Songket

0
2491

Oleh: Indah Dwityan Nur, BA 5 UNSRI

Kata songket berasal dari istilah sungkit dalam bahasa Melayu dan bahasa Indonesia, yang berarti “mengait” atau “mencungkil”. Hal ini berkaitan dengan metode pembuatannya; mengaitkan dan mengambil sejumput kain tenun, dan kemudian menyelipkan benang emas. Selain itu, menurut sementara orang, kata songket juga mungkin berasal dari kata songka, songkok khas Palembang yang dipercaya pertama kalinya kebiasaan menenun dengan benang emas dimulai. Istilah menyongket berarti ‘menenun dengan benang emas dan perak’. Songket adalah kain tenun mewah yang biasanya dikenakan saat Kenduri, perayaan atau pesta. Songket dapat dikenakan melilit tubuh seperti sarung, disampirkan di bahu, atau sebagai destar atau tanjak, hiasan ikat kepala. Tanjak adalah semacam topi hiasan kepala yang terbuat dari kain songket yang lazim dipakai oleh sultan dan pangeran serta bangsawan Kesultanan Melayu. Menurut tradisi, kain songket hanya boleh ditenun oleh anak dara atau gadis remaja; akan tetapi kini kaum lelaki pun turut menenun songket. Beberapa kain songket tradisional Sumatera memiliki pola yang mengandung makna tertentu.

Indonesia memiliki banyak khazanah budaya warisan leluhur yang tersebar diberbagai daerah. Salah satunya adalah budaya dalam berbusana Sumatera Barat misalnya, selain terkenal dengan rumah gadang dan masakan rendangnya yang khas, juga dalam hal kain. Ya, Anda pasti sudah sering mendengar kata kain tenun. Kain tenun di Indonesia digambarkan dalam (Wacik dkk, 2010) tersebar di Aceh, Batak (Sumatera Utara), Pandai Sikek (Sumatera Barat), Palembang, Pasemah (Sumatera Selatan), Kepulauan Bangka dan Belitung, Pulau Flores, Sumba, Rote, Sabu, Ndao, (Nusa Tenggara Timur), pedalaman Kalimantan, Rongkong dan Galumpang (Sulawesi), Tanimbar dan Kisar (Maluku), Donggala dan Buginese (Sulawesi), Gresik dan Lamongan (Jawa Timur), serta Tenganan (Bali). Diantara kain tenun tersebut, songket Palembang merupakan songket terbaik di Indonesia baik diukur dari segi kualitasnya, yang berjuluk “Ratu Segala Kain”.

Berdasarkan peninggalan-peninggalan sejarah kain tenun telah ada sejak zaman pra sejarah yang kemudian dalam perkembangannya dipengaruhi oleh tradisi yang dibawa oleh para pedagang yang singgah ke wilayah Indonesia. Selanjutnya pada abad VII Masehi pada masa kerajaan Sriwijaya, perkembangan tekstil di Sumatera Selatan mulai diperngaruhi oleh kebudayaan Cina melalui jalur perdagangan. Kekayaan alam di Sumatera Selatan mendorong para perantau dari Cina untuk singgah dan menetap di daerah ini. Hubungan yang terjalin tidak hanya mengenai perdagangan tapi juga pendidikan keagamaan dan budaya berpakaian. Reid (1999) mengatakan bahwa orang Cina membawa tekstil impor ke pedalaman untuk ditukarkan dengan lada. Para pedagang Cina membawa sutera sebagai alat penukar dalam perdagangan. sutera dewangga berbenang emas sebagai alat penukar dengan lada sampai ke daerah pedalaman. Begitu pula para pedagang dari India masuk ke daerah Sumatera Selatan dengan membawa bahan tekstil. Kain tenun dari India yang disebut Kain Patola turut memengaruhi perkembangan kain tenun di Palembang. Pengaruh tradisi dari India dan Cina menyebabkan kain tenun tidak hanya ditenun dengan benang katun tapi juga benang emas dan perak. Motif pun bervariasi dengan memasukkan unsur budaya Cina dan India. Hal ini yang menjadi cikal bakal kain tenun songket Palembang,

Begitu luar biasanya ragam kebudayaan yang dimiliki oleh Sumatera Selatan. Dari 71 motif songket yang dimiliki Sumatera Selatan, baru 22 motif yang terdaftar di Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Dari 22 motif songket Palembang yang telah terdaftar di antaranya motif Bungo Intan, Lepus Pulis, Nampan Perak, dan Limar Beranti. Sementara 49 motif lainnya belum terdaftar, termasuk motif Berante Berakam pada seragam resmi Sriwijaya Football Club.

Di Palembang, ada lima kategori jenis kain songket. Pembagian ini berdasarkan benang, benang emas dan motif yang digunakan. Kelima jenis kain songket itu antara lain Kain Songket Lepus, Kain Songket Tabur, Kain Songket Bunga-Bunga, Kain Songkat Limar, dan Kain Songket Rumpak. Tenun Songket Palembang jika dicermati secara seksama di dalamnya mengandung nilai-nilai yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai itu antara lain: kesakralan, keindahan (seni), ketekunan, ketelitian, kesabaran.

Nilai kesakralan tercermin dari pemakaian yang umumnya hanya menganakan pada peristiwa-peristiwa atau kegiatan yang ada kaitannya dengan upacara, seperti perkawinan, upacara menjemput tamu, dan lain sebagainya. Nilai keindahan dapat dilihat dari motif ragam hiasnya yang dibuat sedemikian rupa sehingga memancarkan keindahan. Sedangkan nilai ketekunan , ketelitian, dan kesabaran tercermin dari proses pembuatannya yang memerlukan ketiga unsur tersebut. Tanpa nilai-nilai tersebut tidak mungkin akan terwujud sebuah tenun songket yang indah dan sarat akan makna.

Songket sebagai salah satu bentuk seni rupa tradisional yang unik, sampai sekarang masih ditenun secara tradisional. Dahulu songket hanya boleh ditenun oleh anak dara, namun kini kaum lelaki pun turut menennun songket. Secara umum proses teknis pembuatan songket adalah merancang motif, menyiapkan benang, proses pewarnaan, menenun dan finishing.

Sejak dulu hingga kini, songket adalah pilihan populer untuk busana adat perkawinan Melayu, Palembang, Minangkabau, Aceh dan Bali. Kini dengan digunakannya benang emas sintetis, songket tidak lagi luar biasa mahal seperti saat menggunakan emas asli. Harga songket lebih bervariasi. Namun songket kualitas terbaik tetap dihargai sebagai bentuk kesenian yang anggun, bernilai budaya tinggi, dan dihargai cukup mahal. Kain songket terdiri dari tiga jenis, yaitu benang satu, dua, dan empat. Benang satu jauh lebih mahal dibanding benang dua dan empat. Membuat songket jenis ini perlu ketelitian yang tinggi karena benang harus ditenun helai dan helai, sehingga waktu menenunnya lebih lama.

Di tengah kemajuan industri tekstil sekarang ini, dengan mesin-mesin tenun modern nan canggih, kerajinan songket maih terus hidup. Pengerajin songket kini berusaha menciptakan motof-motif baru yang lebih modern dengan pilihan warna yang lebih banyak. Hal ini sebagai upaya agar songket senantiasa mengikuti zaman dan digemari oleh masyarakat luas. Sebagai warisan yang sarat makna dan nilai kearifan serta memiliki nilai ekonomi, sudah selayaknya songket terus dikembangkan dan dilestarikan

BAGIKAN

LEAVE A REPLY