The 13th HISAS (Hokkaido Indonesian Student Association Scientific Meeting)

0
1046

Assalamualaikum, puji syukur kehadirat Allah SWT karena berkat limpahan rahmat dan hidayahnya sehingga saya bisa menulis pengalaman saya ini dalam keadaan sehat walafiat.

Sebelumnya saya ucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada manajemen etos pusat yang telah men-support saya untuk mengikuti acara ini, yang pada akhirnya mengantarkan saya untuk pertama kalinya setelah hampir 20 tahun hidup di dunia ini menginjakkan kaki di negeri orang.

Awalnya, saya mendapatkan informasi acara ini melalui jejaring sosial LINE pada grup FUSI ETOS NASIONAL. Ada salah seorang etoser (entah darimana saya lupa) men-share atau mengirimkan informasi mengenai acara tersebut yaitu “The 13th HISAS (Hokkaido Indonesian Student Association Scientific Meeting)”. HISAS merupakan acara rutin yang diadakan setiap tahun oleh PPI Hokkaido dan Kedubes Indonesia untuk Jepang. Kemudian, saya mencoba untuk mencari informasi lebih banyak mengenai HISAS. Setelah saya buka website HISAS, dan ternyata acara tersebut lumayan terkenal dan bergengsi karena acara tersebut secara resmi dimuat dalam website Hokkaido University. Peserta yang berpartisipasi dalam acara tersebut juga tidak hanya berasal dari Mahasiswa Undergraduate saja, melainkan juga melibatkan mahasiswa jenjang Master dan  Phd serta peneliti dan dosen. Tanpa berpikir panjang, saya mengajak teman saya untuk mengikuti HISAS 13 dengan mengirimkan paper. Satu bulan setelah saya mengirimkan paper, panitia mengirim pesan melalui email kepada saya “We are pleased to inform you that your abstract entitled Smart Packaging Indicator (SAPI) Based on Edible Film for Milk Pasteurization Damage is selected to be presented in HISAS 13”. Melihat email itu, langsung saya memberi tahu rekan saya. Perasaan saya saat itu amat sangat bahagia. bagaimana tidak, dari ratusan paper yang masuk paper saya terpilih untuk dipresentasikan di jepang.

Tidak lama setelah mendapat email submission result, saya membalas email panitia HISAS 13 dan menanyakan fasilitas apa saja yang akan mereka berikan kepada tim-tim yang lolos. Sehari kemudian, saya mendapat email balasan dari panitia yang isinya “In fact, we are not responsible for your accommodation or facility in Sapporo and off course we do not have a responsibility to pick you up in the airport. However, we absolutely will give you the necessary information during your stay in Sapporo”. Mendapati hal tersebut, semangat saya untuk melanjutkan acara ini menurun. Tentunya butuh uang yang tidak sedikit untuk pergi ke Jepang. Ditambah setelah saya berkonsultasi kepada Wakil dekan III fakultas saya yang sekaligus dosen pembimbing saya, pihak fakultas tidak memberikan bantuan dana kepada kami karena acara yang kami ikuti bukan murni kompetisi. Tetapi saya disarankan untuk tetap mengajukan bantuan ke rektorat dan mencari sponsor dari perusahaan.

Tepat sebulan sebelum pelaksaan acara, saya ditimpa musibah. Saat perjalanan menuju rumah saya di Mojokerto, saya mengalami kecelakaan di tengah hutan di daerah Cangar kota Batu. Kondisi saat itu tengah hujan deras ditambah jalanan yang naik turun terjal. Tujuan saya ke Mojokerto saat itu adalah untuk meminta bantuan dana ke Pemkab Mojokerto. Alhamdulillah, cedera yang saya alami tidak terlalu parah. hanya tulang siku saya saja yang Dislokasi dan beberapa luka di kaki dan tangan serta jahitan di lengan. Setelah hampir 1 minggu saya istirahat dirumah. Saya kembali melanjutkan perjuangan saya untuk mencari bantuan dana meskipun tangan kanan saya masih cedera.

Kami sudah mengajukan dana ke beberapa perusahaan, tetapi hasilnya nihil. Sampai H-2 minggu, kami belum mendapat kejelasan akan berangkat atau tidak. Tetapi, tiba-tiba ada bantuan yang datangnya tidak didiga-duga. Rekan satu tim saya dan ibunya, ba’da isya tanggal berapa saya lupa menjenguk saya di asrama karena kondisi saya saat itu belum pulih total. Lalu setelah ibu rekan saya menyakan kabar saya dan menanyakan kronologis kejadian yang menimpa saya, tiba-tiba ibu rekan saya bilang kalau saya tidak perlu khawatir soal dana untuk berangkat ke jepang. Tiket pesawat PP ditanggung oleh ibu dari teman saya. Tidak hanya itu, saya juga diberikan sejumlah uang untuk mempersiapkan keberangkatan saya ke jepang. Saya sangat senang dan bahagia sekaligus sangat bersyukur, karena bantuan Allah tidak diduga-duga datangnya. Sejak saat itu, saya mulai lega karena mendapatkan kepastian untuk berangkat. Tetapi, saya masih harus mencari bantuan dana untuk pembayaran registrasi dan uang saku. Saya sangat berharap bantuan dana dari rektorat, namun sampai H-2 keberangkatan belum ada kepastian. Akhirnya saya memberanikan diri untuk meminjam uang ke kakak saya dan Alhamdulillah kakak saya meminjamkan sejumlah uang kepada saya.

3 Maret 2016, hari yang ditunggu-tunggu pun datang. Saya dan rekan saya berangkat dari Malang ke Surabaya menggunakan mobil milik ayah rekan saya. Dari Surabaya, kami transit selama 7 jam di Kuala Lumpur untuk menunggu penerbangan ke Sapporo. Pukul 23.30, kami bertolak dari kuala lumpur ke Sapporo. Setelah hampir 7 jam perjalanan, akhirnya kami tiba di Bandara Shin-Chitose, Sapporo. Udara dingin -11o C langsung menyambut kami. Ternyata, kami satu pesawat dengan peserta HISAS lainnya yang berasal dari IPB, Undip, UGM, UI dan UNS. Sangat senang, karena kami tidak sendiri. Kemudian kami semua berangkat bersama-sama menuju kota Sapporo menggunakan Subway. Meskipun pertama kali naik subway di jepang, tetapi kami tidak mengalami masalah ketika membeli tiket, karena disajikan dalam bahasa inggris. Perjalanan dari stsiun Shin-Chitose menuju satsiun Sapporo kurang lebih 30 menit. Sesampai di Stasiun Sapporo kami berpencar karena tempat tinggal kami berbeda-beda. Karena hari itu kebetulah hari Jum’at. Kami dan 3 orang teman baru saya dari Undip memutuskan untuk mencari satu-satunya masjid di sapporo untuk menjalankan Sholat Jum’at. Sempat kebingungan mencari alamat, akhirnya kami menemukan masjid Sapporo. Senang rasanya ketika melihat dan bertemu saudara muslim di negeri yang minoritas masyarakatnya muslim. Di masjid tersebut kami bertemu mahasiswa indonesia yang sedang mengambil studi S2 nya di Hokkaido University. Beliau bernama Wahid. Kemudian kami berbincang-bincang dengan beliau, dan ternyata beliau merupakan alumnus Universitas Brawijaya dan sejurusan pula sengan saya.

Hari makin siang tetapi udara makin dingin, perut kami yang belum terisi sejak kemarin berbunyi tanda mulai lapar. Dengan panduan pak Wahid, kami mencari rumah makan halal disekitaran masjid. Ada satu tempat makan yang jaraknya dekat dengan masjid, yaitu warung jawa. Tetapi kami kurang beruntung karena pada saat itu warungnya sedang tutup. Akhirnya pak Wahid mengajak kami ke kantin universitas hokkaido. Ternyata ada 1 menu halal di kantin tersebut yaitu kari ayam. Untuk satu kali makan di jepang ternyata cukup mahal, 1 porsi kari ayam dihargai sebesar 350 yen atau kurang lebih Rp 40.000 (Kalo di Malang 40.000 bisa untuk makan 3 hari 😀 ). Setelah perut terisi, perjalanan kami lanjutkan untuk mencari tempat penginapan yang sudah kita booking sebelumnya. Kami berlima, tinggal di 3 penginapan yang berbeda. Saya dan rekan saya menginap di Social Hostel 365, sedangkan 3 orang teman Undip saya tinggal di 2 hotel berbeda ( saya lupa nama hotelnya). Cukup lama kami berjalan kaki, tempat penginapan kami belum ketemu juga. Berbekal peta, kami berjalan menyusuri setiap jalan. Sesekali kami bertanya, tapi seperti yang kita ketahui orang jepang terlalu cinta dengan bahasanya sehingga kebanyakan dari mereka tidak bisa berbahasa inggris. Hari makin sore, udara pun makin dingin dan akhirnya tempat penginapan teman Undip kami ketemu. Tetapi penginapan kami dan 1 teman undip kami belum ketemu. kemudian saya berjalan beberapa meter dan ternyata tempat penginapan saya dan rekan saya tidak berjarak jauh dari tempat penginapan 2 teman undip saya. Setelah saya check-in, saya bergegas mandi dan istirahat untuk sejenak. Setelah sholat magrib, kami dan 2 orang teman undip kami mencoba untuk mencari warung ramen halal berdasarkan panduan dari brosur “Information and map about muslim-friendly restaurants” yang kami peroleh dari masjid sapporo. Setelah beberapa blok berjalan kaki, akhirnya kami menemukan warung ramen horyu. Harga 1 porsinya sangat mahal, 1000 yen atau kurang lebih Rp. 100.000. setelah kenyang kami pun kembali ke hotel untuk istirahat dan mempersiapkan presentasi besok

5 maret 2016, acara teh 13th HISAS dimulai, konferensi dimulai dengan sambutan dari ketua pelaksana dan ketua PPI Hokkaido. Dilanjutkan dengan presentasi dari Keynote Speaker yaitu Dr. Alinda F.M Zain. Beliau adalah dosen dari Department of Landscape Architecture – IPB sekaligus Attache of Education and Culture, Embassy of Republic of Indonesia in Japan. Dilanjutkan dengan Oral presentation oleh Guest Speaker yaitu Professor Yoshida Uchida.

Setelah rehat untuk sholat dzuhur, acara selanjutnya yaitu presentasi para peserta yang dibagi dalam beberapa ruangan. Kami masuk dalam kategori subtema agriculture and natural science. Dalam subtema tersebut, terdapat 4 tim dimana kami merupakan tim yang paling muda. 3 tim lainnya merupakan mahasiswa undergraduate tingkat akhir, Mahasiswa S2 dan S3 di Hokkaido University. Kami sempat merasa minder, karena dibandingkan dengan mereka penelitian yang kami lakukan tidak ada apa-apanya. Setelah hampir 1 jam, akhirnya semua peserta telah menyelesaikan presentasinya. Acara dilanjut dengan penutupan dan pengumuman best paper dan best presentation serta briefing untuk lerning trip program. Meskipun kami tidak mendapatkan kedua penghargaan tersebut, kami sangat bangga atas usaha dan pencapaian kami.

6 Maret 2016, agenda hari itu adalah Learning trip program. Dimana kami akan mengunjungi Sapporo sewerage Science Museum dan Sapporo Disaster and Prevention Center Museum. Kami mendapat banyak sekali pengetahuan disana. Seiring berakhirnya Learning trip program, berakhir pula rangkaian acara The 13th HISAS. Sungguh pengalaman yang langka dan tidak terlupakan.

hisas2 hisas3 hisas4 hisas5

BAGIKAN

LEAVE A REPLY