lagi bisa saja karena tekanan arus barat yang kemudian membuat generasi muda lebih tertarik dengan kebisaan generasi barat yang modern, meskipun harus bertentangan dengan nilai dan kebudayaannya sendiri. Semua hipotesis itu benar, akan tetapi tak ada yang bisa menjelaskan dengan pasti berapa persentasi dari masing–masing faktor masalah tersebut. Sehingga yang terjadi adalah munculnya gagasan pendidikan karakter yang tidak jelas duduk fungsi pelaksanaannya, dan yang terjadi adalah hampir disetiap wilayah berbicara konsep pendidikan karakter, tapi sayang sekali tidak ada daya upaya yang sebanding dengan tingkat keseriusan masalah moral yang sedang dihadapi pada saat ini.

Terlepas dari itu semua apapun yang menjadi masalah pada hari ini, perbaikannya merupakan tanggung jawab bersama yang berawal dari individu–individu masyarakat itu sendiri, bukan justru menunggu dan mengandalkan pihak lain untuk muncul dan merubahnya. Karena apabila berkaca dari catatan sejarah perjuangan yang telah diceritakan sebelumnya, budaya tidak harus tersusun secara formal baru bisa memberi pengaruh, akan tetapi budaya muncul sebagai nilai–nilai yang wujudnya ada dalam sikap dan tindakan sehari–hari yang terlihat sangat kecil tapi berdampak besar pada pembentukan moralitas generasi bangsa. Dan yang terakhir apapun persoalan yang terjadi, tak selalu harus tersistem dalam penyelesaiannya, akan tetapi yang dibutuhkan adalah kesadaran dan keseriusan masing–masing generasi untuk mengambil peran perbaikan. Dan lagi–lagi bukan sekedar keseriusan dalam bergagasan, tapi keseriusan dalam bentuk tindakan nyata yang melebihi tingkat keseriusan masalah yang sedang kita hadapi. Sehingga kejayaan nilai dan budaya bisa kembali lagi dengan keberagamannya yang tetap utuh, serentang luasnya nusantara ini.


***


Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044
SHARE