Setelah Rekening Kakak Terdebet

0
755

Oleh: Rusda Ulfa, Farmasi Universitas Andalas

Tahun 2005, waktu yang tak pernah sirna dari ingatan saya. Kala itu saya diterima masuk jurusan Farmasi Universitas Andalas Padang, Sumatera Barat. Saya masuk melalui jalur Sistem Penelusuran Minat dan Bakat (SPMB), jalur reguler seleksi perguruan tinggi negeri.

Pengumuman kelulusan itu saya baca di sebuah koran harian di Sumatera Barat. Begitu saya memastikan bahwa saya lulus seleksi, bukan kecerian yang muncul. Rasa takut mulai menyergap. Kekhawatiran utama ketika saya mengetahui bahwa ongkos registrasi ulang sebesar Rp 2,95 juta. Angka itu seolah mengintimidasi. Tak terlintas sama sekali dalam pikiran bagaimana menyediakan uang sebanyak itu. Dalam kebingungan, air mata ini mulai berlinang.

Di rumah, orang tua meyakinkan pasti ada jalan keluar. Kakak yang baru lulus dari Jurusan Biologi di universitas yang sama, ikut memberikan motivasi. Ia optimis nasibku bakal sepertinya. Bisa lanjut kuliah. Kakakku mampu merampungkan studinya dengan bantuan beasiswa dari kampus. Soal uang pangkal ini, keluarga hanya menyanggupi menyediakan dana Rp 1,5 juta. Tinggal mencari setengahnya lagi.

Kabar gembira itu datang dari paman yang tinggal di Bandung. Paman bersedia membantu Rp 1,5 juta. Paman merupakan keluarga yang paling men-support masa depan keluargaku. Keluarga Paman mendorong agar semua keponakannya bisa meneruskan sekolah hingga perguruan tinggi.

Bukan berarti masalah selesai. Dua hari menjelang penutupan pembayaran registrasi ulang, Paman mentransfer sejumlah uang ke rekening kakak. Anehnya, uang tersebut terdebet (terpotong) oleh manajemen kampus Unand sebesar Rp 1,1 juta, sehingga tersisa Rp 400 ribu.

Rekening itu memang digunakan kakak untuk menerima beasiswa dan membayar ongkos selama kuliah. Rekening itu diketahui oleh pihak manajemen kampus. Namun status kakak yang sudah alumni dan tidak punya tunggakan, membuat penyunatan rekening itu terasa janggal.

Tanpa banyak berspekulasi, kakak meluncur ke kampus Unand di Limau Manis, sekitar 12 kilometer dari pusat Kota Padang. Seperti yang sudah diduga, birokrasi yang berbelit-belit harus dihadapi kakak. Alhamdulillah, pengejaran selama dua hari membuahkan hasil. Kendati tak semua, dana yang bisa diambil sebanyak sejuta rupiah. Adapun seratus ribunya harus kami relakan disunat. Bersamaan dengan itu, saya membayar lunas ongkos registrasi ulang pada hari terakhir.

Ongkos kuliah memang momok bagi keluargaku. Ayah seorang petani di Kabupaten Agam, tempat kelahiranku. Sedangkan ibu, aktivitasnya sebagai ibu rumah tangga. Kami tujuh bersaudara, dengan saya anak nomor lima. Keadaan ekonomi keluarga tidak bisa disebut kaya tetapi juga bukan miskin. Kami tak pernah kekurangan makan. Hanya saja, kami harus membiasakan hidup sederhana dan menjauhi gaya hidup berlebihan. Pernah ketika menjalani Sekolah Menengah Pertama, saya tak pernah berganti sepatu baru selama tiga tahun. Kendati serba pas, orang tua tak pernah membatasi cita-cita anaknya. Orang tua terus memotivasi ketika anak-anaknya lulus Sekolah Menengah Atas (SMA). Walhasil saya bisa melanjutkan kuliah di Farmasi Unand.

***

Kejadian pendebetan dana kuliah di rekening kakak, membuatku lebih dekat dengan Allah Maha Besar dan Karim. Peristiwa itu hampir saja membuatku putus asa dan pesimistis bakal bisa lanjut kuliah. Selain peran besar kakak, faktor Allah sangat dominan dalam keberhasilan kakak mendapatkan uang kami kembali. Begitu beragam kendala itu selesai satu per satu, saya merasakan Allah benar-benar hadir dan dekat. Sangat dekat bahkan. Momentum itu membawa banyak perubahan. Sejak itu, saya lebih kerap merapal dan mengingat Allah ketimbang sebelum-sebelumnya.

Beberapa bulan kemudian, angin segar kembali datang. Seorang kawan kuliah memberi kabar bahwa ada peluang beasiswa dari Dompet Dhuafa, lembaga zakat swasta nasional. Namanya Beastudi Etos. Sangat menarik mendengar “iklan” Beastudi Etos dari kawanku itu. Tanpa berpikir panjang, saya diskusikan dengan orang tua dan segera mengisi aplikasi. Singkat cerita saya lulus dan dinyatakan sebagai penerima beasiswa.

Saya menerima beasiswa untuk ongkos kuliah dan uang saku, serta dua tahun tinggal di asrama Etos. Sebenarnya penerima beasiswa berhak tinggal di asrama selama tiga tahun. Namun karena program ini baru di Padang, asrama yang tersedia kuotanya terbatas. Saya termasuk tidak terpilih sebagai penghuni pada tahun pertama.

Bergabung dengan keluarga besar Beastudi Etos adalah anugerah sekaligus menjadi titik balik. Melalui program ini saya lebih dekat dengan ilmu agama, tidak sekadar memacu prestasi akademik. Titik balik yang saya maksud yaitu perubahan dalam pemahaman berislam. Ketika saya masih duduk di SMA, saya sangat anti dengan kegiatan kerohanian. Bahkan saya tidak suka dengan teman yang berjilbab panjang dan lebih lebar. Saya menilai pemakai jilbab panjang dan lebar adalah kelompok fanatik dan berlebihan. “Serem,” begitu saya membatin.

Namun pandangan itu berubah 180 derajat. Melalui Beastudi Etos dan proses pendampingannya, saya pelan-pelan memelajari kembali Islam. Banyak pengetahuan keagamaan yang saya dapatkan melalui pendampingan di Etos. Peningkatan memahami Islam itu membawa saya untuk mengubah gaya berpakaian. Saya sekarang berjilbab panjang dan lebar, sesuatu yang dulunya saya benci.

Saya tidak mengatakan Etos mendorong semua Etoser perempuan harus berjilbab panjang dan lebar. Namun dari perkawanan melalui Etos, saya menemukan banyak pencerahan hingga mengubah saya seperti sekarang ini. Muslimah dengan jilbab panjang dan lebar. Dan saya nyaman dengan keadaan ini.

Aspek lain di Etos adalah memupuk rasa peduli. Bagi kami yang cenderung disebut kelompok ekonomi kurang mampu, peduli merupakan sikap yang sulit ditumbuhkan. Bagaimana kami bisa peduli, sedangkan saya juga masih kesusahan. Begitu kira-kira pergolakan batin kami.

Nah, sikap batin itu mulai terkikis seiring saya belajar di Etos. Dompet Dhuafa, lembaga yang memiliki program Beastudi Etos, benar-benar menanamkan bahwa peduli tidak perlu menunggu kaya. Keadaan susah maupun berkecukupan tetap tak menghalangi seseorang untuk peduli kepada sesama. Kendati saya belum merasa mengejawantahkan kepedulian pada banyak orang, paling tidak pandangan saya mengenai “kapan kita peduli” berubah lebih baik.

Kepedulian itu saya asah melalui keluarga. Setelah lulus pada 2010 dan menjadi apoteker dua tahun kemudian, saya diterima kerja sebagai supervisor di sebuah perusahaan farmasi di Tangerang, Banten. Saya mendapat gaji dan membuat saya mandiri secara finansial. Dari gaji itu saya membagi gaji dengan keluarga hampir setiap bulan. Saya teringat betapa besar peran kakak dan orang tua memotivasi untuk tetap optimis kuliah.

Dari pengalaman itu saya bertekad men-support adik yang baru masuk semester pertama di perguruan tinggi Islam negeri di Sumatera Barat. Ia tak seberuntung saya mendapatkan beasiswa. Adik paling bontot itu harus dibantu dengan pendanaan lebih ketimbang saya. Dengan membagi gaji saya dengan adik dan keluarga, saya belajar peduli seperti yang diajarkan Dompet Dhuafa:  Bahwa peduli tidak perlu menunggu kaya terlebih dulu.

Kendati harus berbagi penghasilan, toh, saya tak mengendurkan cita-cita baru. Seiring usia yang menginjak 28 tahun, saya lahir 1 Mei 1987, saya terus menyirami tekad kuliah strata-2. Jurusan Farmasi Universitas Indonesia atau Universitas Airlangga merupakan kampus yang masuk radar bidikanku.

Saya bersyukur dengan anugerah optimisme mampu meraih rencana ini. Optimisme adalah anugerah bagi saya, karena optimisme sesuatu yang sulit hadir hingga pada akhir saya menginjak remaja. Alih-alih optimisme, membayangkan bisa kuliah hingga S-2 tak pernah terlintas ketika saya lulus SMA. Kini, niat itu sudah saya pegang erat. Terimakasih Allah.

BAGIKAN

LEAVE A REPLY