Setelah Dering dari Arab Saudi

390

Saya anak bungsu dari keluarga buruh petani di Desa Karang Reja, Kecamatan Suranenggala, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Abdul Karim, itulah nama yang diberikan ayah 23 tahun silam. Selain bungsu, saya anak laki-laki diantara tiga kakak perempuan. Ayah mengajarkan anak-anaknya hidup sederhana, mensyukuri apa yang ada di rumah. Saya mengenal ayah sebagai laki-laki dengan watak tenang, penyabar, tentunya sayang terhadap keluarganya.

Ayah dan ibu tak punya ijazah pendidikan. Mereka hanya pernah mengenyam pendidikan Sekolah Dasar kendati tak sampai tuntas. Untuk menghidupi keluarga, ayah dan ibu bekerja. Ayah lebih banyak menghabiskan waktunya dengan bertani, meski kadang beralih menjadi tukang bangunan. Adapun ibu berdagang kerupuk di pasar, dan jika ada permintaan dari Ayah, ibu membantu sebagai buruh tani. Kendati pas-pasan, jarang sekali mereka mengeluh.

Karena kondisi keuangan yang mepet, ayah hanya mampu menyekolahkan tiga putrinya sampai bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Inilah pengorbanan tiga kakak saya meski punya cita-cita ingin berpendidikan lebih tinggi seperti banyak diidamkan banyak anak-anak seusianya. Kakak pertama memilih menikah dan berdagang. Sedangkan kakak kedua dan ketiga bekerja menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Arab Saudi. Keduanya bekerja di sana sejak saya duduk di bangku Sekolah Dasar hingga saat ini.

Ketika saya masuk kelas 5, keluarga ditimpa musibah. Ayah sakit dan dokter memvonis ada gangguan syaraf di kakinya. Akibatnya beliau sulit mengayunkan kaki. Dari hari ke hari kondisinya tak kunjung membaik. Beberapa bulan merasakan kesulitan melangkahkan kaki, Ayah semakin tak kuat. Belakangan Ayah menderita kelumpuhan permanen. Aktivitasnya hanya bisa berbaring di tempat tidur. Berbagai macam obat sudah dikonsumsi namun kesembuhan tak kunjung datang. Kami juga mencoba datang ke paranormal yang disebut-sebut nomor wahid di kampung kami. Namun pilihan ke dukun juga tak memberi hasil. Akibat berobat ke sana ke mari, menguras semua simpanan hasil tani.

Sakitnya Ayah memengaruhi jadwal kegiatanku sehari-hari. Pulang sekolah saya selalu memandikan, meramu obat, atau bahkan sekadar memotong kuku Ayah. Aktivitas ini pelan-pelan mengubah sifat saya.

Sebelum ayah jatuh sakit, saya kecenderungan bersifat manja, hampir semua keinginan harus dipenuhi. Namun, sifat itu berangsur-angsur saya kubur, setelah melihat penderitaan Ayah. Kesabarannya membuat saya selalu mengingatnya. Pernah suata hari ketika Ayah masih bugar, saya diminta mengambilkan kaca dan gunting oleh Ayah yang ingin memotong kumis. Saya menolak, namun Ayah tak marah sedikit pun. Beliau hanya tersenyum dan mengatakan: “Nak, kalau disuruh itu jangan menolak, mesti dilakukan dengan ikhlas”. Nasihat ini yang selalu mendorong saya berusaha kuat menerapkannya dalam semua aktivitas.

Pada tahun ketiga ayah bertahan dengan sakitnya, saya masuk SMP. Namun di tahun itu pula, saya harus kehilangan Ayah. Pada 2003, laki-laki yang selalu membanggakan anak laki-laki satu-satunya itu harus berpulang. Rasa sedih yang mendalam dirasakan oleh keluarga kami. Saya begitu kehilangan sosok yang mengajarkan arti bersabar dan ikhlas. Bayang-bayang sosok Ayah selalu saya nantikan, beliau adalah sosok yang begitu ikhlas dalam menjalani kehidupan. Saya bangga memiliki ayah seperti beliau. Keteladanan Ayah banyak menginspirasi sikap dan tingkah laku saya hingga saat ini.

Setelah Ayah tiada, saya membantu kakak sulung berjualan di rumah suaminya. Hasilnya bisa untuk mencukupi biaya sekolah saya. Setiap pulang sekolah saya langsung pergi ke rumah kakak, membantunya berjualan. Jika malam sudah larut, saya pulang dengan membawa upah Rp 10 ribu. Meskipun harus bekerja setelah bersekolah, saya tidak kehabisan waktu mengerjakan pekerjaan rumah (PR) dan belajar. Ketika toko sepi dari pembeli merupakan waktu tepat mengerjakan PR.

Keuletan ini mengundang banyak pujian dari pembeli. Saya meyakini itu tidak sekadar pujian tetapi sekaligus doa untuk saya dan keluarga. Doa itulah yang menjadi kunci saya meraih prestasi di sekolah. Saya bersyukur kendati harus bekerja sembari belajar, saya dapat meneruskan tradisi juara di SD. Saya tetap bisa meraih juara umum di sekolah. Konsistensi atas prestasi ini, membuat saya diganjar sebagai siswa teladan di SMP.

Tamat SMP, saya bisa melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas (SMA) dengan berbekal bekerja dan membantu di toko kakak. Saya diterima di salah satu SMA terbaik, SMA Negeri 2 Cirebon. Di sini tradisi juara dapat saya pertahankan. Banyak prestasi yang disematkan seperti meraih juara 3 Olimpiade Fisika, juara 2 Cerdas Tangkas Fisika tingkat Jawa Barat, mewakili kelas untuk lomba debat bahasa Inggris hingga lomba tilawah Al-Qur’an. Prestasi lainnya, saya mewakili sekolah dalam lomba Cerdas Tangkas Biologi tingkat provinsi. Saya mengantongi prestasi yang cukup membanggakan.

Beragam prestasi itu meyakinkan saya untuk meraih cita-cita menjadi seorang ilmuan. Namun, muncul rasa pesimis ketika saya ragu dapat melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Alasannya biaya kuliah yang tak dapat dijangkau. Saya mulai banyak terdiam dan merenung. Mencari cara bagaimana melanjutkan kuliah dengan kondisi keuangan serba terbatas.

***

Suatu hari, kakak di Arab Saudi menelepon dan mengatakan: “Kamu harus menjadi orang sukses, kamu satu-satunya harapan keluarga, kalau adik sukses, insya Allah keluarga kita tidak lagi dilecehkan orang, saya siap bekerja mencuci toilet di rumah orang lain di Arab Saudi, agar adik bisa kuliah dan jadi orang sukses”.

Obrolan singkat itu membuat saya menangis. Dari suaranya, saya menangkap begitu besar harapan kakak kepada saya. Saya bertekad untuk mencari jalan keluar atas keraguan untuk melanjutkan sekolah di perguruan tinggi.

Di sekolah, saya melihat sebuah poster ditempel di kaca ruang Bimbingan Konseling. Poster itu mengabarkan Beasiswa 1000 Anak Bangsa Universitas Indonesia (UI). Program itu dikhusukan bagi siswa SMA yang ingin kuliah di UI namun terkendala biaya. Saya meyakini program ini sebagai jalan keluar yang saya nantikan.

Tanpa ragu, saya menyodorkan formulir pendaftaran dengan semua persyaratan sudah tercentang seluruhnya. Sebulan kemudian pengumuman disampaikan, saya salah satu penerima beasiswa. Mengetahui itu, saya semakin bersemangat untuk kuliah. Satu tahap lagi yang harus saya penuhi, lolos seleksi masuk UI. Saya mengikuti seleksi dengan memilih jurusan fisika. Alhamdulillah, Allah memberikan kemudahan, saya berhasil melewati seleksi

Program beasiswa Anak Bangsa UI tidak memberikan beasiswa penuh melainkan keringanan biaya kuliah yaitu diskon biaya uang pangkal dan biaya per semester. Sisanya saya harus menanggung sendiri. Biaya per semester yang dibebakan untuk saya sebesar Rp 100 ribu hingga lulus. Adapun ongkos uang pangkal saat registrasi, saya hanya dikenakan Rp 800 ribu. Besaran itu tergolong sangat murah.

Kendati murah, masalah keuangan belum seluruhnya tuntas. Saya masih mengkhawatirkan ongkos hidup di Depok, Jawa Barat, lokasi kampus UI. Kendati secara geografis berada di luar Jakarta, ongkos hidup di Depok semahal Jakarta. Ini membuat saya berpikir keras mencari jalan keluarnya. Belum lagi menyoal perlengkapan kuliah yang juga tak kalah penting.

Ibu Aas, guru Bimbingan Konseling di SMA, menyodorkan tawaran atas persoalan saya. Ia menyarankan saya mendaftar beasiswa dari Dompet Dhuafa. Program itu bernama Beastudi Etos. Program ini memberikan uang saku dan pembinaan. Saya tak kesulitan mendapatkan informasi terkait Beastudi Etos. Banyak alumni SMAN 2 Cirebon meraih beasiswa ini.

Saya mengirimkan pendaftaran ke panitia Beastudi Etos regional Bandung, Jawa Barat. Keyakinan menuntunku ditiap tahapan seleksi, bahwa saya pasti meraihnya. Setelah itu saya lebih menyerahkan hasilnya kepada Allah. Seperti kata Ayah, bersabar dan ikhlas apa pun keadaannya.

Saat perkuliahan UI dimulai, Dompet Dhuafa belum mengumumkan siapa saja penerima Beastudi Etos. Selama sebulan kuliah di UI saya sementara tinggal di asrama mahasiswa. Suatu hari, saat pulang menuju asrama, saya menerima pesan singkat. Pesan itu adalah kabar gembira buat saya, Dompet Dhuafa memutuskan saya salah satu peraih Beastudi Etos. Saya sangat bersyukur. Tindakan pertama yang saya lakukan adalah mengabari Ibu di Cirebon dan menelepon kakak di Arab Saudi. Rasa bersyukur berulang kali diucapkan keluargaku. Tibalah saatnya saat berpindah tempat tinggal dari Asrama UI ke Asrama Beastudi Etos.

***

Setelah berkenalan dengan Etoser seangkatan, saya menilai saya paling lugu ketimbang lainnya. Melalui pembinaan yang diterapkan manajemen Dompet Dhuafa, saya dibantu untuk menguatkan karakter. Lingkungan di Asrama Etos amat membantu penghuninya mengasah kemampuan dan menemukan potensi unggul. Pembinaan yang diberikan setiap hari membantu saya menempa diri. Saya bertemu dengan orang-orang hebat di sini. Apalagi dengan pendamping asrama yang begitu arif dan memberikan bimbingan dengan penuh kesabaran. Semua program Dompet Dhuafa mengarah pada penguatan kepekaan sosial peraih beasiswa.

Saya menilai cita-cita Dompet Dhuafa itu terwujud pada diri saya. Sebelumnya saya tergolong mahasiswa yang jarang memikirkan aspek di luar urusan akademik. Banyak kalangan menyebut sifat seperti itu sebagai mahasiswa study oriented. Beragam aktivitas sosial di asrama, membuka dan menyadarkan saya pelan-pelan.

Saya mulai menemukan arti bahwa tugas mahasiswa bukan sekadar belajar. Banyak peluang aktivitas lain yang bisa dikerjakan dan memberi nilai tambah untuk mahasiswa. Salah satunya dengan melibatkan dalam aktivitas keorganisasian. Dengan kesadaran itu saya mulai melibatkan diri dalam kepanitiaan di Beastudi Etos.

Pelajaran berorganisasi banyak saya serap di Asrama Etos dan kampus UI. Keterlibatanku pada kepanitiaan besar yaitu saat menjadi salah satu koordinator dalam acara Temu Etos Nasional. Saya diamanahi menjadi koordinator Sekolah Desa Produktif (SDP; program pemberdayaan masyarakat marginal yang dikelola oleh Etoser) di Daerah Cipayung, Depok. Posisi ini mendorong saya lebih kuat belajar dan mengasah jiwa sosial.

Yang membuat betah di program ini, semua yang terlibat berusaha menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Tujuan itu merupakan ajaran Nabi Muhammad, manusia agung. Semangat ingin bermanfaat untuk orang lain tidak sekadar mewarnai aktivitas sosial. Saya mencoba menularkan semangat itu ke dalam perkualiahan.

Atas dasar tekad itu, saya memilih Kuliah Kerja Nyata UI di pulau perbatasan, Pulau Pantar, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur. Selain itu saya juga terlibat dalam organisasi kemahasiswaan. Saya diberikan amanah, Ketua Departemen Pengabdian Masyarakat Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas MIPA UI. Dengan amanah itu, saya banyak terlibat kegiatan dengan obyek masyarakat.

Dengan banyak kegiatan, saya tidak melupakan prestasi kuliah, sesuatu yang menjadi tradisiku sejak SD. Menjadi siswa dengan prestasi adalah obsesiku sejak kecil. Di SD dan SMP saya menyabet status siswa teladan. Di SMA, saya hanya menempati posisi kedua. Kala itu, saya merasa iri dengan teman yang menyabet ranking pertama dan dinobatkan sebagai siswa teladan.

Kegagalan di SMA, terus mengingatkan saya. Harapan saya di bangku perkuliahan nanti semoga saya dapat meraih prestasi bergengsi untuk mengobati kegagalan di SMA. Saya menyiapkan diri mengikuti ajang mahasiswa berprestasi sejak awal perkuliahan. Dimulai dengan menabung prestasi-prestasi kecil. Dengan prestasi itu, saya meyakini dapat menghadirkan kebahagiaan untuk keluarga tercinta di Cirebon dan kakak yang banting tulang di Arab Saudi. Dan tentu saja kebahagiaan itu juga untuk Dompet Dhuafa dan semua penyandang dananya. Saya berusaha meyakinkan bahwa Dompet Dhuafa tidak salah memilih saya dalam program beasiswanya.

Pada semester 6, saya memberanikan mengikuti ajang mahasiswa berprestasi (mapres) di fakultas. Saya sempat merasa ragu di awal-awal pendaftaran. Alasannya, pesaing yang juga memiliki baragam prestasi. Beberapa di antaranya pernah mengenyam dan mempunyai pengalaman di luar negeri, sesuatu yang alih-alih saya datangi, saya bayangkan saja belum pernah. Empat peserta yang saya nilai kuat berasal dari program pembinaan karakter yang setiap tahun langganan memenangkan ajang semacam ini. Di antaranya berasal dari angkatan 2008 (saya angkatan 2009).

Besarnya godaan untuk meraih kemenangan, saya berusaha menetralisirnya. Tempaan pendidikan agama di Asrama Etos mengarahkan saya untuk meluruskan niat. Saya mulai menyadari kompetisi ini bisa dikotori niat ingin menjadi popular. Saya mulai menguatkan niat bahwa kompetisi ini semata-mata bagian dari mewujudkan keinginan agar lebih bermanfaat untuk orang lain.

Saya berdoa jika Allah menakdirkan kemenangan itu, maka semata-mata mendorongku lebih keras untuk memberikan yang berharga kepada keluarga dan masyarakat.

Puji syukur kepada Allah, pada April 2012, saya meraih kemenangan itu. Saya terpilih sebagai mahasiswa berprestasi utama FMIPA UI. Saya menilai status ini sebagai amanah. Amanah yang terberat bagi saya selama ini. Saya merasa belum pantas menyandang gelar ini. Sampai hari ini, saya masih bertanya-tanya, mengapa saya pantas meraih gelar itu?

Saya tak pernah meminta untuk menjadi yang terbaik. Namun dalam setiap berusaha saya berupaya kuat memberi yang terbaik. Dengan gelar itu, tanggung jawabku semakin berat, namun saya tak ingin terlena. Gelar ini sangat bermakna sekaligus pembelajaran buat saya. Ini akan menjadi bekal saya untuk terus mengayun dan melangkahkan kaki meraih banyak hal. Saya semakin bersemangat untuk menorehkan jejak yang bermanfaat bagi banyak orang terutama ibu dan kakak serta orang-orang yang saya cintai demi menggapai ridha Allah SWT.

Sebulan setelah gelar itu disematkan, saya mewakili fakultas untuk bersaing merebutkan mahasiswa berprestasi tingkat universitas. Di level ini, saya bertemu banyak peserta yang lebih hebat. Proses seleksi tidak jauh berbeda dengan seleksi mahasiswa berprestasi tingkat fakultas. Misalnya penilaian curriculum vitae, nilai indeks prestasi kumulatif (IPK), karya tulis, kemampuan berbahasa Inggris, dan karakter. Di setiap proses penilaian saya mengiringinya dengan doa.

Pada malam penganugrahan gelar, saya merapal doa berulang kali dan meluruskan niat. Keikutsertaan dalam ajang ini bukan untuk menjadi nomor satu. Saya hanya ingin menunjukkan kepada ibu dan kakak –yang ketika itu bisa hadir—bahwa si bungsu mampu berdiri tegak dan sejajar bersama finalis mahasiswa berprestasi lainnya. Saya ingin membuat Ibu bangga dengan anak laki-lakinya yang bisa menyisihkan sepuluh ribu mahasiswa UI. Sebuah kesempatan yang jarang dialami oleh anak buruh tani. Untuk membuat kakakku bahagia sebenarnya prestasi ini sudah lebih dari cukup. Menjadi salah satu yang terbaik di perguruan tinggi bergengsi ini sulit dibayangkan dapat diraih oleh seorang anak yang bahkan kedua orang tuanya tidak tamat sekolah dasar.

Pengumuman pemenang dibacakan. Saya hanya meraih posisi ketiga kategori curriculum vitae terbaik. Adapun kategori mahasiswa berprestasi UI, saya diganjar menduduki posisi kelima.

Beragam prestasi tadi menebalkan rasa syukurku. Allah benar-benar menunjukan kasih dan sayangnya kepadaku. Saya hampir tak pernah membayangkan bisa di mendapatkan banyak hal. Tinggal di lingkungan Asrama Etos yang kondusif untuk mendekatkan diri kepada Allah. Berteman dengan banyak orang yang mendukung aktivitasku. Rasa syukur itulah yang senantiasa tidak pernah bisa dilupakan dan tak akan luput dari ingatan.

Berkat rajin-rajin bersyukur itu pula, pada Oktober 2012, saya mendapatkan kesempatan mempresentasikan karya tulis ilmiah di Chiba University, Jepang. Ini adalah pertama kalinya saya mengunjungi negeri orang. Saya sangat senang, apalagi negara lain yang pertama kali saya datangi adalah negeri matahari terbit yang diidamkan oleh banyak orang.

Setibanya dari presentasi di Chiba, sebulan kemudian antara November-Desember, saya seperti ditakdirkan kembali ke negeri sakura itu. Kali ini, saya diutus menjadi delegasi Indonesia membahas seputar masalah lingkungan. Pengalaman mewakili Indonesia, membuat hidupku lebih bermakna. Saya juga bersyukur bisa melihat ciptaan Allah di negeri sakura. Menyaksikan daun momiji yang nampak merah berguguran di tepi jalan, merasakan dinginnya puncak Gunung Fuji, dan berkenalan dengan banyak kawan dari beragam negara.

Beragam torehan dan kesempatan emas mendorong saya berbagi pengalaman inspiratif. Saya meyakini semua orang telah dibekali potensi keunggulan masing-masing, kunci kesuksesan akan diraih jika mampu menyadari dan menemukan potensi itu. Untuk membantu kita agar bersemangat terus, ada satu kalimat dari menantu Nabi Muhammad, Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang mampu menginspirasi saya untuk berusaha lebih keras selama ini. “Bukan kesulitan yang membuat kita takut, tapi ketakutan yang membuat kita sulit. Karena itu, jangan pernah mencoba menyerah, dan jangan pernah menyerah untuk mencoba. Jangan katakan pada Allah aku mempunyai masalah yang besar, tapi katakan kepada masalah bahwa aku punya Allah yang Maha Besar.

SHARE