Si Anak Petani dan Sebongkah Mimpi

1107

“..
Jika suatu nanti, kakekmu telah pergi
Siapa yang akan menanam padi?
Jika suatu nanti engkau telah dewasa
Hijaukah tanah ini?
Suburkah tanah ini?
Masihkah tanah ini?
…”

Akar Bambu – Sudirman Sujono

Mencari Sang Penanam Padi

Penggalan lirik sebuah syair berjudul “Sudirman Sujono” yang dilantunkan oleh kelompok musik Akar Bambu ini, seakan memberikan tamparan halus yang mengundang pertanyaan, persis seperti apa yang disampaikan dalam syair tersebut. Ada kekhawatiran tersirat dari pertanyaan sang kakek kepada cucunya. Seolah nasib cucu dan tanah yang ditempatinya telah berada di ujung tanduk. Lirik lagu tersebut memberikan arti penyadaran, bahwa hidup ini bukan berbicara tentang “aku” dan “sekarang”. Namun, hidup adalah tentang “kita” dan “masa depan”.

“Siapa yang akan menanam padi?” Tanya sang kakek pada cucunya. Jika dikaitkan dengan kehidupan nyata, maka sesungguhnya sang pemilik lagu sedang bertanya, adakah penerus untuk generasi pemimpin, terkhusus pemimpin pertanian? Generasi yang akan menjamin keberlanjutan padi di sawah, dan tanah yang hijau serta subur.

Sang pemimpin pertanian, dialah yang dicari kakek. Pun begitu, hal ini sejalan dengan fenomena yang kita hadapi saat ini. Mencari para penerus negeri yang peduli dengan nasib pertanian dan keberlanjutannya. Pernahkah terbayang 10 atau 20 tahun lagi, negeri ini tak lagi dapat menemukan padi, jagung, ubi, dan komoditas pertanian lainnya? Padahal, bung Karno bilang bahwa pertanian ini menyoal hidup dan matinya sebuah bangsa. Di sanalah peran sang pemimpin dinanti.

Sedikit menyelisik kondisi negeri Indonesia, negeri yang kaya dan terkenal dengan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang melimpah. Beberapa yang dapat kita lihat yaitu pulau yang berjumlah lebih dari 17.000, garis pantai terpanjang keempat di dunia yang mencapai 99.093 km, serta potensi lain baik di darat maupun laut (Samantha 2013). Selain itu, jumlah penduduk Indonesia hingga tahun 2013 diperkirakan mencapai angka 248,8 juta (BPS 2012). Hal ini menunjukkan bahwa secara kuantitas Indonesia merupakan negara besar yang kekayaan sumber daya manusia dan sumber daya alamnya memang terbukti.

Indonesia juga memiliki sebutan sebagai negara agraris yang berarti negara yang penduduknya banyak yang bermata pencaharian sebagai petani. Berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2013, jumlah rumah tangga petani hingga mencapai 31,7 juta orang (Sirait 2013). Angka tersebut menunjukkan jumlah yang cukup besar dalam persentase mata pencaharian total di Indonesia.

Hal yang menjadi perhatian bagi Indonesia saat ini adalah mengenai kesejahteraan petani sebagai aktor utama bidang pertanian ini. Jika melihat jumlah rumah tangga petani yang mencapai angka yang cukup besar, ternyata hal tersebut tidak berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan petani. Hingga tahun 2014, jumlah petani miskin mencapai angka 17,37 juta jiwa (BPS 2015). Padahal pertanian merupakan salah satu sektor yang penting dalam pembangunan Indonesia. Peran pertanian saat ini sebagai penunjang kehidupan berjuta-juta masyarakat Indonesia. Sektor ini juga perlu menjadi salah satu komponen utama dalam program dan strategi pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan.

Menanggapi persoalan seperti ini, naluri mahasiswa sebagai agent of change, social control, dan iron stock sejatinya dapat terasah dan tergerak untuk menjadi pengurai atas permasalahan yang terjadi. Mahasiswa seharusnya peka terhadap segala dinamika dan problematika yang ada di sekitarnya baik secara vertikal maupun horizontal. Bukan sekedar menjadi penonton atau tim hore yang menyaksikan jalannya opera di depan panggung.

Di era yang modern ini, gerakan mahasiswa kian semakin beragam dengan masing-masing prinsip dan teori-teorinya. Mengutip perkataan Gazali (2014), ada empat model gerakan yang populer di kalangan mahasiswa dalam upaya memecahkan masalah bangsa, yaitu gerakan intelektual yang berdasar pada implementasi kinerja berbasis intelektualitas seperti telaah dan teliti berbagai penemuan, serta diskusi dan seminar ilmiah. Selanjutnya, gerakan struktural, yang merupakan gerakan sinergis bersama negara untuk mendukung kerja-kerja yang ada. Gerakan kultural merupakan gerakan sinergis bersama masyarakat, yang membuat mahasiswa dapat membumi bersama masyarakat, untuk menjalankan fungsi advokasi. Yang terakhir adalah gerakan massa yang merupakan aksi massa ketika pemerintah tak dapat lagi mendengar aspirasi rakyat.

Dari berbagai model yang ada, adalah gerakan kultural, yang lazimnya dilakukan secara bertahap (gradual) dan lebih bersifat proses. Fungsi advokasi merupakan poin utama dalam gerakan ini, karena selayaknya mahasiswa merupakan salah satu elemen pelaku advokasi di dalam lapisan masyarakat, termasuk bagi mereka para rumah tangga petani miskin di Indonesia, yang jumlahnya mencapai 17,37 juta jiwa.

Berbicara mengenai mahasiswa pertanian, petani, dan fungsi advokasi, adalah membicarakan tiga elemen yang ada dalam satu segitiga. Ketiganya merupakan satu kesatuan yang seharusnya dapat menciptakan sinergisme bagi kemajuan pertanian Indonesia. Sinergisme yang terbentuk berharap dapat berujung seperti kokohnya segitiga yang tak kokoh menopang satu sisi sama lain. Peran sang mahasiswa telah dinanti dan ditunggu dalam upaya pengadvokasian kesejahteraan masyarakat petani yang kini masih terhitung rendah. Di sinilah para mahasiswa ini diharapkan dapat berperan dalam melahirkan generasi-generasi pemimpin pertanian, atau bukan tidak mungkin merekakah generasi pemimpin pertanian masa depan dambaan itu?

Rendahnya kesejahteraan petani yang berujung pada munculnya persoalan kemiskinan ini salah satunya karena Indonesia kekurangan petani yang memiliki wawasan luas serta memiliki karakter kepemimpinan. Padahal untuk mengembangkan pertanian dan kesejahteraan petani tentunya dibutuhkan sumber daya yang berkualitas dan memiliki karakter kepemimpinan. Hal tersebut dapat ditempuh melalui pendidikan yang layak untuk generasi petani di masa kini dan masa depan. Negara bahkan telah menjamin pemerataan pengenyaman pendidikan bagi seluruh rakyatnya, tak terkecuali para generasi petani.

Hingga saat ini profesi petani masih dianggap sebagai profesi yang tidak menjanjikan karena melihat fenomena kemiskinan di kalangan petani yang selama ini seakan tidak ada ubahnya. Paradigma ini ternyata sangat berdampak besar kepada para generasi muda, yang seharusnya di tangan merekalah kemajuan pertanian ini dapat terwujud. Utamanya para generasi muda yang berasal dari kalangan petani, yang seharusnya dapat melanjutkan fondasi yang telah dibangun orang tuanya di dunia pertanian. Selain itu, di tangan merekalah harapan terciptanya generasi petani yang berkarakter pemimpin dan berwawasan luas dapat terwujud, sehingga kelak kemiskinan dapat terentaskan.

Melihat fenomena yang terjadi ini, ada satu poin inti permasalahan yang dapat diurai dalam upaya perbaikan nasib bangsa ini, yaitu perbaikan pendidikan bagi kalangan generasi muda petani. Kelak mereka diharapkan dapat menjadi para penerus petani yang lebih baik, berkarakter kepemimpinan, memiliki wawasan luas, dan tentunya senantiasa memiliki keberpihakan kepada dunia pertanian.

Mengaitkan kembali segitiga antara mahasiswa pertanian, petani, serta fungsi advokasi, disinilah peran tersebut berjalan. Mahasiswa mengambil bagian dalam fungsi advokasi pendidikan yang layak untuk para petani dan generasi penerusnya. Lantas, seperti apakah bentuk yang riil dalam upaya advokasi ini? Inilah saatnya mahasiswa Institut Pertanian Bogor sebagai mahasiswa pertanian berupaya menjawab tantangan dan keresahan tersebut, melalui sebuah gerakan yang dinamai Gerakan Cinta Anak Tani (GCAT).

Mengapa Harus Anak Petani?

Berbicara mengenai advokasi pendidikan, Gerakan Cinta Anak Tani menjadi sebuah gerakan yang melukiskan langkah nyata dalam upaya mengadvokasikan pendidikan bagi masyarakat marginal, dalam hal ini kalangan petani yang berada pada kondisi kurang baik secara ekonomi. Jika berkaca pada kondisi yang terjadi kini, di saat kita mencari para generasi penerus untuk pertanian, maka saat itulah GCAT telah berupaya menyediakan agen yang nantinya diharapkan menjadi generasi pemimpin masa depan, yang berpihak pada dunia pertanian.

Pertanyaan yang muncul adalah mengapa harus anak petani? Menjawab pertanyaan ini, maka kita kembali pada definisi pertanian secara luas yang mencakup semua bidang perikanan dan kelautan, peternakan, serta kehutanan. Pertanian yang dimaksud bukanlah pertanian dengan sebatas menanam padi di sawah, namun semua aspek yang berkaitan dengan campur tangan manusia dalam perkembangan tanaman dan atau hewan dalam upaya memenuhi kebutuhan keluarganya (Mosher 1996). Artinya anak petani yang menjadi sasaran gerakan sosial GCAT ini bukan hanya petani di lahan pesawahan, namun para nelayan, peternak, dan bentuk pekerjaan lain yang berkaitan masuk ke dalam lingkup pertanian secara luas.

Yang dibutuhkan Indonesia saat ini adalah generasi pemimpin yang memiliki keberpihakan kepada dunia pertanian. Inilah yang disiapkan oleh GCAT. Mereka yang betul-betul merasakan dan menjadi saksi bagaimana beratnya perjuangan orang tua ketika menanam padi lalu dijual dengan harga yang tidak seberapa, atau pergi melaut untuk menangkap ikan di tengah deru ombak besar. Adanya rasa empati dan semangat tinggi memperbaiki keadaan keluarganya kelak, merupakan nilai tambah baginya untuk bekal masa depan. Inilah yang menjadi salah satu kunci mengapa harus anak petani yang kemudian disiapkan untuk menjadi pemimpin itu.

Mengapa Harus Pendidikan?

Berangkat dari konsep “The Vicious Circle of Poverty” atau “Lingkaran Setan Kemiskinan”, yang mengatakan bahwa ada sekumpulan kekuatan yang saling berhubungan dan mempengaruhi sehingga menimbulkan keadaan negara yang tetap mengalami kesukaran untuk mencapai tahap yang lebih tinggi (Poverty and You). Komponen dalam lingkaran setan itu di antaranya adalah kemiskinan dan pendidikan. Dua hal yang hingga saat ini masih sangat menjadi PR bagi Indonesia tercinta.

SHARE